Akar Kemarahan Saudi terhadap Iran
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i20035-akar_kemarahan_saudi_terhadap_iran
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir selalu melontarkan tudingan tak berdasar terhadap Republik Islam Iran dengan mengabaikan peran negaranya dalam mempromosikan terorisme di Timur Tengah dan dunia. Al-Jubeir baru-baru ini juga menuding Iran mendukung terorisme.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Sep 09, 2016 09:46 Asia/Jakarta
  • Akar Kemarahan Saudi terhadap Iran

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir selalu melontarkan tudingan tak berdasar terhadap Republik Islam Iran dengan mengabaikan peran negaranya dalam mempromosikan terorisme di Timur Tengah dan dunia. Al-Jubeir baru-baru ini juga menuding Iran mendukung terorisme.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qasemi, menyebut tuduhan berulang terhadap Republik Islam oleh menteri luar negeri Arab Saudi sebagai omong kosong.

"Tuduhan al-Jubeir bahwa Iran mensponsori terorisme benar-benar menggelikan, karena orang-orang yang memimpin Taliban, Al Qaeda, Daesh dan kelompok-kelompok teroris bayaran lainnya adalah warga negara Arab Saudi atau mereka yang terkontaminasi oleh ideologi Wahabi. Mereka semua bergerak ke arah ekstremisme," kata Qasemi.

Qasemi menegaskan bahwa konflik saat ini dan kekerasan yang berdampak pada masyarakat lemah dan kaum Muslim di kawasan berasal dari intervensi asing dan kebijakan yang didasarkan pada ideologi ekstrim.

Klaim-klaim palsu menlu Arab Saudi tentang Iran didasari oleh kegagalan proyek Riyadh di wilayah Asia Barat. Kebijakan Saudi gagal di Suriah meskipun sudah menghabiskan jutaan dolar dana untuk membayar para teroris guna menggulingkan Presiden Bashar al-Assad. Rezim Al Saud juga gagal mematahkan tekad rakyat revolusioner Yaman selama 17 bulan perang dan pertumpahan darah.

Dalam perang minyak dengan Iran, Arab Saudi juga harus menelan pil pahit dan manuver liar mereka telah menguras cadangan devisa negara itu dan mereka sekarang harus bekerja keras untuk menutupi defisit anggaran. Kesuksesan Iran mencapai perjanjian nuklir juga membuat Saudi kebakaran jenggot.

Para penguasa Saudi sudah lama mengadopsi kebijakan konfrontatif terhadap Iran dan akar permusuhan ini juga muncul dari kompetisi dengan Tehran untuk menebarkan pengaruhnya di kawasan dan mengendalikan perimbangan regional.

Riyadh menempuh segala cara dalam persaingannya dengan Tehran. Di antara trik mereka adalah memanfaatkan para predator bayaran, membentuk kelompok-kelompok teroris, menyediakan dana dan senjata untuk teroris, mendukung kelompok teroris munafikin (MKO), dan mempolitisasi ibadah haji.

Peran Saudi dalam mendukung terorisme merupakan sebuah realitas yang disadari oleh masyarakat dunia. Nama Arab Saudi sekarang identik dengan kejahatan teroris Takfiri.

Fareed Zakaria, seorang penulis dan analis Amerika dalam artikelnya di koran The Washington Post menulis, "Penyebaran pemikiran Wahabi telah menyebabkan perluasan ekstremisme dan kegiatan teroris."

Madrasah-madrasah Wahabi adalah lembaga yang mempromosikan ekstremisme dan laboratorium pengembangbiakan teroris di dunia. Para alumni madrasah Wahabi berada di garda terdepan kelompok teroris Taliban, Al Qaeda dan Daesh dalam membantai orang-orang tak berdosa di Suriah dan Irak.

Selain itu, Arab Saudi juga membunuh rakyat Yaman dengan senjata terlarang dan memperoleh dukungan dari negara-negara Barat. Pada dasarnya, mereka telah merampas keamanan dan kehidupan rakyat Yaman.

Rapor Arab Saudi menunjukkan bahwa kebijakan Al Saud terhadap negara-negara regional mulai dari Suriah, Irak, Lebanon, dan Bahrain sampai Yaman, adalah mensponsori terorisme dan mengintervensi urusan internal negara-negara lain. (RM)