Organisasi POM Iran: AI Bukan Pengganti Dokter
https://parstoday.ir/id/news/iran-i194924-organisasi_pom_iran_ai_bukan_pengganti_dokter
Pars Today - Juru bicara Organisasi Pengawas Obat dan Makanan Iran (FDA) Republik Islam Iran  menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak dapat menggantikan peran dokter dan apoteker dalam proses pengobatan, seraya memperingatkan meluasnya fenomena "self-medication digital" dan pengambilan keputusan non-profesional berdasarkan informasi dari internet.
(last modified 2026-08-15T04:19:57+00:00 )
Aug 15, 2026 11:17 Asia/Jakarta
  • Dokter dan AI
    Dokter dan AI

Pars Today - Juru bicara Organisasi Pengawas Obat dan Makanan Iran (FDA) Republik Islam Iran  menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak dapat menggantikan peran dokter dan apoteker dalam proses pengobatan, seraya memperingatkan meluasnya fenomena "self-medication digital" dan pengambilan keputusan non-profesional berdasarkan informasi dari internet.

Melaporkan IRNA dari FDA, Mohammad Hashemi, merujuk pada meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan dan internet untuk memperoleh informasi kesehatan, menyatakan, "Meskipun teknologi ini adalah alat yang berharga untuk meningkatkan pengetahuan dan edukasi, tetapi teknologi ini tidak boleh dijadikan sebagai rujukan untuk mendiagnosis penyakit, meresepkan obat, mengubah dosis, atau menghentikan pengobatan."

Bahaya Self-Medication Digital

Jubir Organisasi FDA, menjelaskan konsep "self-medication digital", mengatakan, "Akses luas terhadap informasi medis, di samping manfaat pendidikannya, juga telah menciptakan tantangan baru, di mana beberapa orang, setelah mencari gejala penyakit di dunia maya atau menerima jawaban dari sistem kecerdasan buatan, tanpa evaluasi profesional dari dokter atau apoteker, mengonsumsi atau mengubah pengobatan secara mandiri,tindakan yang dapat membawa konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki."

Ia menekankan, "Keputusan tentang konsumsi obat harus didasarkan pada serangkaian faktor kompleks, termasuk diagnosis pasti, riwayat penyakit, kondisi fisiologis pasien, fungsi organ vital seperti hati dan ginjal, interaksi obat, dan kondisi khusus pasien seperti kehamilan atau menyusui, sementara sistem AI umum, karena tidak memiliki akses ke riwayat klinis individu, tidak dapat menganalisis semua faktor ini secara akurat."

Apoteker; Mata Rantai yang Hilang dalam Pencegahan Kesalahan Pengobatan

Hashemi, merujuk pada pentingnya keamanan obat, mengatakan, "Bahkan obat yang bermanfaat bagi satu pasien, dapat berbahaya bagi pasien lain karena kondisi klinis tertentu atau interaksi dengan obat yang sedang dikonsumsi."

Beliau menilai peran apoteker sangat penting dalam hal ini dan menambahkan, "Apoteker bukan sekadar penyedia obat, tetapi juga ahli dalam mengidentifikasi interaksi obat dan edukasi pasien, yang dapat mencegah banyak kesalahan pengobatan yang dapat dicegah."

Penasihat kepala Organisasi FDA, merujuk pada kemungkinan terjadinya kesalahan dalam jawaban AI karena data masukan yang tidak lengkap atau pemrosesan informasi yang salah, menyatakan, "Konsumsi antibiotik secara mandiri, obat-obatan yang memengaruhi sistem saraf, antikoagulan, dan obat-obatan untuk penyakit kronis memerlukan pengawasan yang ketat dan profesional."

Hashemi menegaskan, "Masyarakat dapat menggunakan teknologi dan alat AI untuk memahami penyakit lebih baik dan meningkatkan kesadaran kesehatan mereka, tetapi untuk setiap tindakan pengobatan, diagnosis penyakit, memulai atau mengubah konsumsi obat, mereka harus berkonsultasi dengan dokter atau apoteker."

"Organisasi FDA Iran memperingatkan bahaya "self-medication digital" di mana masyarakat menggunakan AI dan internet sebagai rujukan diagnosis dan pengobatan tanpa konsultasi profesional. AI tidak dapat menggantikan dokter dan apoteker karena tidak memiliki akses ke riwayat klinis lengkap pasien. Keputusan pengobatan harus mempertimbangkan faktor kompleks seperti riwayat penyakit, fungsi organ, interaksi obat, dan kondisi khusus. Apoteker berperan penting dalam mencegah kesalahan pengobatan."(Sail)