Penembakan di Washington: Alat untuk Mengintensifkan Kebijakan Imigrasi Trump
https://parstoday.ir/id/news/world-i181346-penembakan_di_washington_alat_untuk_mengintensifkan_kebijakan_imigrasi_trump
Pars Today – Insiden penembakan di dekat Gedung Putih menjadi alasan peninjauan ulang keluarnya Amerika dari Afghanistan dan eskalasi pembatasan imigran.
(last modified 2025-11-30T12:37:35+00:00 )
Nov 30, 2025 19:35 Asia/Jakarta
  • Penembakan di Washington: Alat untuk Mengintensifkan Kebijakan Imigrasi Trump

Pars Today – Insiden penembakan di dekat Gedung Putih menjadi alasan peninjauan ulang keluarnya Amerika dari Afghanistan dan eskalasi pembatasan imigran.

Peristiwa penembakan pada 26 November terhadap pasukan Garda Nasional di Washington, yang dilakukan oleh Rahmanullah Lakanwal, mantan rekan kerja badan intelijen Amerika (CIA), dengan cepat menjadi pusat perdebatan politik di Amerika Serikat. Peristiwa ini tidak hanya menghidupkan kembali diskusi lama mengenai penarikan pasukan tahun 2021 dari Afghanistan, tetapi juga dijadikan alat untuk membenarkan kebijakan imigrasi ketat pemerintahan Trump.

 

Menurut laporan Pars Today yang dikutip dari Al Jazeera, Lakanwal, yang merupakan salah satu sekutu lama Amerika di Afghanistan, memiliki latar belakang yang kompleks. Sejak tahun 2011 ia bekerja sama dengan lembaga-lembaga keamanan Amerika, dan setelah penarikan pasukan Amerika, ia termasuk di antara 190 ribu warga Afghanistan yang mendapat dukungan serta menjalani berbagai tahap pemeriksaan keamanan. Menariknya, pada April 2024 ia secara resmi memperoleh izin tinggal permanen di Amerika Serikat.

 

Trump segera memanfaatkan insiden ini untuk mengkritik pemerintahan Biden, dengan menyebutnya sebagai “hasil dari pemeriksaan imigrasi yang ceroboh.” Menyusul tuduhan tersebut, pemerintahan saat ini mengeluarkan perintah penghentian seluruh permohonan imigrasi dari warga 19 negara, termasuk Afghanistan dan Venezuela.

 

Hal yang patut dicatat adalah adanya kontradiksi dalam sikap pemerintahan Trump. Di satu sisi, Lakanwal pada masa kepresidenan pertama Trump telah disetujui untuk bekerja sama dengan Amerika, sementara di sisi lain, pemerintahan yang sama pula yang merencanakan penarikan pasukan dari Afghanistan. Kini Trump memanfaatkan insiden tersebut untuk mendorong kebijakan imigrasinya.

 

Keputusan-keputusan ini berdampak langsung pada hubungan Amerika dengan negara-negara yang menjadi sasaran, khususnya negara-negara yang berada di bawah sanksi paling ketat dari Amerika. Tampaknya insiden penembakan di Washington lebih merupakan alat politik untuk mendukung agenda imigrasi pemerintahan Trump daripada sekadar peristiwa keamanan. Pendekatan ini dapat menimbulkan konsekuensi luas bagi posisi internasional Amerika serta hubungan negara tersebut dengan mantan sekutunya di Afghanistan. (MF)