Sanksi Iran dan Tantangan Dihadapan Amerika
-
Pemerintah Amerika dan Sanksi Iran
Setelah keluar dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), pemerintah Amerika Serikat telah meluncurkan kampanye komprehensif untuk menekan Iran dan mencoba untuk mengajak negara lain untuk mendukung sanksi sepihak terhadap bangsa Iran. Tetapi seberapa sukseskah Amerika Serikat dalam gerakan ini?
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat pada 8 Mei 2018 secara sepihak melanggar komitmen Amerika terkait kesepakatan nuklir JCPOA dengan menarik diri dari perjanjian ini. Kementerian Keuangan AS menyatakan akan menghidupkan kembali sanksi nuklir yang telah dibatalkan dalam kesepakatan ini dalam dua tahap; 90 dan 180 hari. Trump pada 6 Juli menandatangani Keputusan Presiden yang secara resmi memerintahkan implementasi sanksi tahap pertama terhadap Iran.
Rencananya, sanksi minyak juga akan diimplementasikan pada bulan November. Tapi keputusan Trump ini ditolak oleh banyak negara di seluruh dunia dan selain rezim Zionis Israel dan sebagian negara-negara Arab, masyarakat internasional menolaknya.
Bruno Le Maire, Menteri Keuangan Perancis hari Jumat (05/10) dalam sidang di Slowakia secara transparan mengatakan, tidak seharusnya Washington yang memutuskan apakah kami boleh melakukan perdagangan dengan Iran atau tidak.
Werner Fasslabend, Kepala Institut Studi Keamanan dan Eropa Austria hari Sabtu (06/10) di Tehran saat bertemu dengan Kamal Kharrazi, Ketua Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Republik Islam Iran menjelaskan bahwa Trump sedang melemahkan posisi Eropa. Menurutnya, mengembangkan kebijakan pertahanan dan keamanan yang independen dari Amerika Serikat serta memperkuat nilai euro merupakan salah satu masalah yang penting bagi Uni Eropa dalam menghadapi perilaku Amerika.
Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa Eropa telah sampai pada kesimpulan bahwa masa depan Eropa bergantung pada independensi dari Amerika Serikat. Hal sama juga yang sedang dicari oleh Cina.
David Ignatius, wartawan dan analis senior Amerika Serikat telah memperingatkan soal dampak negatif strategi Donald Trump terhadap Iran. Menurutnya, jelas bagi seluruh negara-negara di dunia bahwa strategi pemerintah Donald Trump pada awalnya menunjukkan arotansi dan setelah itu menerapkan tekanan demi meraih satu kesepakatan.
Wartawan senior AS ini menulis, program dan rencana Trump adalah untuk mencekik ekonomi Iran, sehingga suara permintaan bantuan negara ini tidak keluar dan dan kemudian menegosiasikan kesepakatan yang lebih besar dan lebih baik tentang isu-isu nuklir serta masalah regional. Satu kesepakatan yang akan diklaim oleh Trump sebagai satu keberhasilan yang signifikan.
Trump untuk mencapai tujuannya bahkan berusaha memaksa Arab Saudi untuk menggenjot produksi minyaknya agar Iran mengalami masalah untuk mengekspor minyaknya.
Mohamed bin Salman dalam wawancara terbarunya dengan Blomberg mengatakan, Amerika Serikat meminta Arab Saudi dan negara-negara anggota OPEC lainnya meyakinkan mereka bahwa kekurangan pasokan minyak yang berasal dari sanksi minyak Iran harus mereka tutupi. Permintaan ini sudah dilakukan. Kami telah mengekspor 2 barel minyak sebagai ganti setiap barel minyak Iran yang hilang.
Sekalipun demikian, harga minyak dalam beberapa hari terakhir telah mencapai lebih dari 90 dolar untuk setiap barelnya. Mereaksi kenyataan ini, Trump mengeluarkan pernyataan yang menghina Arab Saudi dan mengatakan, dalam kontrak telepon dengan Raja Salman, Raja Arab Saudi, saya telah mengatakan bahwa mereka bahkan tidak akan bertahan selama dua minggu jika militer Washington sudah tidak mendukung Riyadh.
Akumulasi semua pergerakan dan reaksi ini hanya memberikan satu hal bahwa Amerika Serikat harus mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan.
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran hari Kamis (04/10) dalam pertemuan akbar Basiji (relawan rakyat Iran) di stadion Azadi yang berkapasitas 100 ribu orang, menjelaskan bahwa Amerika berusaha memberikan ilustrasi yang sepenuhnya bertolak belakang dengan realitas terkait kekuatannya dan situasi di Iran. Tapi lautan pemuda tanah air dan bangsa besar Iran tahu bahwa dengan menggagalkan senjata terakhir musuh yaitu sanksi kembali menampar muka Amerika Serikat.