Penilaian Komunitas Intelijen AS: Serangan Tidak Mengubah Sikap Tehran
-
Komunitas Intelijen AS (NSA)
Pars Today - Laporan terbaru dari komunitas intelijen AS (NSA) menunjukkan bahwa eskalasi serangan tidak akan mengubah sikap Teheran.
Sebagaimana dilaporkan Tasnim News, 21 Juli 2026, badan-badan intelijen AS dalam penilaian baru telah menyimpulkan bahwa pemerintahan Iran tidak mungkin menderita kerusakan signifikan sebagai akibat dari putaran baru serangan militer AS seperti yang saat ini sedang berlangsung, atau mengubah posisinya dalam negosiasi.
Pejabat AS saat ini dan mantan pejabat yang telah menjelaskan laporan intelijen baru dari Komunitas Intelijen AS kepada The Washington Post mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa para analis badan intelijen juga telah menyimpulkan bahwa Tehran dan Washington saat ini terperangkap dalam semacam zona abu-abu yang tidak jelas dan tidak pasti antara perang dan perdamaian. Sebuah situasi yang rapuh dan tidak stabil yang menjadi lebih berbahaya mengingat sifat serangan balasan kedua negara yang semakin meningkat dan mematikan.
The Washington Post menulis bahwa para pejabat saat ini dan mantan pejabat tersebut berbicara tentang penilaian-penilaian ini dengan syarat anonimitas karena sensitivitas masalah ini.
Surat kabar Amerika itu menulis bahwa temuan-temuan ini, yang laporannya telah diserahkan kepada pemerintah AS, menunjukkan jalan buntu yang dihadapi Donald Trump dalam perang dengan Iran. Menurut tulisan The Washington Post, prosedur Trump saat ini dalam terus memperluas serangan terhadap Iran tampaknya juga telah menyebabkan jalan buntu.
Menurut laporan ini, dalam situasi di mana perang ini sangat tidak populer di dalam AS, eskalasi lebih lanjut dari pihak AS, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat ke dalam Iran, membawa risiko politik serius bagi Trump, tanpa ada jaminan keberhasilan militer AS.
Militer AS akhir pekan lalu mengumumkan bahwa dalam serangan Iran ke sebuah pangkalan udara di Yordania pada hari Jumat (17/7), 3 personel militer AS tewas. Kejadian ini terjadi setelah konflik antara kedua belah pihak kembali dimulai menyusul runtuhnya gencatan senjata bulan lalu antara Washington dan Tehran.
Laporan intelijen baru ini sebagian besar disusun oleh Badan Intelijen Pusat AS, CIA. Laporan ini juga mengakui bahwa pemerintahan Iran, meskipun kehilangan para pemimpin senior dan sebagian besar peralatan militernya dalam serangan Israel dan AS, memiliki kemampuan bertahan dan ketahanan yang besar.
Pada bulan Mei, penilaian CIA menyimpulkan bahwa Iran dapat bertahan terhadap blokade laut AS setidaknya selama tiga hingga empat bulan, sebelum menghadapi kesulitan ekonomi yang lebih parah.
Jonathan Panikoff, mantan Wakil Kepala Intelijen Nasional AS untuk Timur Dekat, mengatakan kepada The Washington Post bahwa tampaknya pemerintahan Trump percaya bahwa jika mereka terus memberikan pukulan militer yang lebih keras kepada Iran, Tehran pada akhirnya akan menjadi lebih fleksibel.
Panikoff, Direktur Senior di lembaga pemikir Dewan Atlantik, mengatakan: "Penilaian itu salah."(Sail)