Seni Melaju di Tengah Badai Geopolitik
Oleh: Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
“Dalam masa fitnah, jadilah kalian seperti anak unta yang masih muda: tidak memiliki punggung untuk ditunggangi, dan tidak memiliki susu untuk diperah.”
Pesan Imam Ali bin Abu Thalib ini bukan ajakan pasif atau sikap lari dari realitas, melainkan panduan strategis menghadapi zaman yang tidak menentu. Dalam penafsiran Nahjul Balaghah, anak unta muda adalah simbol entitas yang belum bisa dimanfaatkan oleh siapa pun: tidak bisa dijadikan alat mobilisasi, tidak bisa dieksploitasi untuk kepentingan pihak yang bertikai. Onta muda adalah intan yang energik dan trengginas. Imam Ali mengajarkan bahwa di tengah fitnah besar—ketika kebenaran bercampur dengan propaganda—kebijaksanaan tertinggi adalah menjaga diri agar tidak ditarik masuk ke konflik yang tidak jujur, sambil tetap membaca arah zaman dengan kejernihan akal dan kekuatan progresif.
Kerangka inilah yang relevan untuk membaca penculikan Maduro dan ketegangan terbaru di sekitar Iran, termasuk laporan uji coba rudal dan peningkatan kesiapsiagaan regional. Semua ini tidak layak dibaca sebagai isyarat perang konvensional yang segera meletus, melainkan sebagai bagian dari dinamika geopolitik jangka panjang.
Dalam sejarah konflik modern, kekuatan besar jarang memilih serangan langsung terhadap negara yang memiliki kapasitas balasan luas dan jaringan regional matang. Jalan yang lebih sering ditempuh adalah perang hibrida: infiltrasi intelijen, sabotase internal, perang psikologis, serta eksploitasi retakan sosial dan politik dari dalam.Namun, sebagaimana diingatkan oleh sejarah, strategi infiltrasi memiliki batas. Ia mahal, lambat, dan berisiko tinggi ketika diterapkan pada negara dengan aparatus keamanan berlapis dan pengalaman panjang menghadapi sanksi serta operasi rahasia.
Dalam konteks Iran, berbagai upaya penetrasi internal tidak pernah menghasilkan perubahan strategis yang menentukan. Ketika biaya meningkat dan hasil tidak sebanding, kekuatan eksternal cenderung menaikkan eskalasi menuju opsi kekerasan terbuka yang terbatas, keras, dan dimaksudkan menciptakan efek kejut. Ini bukan pilihan ideal, melainkan jalan terakhir ketika instrumen hibrida tidak lagi efektif.Masalahnya, serangan terbuka terhadap Iran hampir pasti tidak akan berhenti pada satu teater konflik.
Balasan yang muncul cenderung asimetris dan regional, melibatkan berbagai front dan jalur strategis, baik darat maupun maritim. Dalam skenario semacam ini, tujuan awal serangan—memulihkan daya tangkal—justru berisiko berbalik arah. Eskalasi yang meluas akan memperbesar biaya politik dan keamanan, mempercepat konsolidasi aktor-aktor kawasan, dan menggerus legitimasi internasional yang tersisa. Perang semacam ini jarang melahirkan pemenang mutlak; yang muncul adalah kelelahan strategis dan perubahan tatanan.
Dari sudut pandang geopolitik, faktor penentu bukanlah satu pertempuran spektakuler, melainkan daya tahan. Negara yang mampu menyerap tekanan, beradaptasi, dan menjaga kohesi internal akan unggul dalam konflik berkepanjangan. Sebaliknya, entitas yang hanya mengandalkan keunggulan militer tanpa kedalaman strategis dan penerimaan kawasan akan menghadapi tekanan kumulatif—politik, ekonomi, demografis, dan moral—yang pada akhirnya memaksa perubahan arah sejarah.
Di sinilah pelajaran bagi Indonesia menjadi terang. Membaca geopolitik tidak cukup dengan data empiris hari ini. Data kekinian harus disandingkan dengan data sejarah, karena dari sejarah kita menemukan pola. Lebih dalam lagi, peradaban manusia menyimpan ingatan kolektif dalam bentuk nubuwatan, manuskrip keagamaan, dan tradisi kebudayaan yang merekam kecenderungan zaman: tentang kejatuhan kekuasaan zalim, pergeseran pusat kekuatan, dan kemenangan pihak yang bertahan dengan kecerdasan, bukan dengan kekerasan membabi buta. Membaca semua lapisan ini secara simultan adalah syarat agar bangsa tidak salah langkah.
Dalam konteks itulah strategi Indonesia patut dimaknai sebagai menari sambil menunggang kuda atau menjadinobta muda seperti pesan Imam Ali binAbu Thalib. Menari melambangkan keluwesan bertindak, kepekaan membaca irama zaman, serta kemampuan menyesuaikan langkah tanpa kehilangan arah. Keluwesan ini bukan spontanitas kosong, melainkan hasil analisis tajam yang memadukan data kekinian, pelajaran sejarah, dan kebijaksanaan peradaban. Sementara menunggang kuda melambangkan kecepatan, kekuatan, dan kesiapan bergerak dengan daya paripurna—berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemandirian nasional.
Seperti nasihat Imam Ali di masa fitnah, Indonesia tidak boleh menjadi punggung yang ditunggangi atau susu yang diperah. Ia harus hadir, sadar, dan waspada—cukup dekat untuk memahami arah angin sejarah, tetapi cukup mandiri untuk tidak terseret pusaran.
Inilah seni bertahan di zaman gonjang-ganjing: menari dengan luwes, menunggang dengan kuat, dan melangkah dengan keyakinan bahwa kemenangan jangka panjang selalu berpihak kepada mereka yang paling cermat membaca zaman.(PH)