Bagaimana Perkembangan Pertahanan Udara UEA setelah Perang 40 Hari ?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i197672-bagaimana_perkembangan_pertahanan_udara_uea_setelah_perang_40_hari
Perang yang dimulai Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran pada 28 Februari 2026 tidak hanya mendefinisikan kembali konstelasi militer di kawasan, tetapi juga membuat Uni Emirat Arab (UEA) menghadapi ujian yang belum pernah terjadi sebelumnya di bidang pertahanan udara.
(last modified 2026-09-29T09:01:26+00:00 )
Sep 29, 2026 15:59 Asia/Jakarta
  • Bagaimana Perkembangan Pertahanan Udara UEA setelah Perang 40 Hari ?

Perang yang dimulai Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran pada 28 Februari 2026 tidak hanya mendefinisikan kembali konstelasi militer di kawasan, tetapi juga membuat Uni Emirat Arab (UEA) menghadapi ujian yang belum pernah terjadi sebelumnya di bidang pertahanan udara.

Menurut laporan Pars Today, UEA yang selama 40 tahun terakhir telah melakukan investasi besar untuk membangun arsitektur pertahanan udara berlapis, akibat kerja sama dan keterlibatan langsungnya dalam perang terhadap Iran, menghadapi serangan rudal dan drone secara langsung dari Iran dan terpaksa menguji kapasitas pertahanan udaranya dalam kondisi nyata.

Selama perang tersebut, UEA menjadi sasaran beberapa gelombang serangan rudal dan drone dari Iran. Menurut klaim pihak Emirat, bahkan pada hari-hari gencatan senjata, rudal jelajah masih ditembakkan ke arah negara tersebut, yang sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara. Namun, puing-puing sejumlah proyektil dan rudal pencegat menghantam kawasan permukiman di Abu Dhabi dan Dubai, menyebabkan kerusakan pada infrastruktur sipil serta kebakaran. Kenyataan ini menunjukkan bahwa bahkan jaringan pertahanan paling canggih sekalipun tidak dapat menjamin perlindungan 100 persen, dan hal tersebut menjadi pendorong utama gelombang baru penguatan persenjataan UEA.

Perkembangan terpenting setelah perang selama 40 hari tersebut adalah percepatan signifikan permintaan persenjataan UEA dari Amerika Serikat. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui beberapa paket besar penjualan senjata kepada UEA yang nilai totalnya mencapai miliaran dolar. Di antaranya adalah paket senilai 4,5 miliar dolar AS untuk pembelian radar deteksi jarak jauh yang akan diintegrasikan dengan sistem antirudal THAAD, yang disebut sebagai sistem pertahanan rudal balistik paling canggih di kawasan setelah sistem Arrow-3 milik rezim Zionis. Selain itu, UEA meminta paket senilai 644 juta dolar AS untuk amunisi dan peningkatan armada jet tempur F-16, serta 400 rudal udara-ke-udara jarak menengah senilai 1,22 miliar dolar AS.

Selain itu, sepuluh unit sistem pertahanan tetap antidrone yang dikenal sebagai “FS-LIDS” senilai 2,1 miliar dolar AS telah dipesan. Hal ini menunjukkan perhatian khusus terhadap ancaman drone kecil dan murah. “FS-LIDS” merupakan sistem antidrone yang mahal namun sangat mumpuni, yang digunakan Amerika Serikat dan sekutunya untuk melindungi infrastruktur vital dan pangkalan militer dari drone-drone kecil. Harganya yang tinggi, sekitar 210 juta dolar AS untuk setiap sistem lengkap, menunjukkan kompleksitas teknologi serta integrasi sensor dan persenjataannya.

Aspek lain dari perkembangan ini adalah kedekatan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya antara UEA dan rezim Zionis di bidang pertahanan udara. Sejumlah laporan, termasuk laporan Financial Times, menyebutkan bahwa Israel di tengah perang terhadap Iran menyediakan kepada UEA versi sistem laser Iron Beam dan sejumlah komponen sistem Iron Dome untuk membantu mencegat rudal dan drone Iran. Kerja sama ini sebelumnya sebagian besar bersifat rahasia dan tidak resmi, tetapi kini telah mencapai tingkat di mana sejumlah pejabat Amerika Serikat berbicara mengenai kemungkinan keterlibatan finansial UEA dalam pengembangan teknologi pertahanan rezim Zionis.

Perkembangan ini meningkatkan hubungan keamanan kedua pihak dari hubungan yang sebelumnya terutama bersifat ekonomi setelah Kesepakatan Abraham menjadi sebuah kemitraan strategis militer.

Pada saat yang sama, UEA juga mulai mencari pilihan baru untuk mengurangi ketergantungannya hanya pada satu sumber persenjataan. Mesir mengusulkan penempatan sistem pertahanan udara “Amoun”, sementara Abu Dhabi juga menunjukkan ketertarikan terhadap sistem pertahanan drone Ukraina dan pengalaman lapangan Kyiv dalam menghadapi drone-drone murah. Diversifikasi sumber ini mencerminkan sebuah pelajaran penting dari perang baru-baru ini, yaitu bahwa ketergantungan pada satu pemasok dalam kondisi krisis dapat menimbulkan risiko.

Dari perspektif strategis, UEA masih mengandalkan pilar utama armada udaranya, yakni jet tempur F-16 Amerika Serikat dan Mirage 2000 Prancis. Menurut laporan, Angkatan Udara UEA turut berpartisipasi dalam operasi udara rahasia terhadap target-target Iran, termasuk serangan terhadap kilang minyak Lavan. Hal ini menunjukkan perubahan peran UEA dari aktor yang semata-mata bersifat defensif menjadi mitra aktif Washington dalam agresi terhadap Iran.

Tampaknya, perkembangan pertahanan udara UEA setelah perang selama 40 hari tersebut berlangsung pada tiga tingkat berbeda, yaitu investasi besar-besaran dan tergesa-gesa dalam peralatan antirudal canggih Amerika Serikat; integrasi yang semakin meningkat dan belum pernah terjadi sebelumnya dengan jaringan antirudal rezim Zionis; serta diversifikasi sumber persenjataan untuk mengurangi kerentanan strategis. Perkembangan ini mengubah UEA dari negara yang sebelumnya terutama merasa aman di bawah payung keamanan Amerika Serikat menjadi aktor yang lebih ofensif, yang kini secara aktif membangun arsitektur pertahanan udara dan antirudal yang beragam dan berlapis.