Kunjungan Presiden Turki ke Iran dan Pengaruhnya di Kawasan
https://parstoday.ir/id/news/iran-i45353-kunjungan_presiden_turki_ke_iran_dan_pengaruhnya_di_kawasan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memimpin sebuah delegasi tingkat tinggi untuk mengunjungi Republik Islam Iran pada hari Rabu, 4 Oktober 2017. Banyak analis politik menilai kunjungan tersebut sebagai langkah untuk memperluas kerjasama strategis antara Tehran dan Ankara.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Okt 04, 2017 13:01 Asia/Jakarta

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memimpin sebuah delegasi tingkat tinggi untuk mengunjungi Republik Islam Iran pada hari Rabu, 4 Oktober 2017. Banyak analis politik menilai kunjungan tersebut sebagai langkah untuk memperluas kerjasama strategis antara Tehran dan Ankara.

Di antara pertanyaan yang muncul adalah apakah kunjungan Presiden Turki ke Iran akan membawa konvergensi kedua negara yang bertetangga ini dalam isu-isu regional? Faktor apa yang memperkuat interaksi ini? Apakah ada pembahasan mengenai kepentingan ekonomi kedua negara? atau apakah faktor keamanan seperti kekhawatiran perubahan regional, yang mendorong konvergensi ini?

Sadegh Maleki, pakar dan analis senior di bidang politik mengatakan, "Kunjungan Erdogan ke Tehran harus disambut, dan itu pertanda baik. Lawatan para pejabat ke negara-negara –dan itu juga di level kepala pemerintahan– terlepas dari berbagai kesepakatan yang akan dibuat adalah penting dan memiliki arti dan makna politik tersendiri."

Lawatan ketiga Presiden Turki ke Iran, meski dalam kerangka kunjungan periodik, namun pelaksanaan lawatan itu di saat kawasan sedang dilanda perubahan serius telah membuat perjalanan itu menjadi lebih penting.

Turki dan Iran –dilihat dari kondisi geopolitik regional dan persaingan sejarah dan posisi di lapangan kedua negara – adalah rival satu sama lain dalam kondisi hubungan terbaik, dan hal ini dapat dilihat positif dari sudut persaingan tersebut. Selain itu, pengambilan kebijakan yang disandarkan pada rasionalitas akan bisa mencegah perubahan persaingan dan persoalan menjadi tantangan.

Tampaknya, kebijakan Turki sekarang berbeda dengan kebijakan sebelumnya. Perubahan posisi Turki terhadap Suriah dan perkembangan terbaru di utara Irak merupakan isu-isu yang telah mendorong posisi pemerintah Ankara lebih dekat kepada fakta dan realistas regional.

Tampaknya, Turki juga serius di jalur penguatan stabilitas dan keamanan dan mengurangi ketegangan di kawasan. Dengan memperhatikan hal ini, maka kerjasama antara Iran dan Turki di level tertinggi politik dan militer akan dapat mempengaruhi perubahan di kawasan.

Terkait hal itu, Iran dan Turki memfokuskan strateginya pada tiga tujuan yang meliputi pemberantasan kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS), penciptaan stabilitas di kawasan dan penguatan hubungan ekonomi antarkedua negara.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Iran dan Turki memiliki banyak kepentingan bersama di kawasan. Brigadir Jenderal Amir Hatami, Menteri Pertahanan Iran dalam pertemuan dengan Jenderal Hulusi Akar, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Turki di Tehran pada Selasa malam mengatakan, partisipasi tiga negara: Iran, Turki dan Irak dapat menjadi efektif dan berguna dalam menciptakan stabilitas dan keamanan regional dan menangkal tindakan separatisme.

Sementara Hulusi Akar menegaskan bahwa Turki tidak akan mengakui segala bentuk perubahan di perbatasan dengan negara-negara di kawasan. Kini, harus dilihat bagaimana kelanjutan "keselarasan" Turki dengan Iran; apakah Ankara siap untuk menjaga posisinya itu dalam kebijakan regionalnya atau tidak?

Tidak diragukan lagi, peran Iran dan Turki –sebagai dua negara Muslim yang bertetangga dalam menggagalkan konspirasi separatisme– harus lebih kuat dari sebelumnya, sehingga dengan mengambil posisi umum, kedua negara itu bisa mencegah terciptanya krisis-krisis baru di kawasan. Tentunya, peran tersebut akan menuai banyak tekanan dan penentangan dari Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel. (RA)