Nasib Suram Perekonomian Negara Arab
Bank Dunia dalam laporan terbarunya menyampaikan peringatan keras mengenai krisis ekonomi yang menimpa negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia. Berdasarkan laporan tersebut, tingkat pertumbuhan ekonomi negara-negara ini mengalami penurunan signifikan.
Bank Dunia dalam laporannya menegaskan pertumbuhan ekonomi negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia di tahun 2017 mengalami penurunan, dan salah satunya disebabkan ketergantungan mereka terhadap pendapatan hasil penjualan minyak serta anjloknya harga minyak di pasar global.
Berdasarkan laporan Bank Dunia, tingkat pertumbuhan ekonomi Arab Saudi di tahun 2017 berkisar 0,6 persen dan Kuwait anjlok menjadi 2,6 persen. Bank Dunia juga menyinggung masalah finansial yang melilit pemerintah Bahrain akibat terjadinya penurunan harga minyak di pasar dunia. Bank dunia menyebutkan tingkat pertumbuhan ekonomi Bahrain tahun 2017 dan tahun 2018 mendekati 1,9 persen.
Institusi jaminan investasi Arab dalam laporannya menyinggung berlanjutnya defisit anggaran negara-negara Arab di tahun 2017, dan mengatakan, negara-negara Arab menghadapi defisit anggaran sebesar 200 miliar dolar.
Kondisi perekonomian negara-negara Arab anggota Dewan Kerja Sama Teluk Persia dipicu oleh sikap mereka mengekor kebijakan prematur Arab Saudi mengenai masalah politik dan ekonomi. Sepak terjang Arab Saudi memanfaatkan minyak sebagai senjata untuk menyerang lawan-lawannya justru menjadi bumerang bagi Riyadh sendiri. Tidak hanya itu, negara lain, terutama negara-negara kawasan Teluk Persia yang mengamini kebijakan rezim Al Saud dirugikan oleh kebijakan tersebut. Sebab, sebagian besar dari mereka mengguntungkan pemasukan APBN-nya dari penjualan minyak mentahnya.
Para analis politik internasional menilai, pasca kegagalan kebijakan Saudi dan AS di kawasan terutama Irak, Suriah dan Yaman, perang minyak yang dilancarkan Riyadh bertujuan untuk menyerang perekonomian Iran, Rusia dan Irak. Tapi, konspirasi tersebut tidak membuahkan hasil, bahkan berbalik menjadi bumerang bagi Arab Saudi sendiri.
Besarnya biaya foya-foya para pangeran Arab, dana besar-besaran membiayai teroris yang beroperasi di Suriah dan Irak, juga biaya perang yang besar di Yaman, pembelian senjata dan alutsista serta ketidakefektifan pengelolaan ekonomi di negara-negara Arab, terutama Saudi menyebabkan kondisi perekonomian mereka terpuruk dalam beberapa waktu belakangan ini. Ironisnya sebagian besar senjata dan alutsista yang dibeli dari penjualan minyak dipergunakan untuk membiaya proyek intervensi Arab Saudi di negara lain, terutama di Irak dan Suriah. Masalah tersebut menyebabkan kondisi kawasan tidak stabil dan terus-menerus diguncang konflik.
Pada saat yang sama, gelombang ketidakpuasan di dalam negeri kian hari semakin meningkat. Berbagai laporan menunjukkan masa depan negara-negara Arab yang semakin suram, terutama masalah ekonomi yang melilit mereka.