Perang Iran dan Beban Eropa: Subsidi, Pajak, dan Ketergantungan pada AS
-
Kondisi Eropa akibat agresi AS dan Israel ke Iran
Pars Today - Perang di Asia Barat dan Ukraina yang masih belum menunjukkan tanda-tanda berakhir dalam waktu dekat, telah memaksa negara-negara Eropa untuk mengambil langkah subsidi, pajak, dan reformasi kebijakan guna melindungi ekonomi dan warga yang semakin marah akibat harga bensin dan solar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Melansir IRNA dari Daily Sabah, Minggu, 27 September 2026, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi baru-baru ini mengumumkan bahwa sejak dimulainya agresi terhadap Iran, negara-negara di seluruh dunia telah melakukan intervensi di pasar untuk membatasi dampak ekonomi dari berkurangnya pasokan energi dan lonjakan harga bahan bakar. Berdasarkan laporan terbaru lembaga ini, tujuh dari 10 negara yang paling berjuang untuk mengekang kerugian ekonomi dibandingkan yang lain adalah anggota Uni Eropa.
Lituania telah memotong setengah harga tiket kereta api. Italia menunda pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya untuk menutup pembangkit listrik tenaga batu bara dan menyesuaikan birokrasi yang diperlukan untuk proyek minyak dan gas alam. Belanda meningkatkan anggaran program yang menyediakan layanan hemat energi gratis di rumah-rumah. Polandia juga mengusulkan pengenaan pajak berat atas keuntungan luar biasa sebagian produsen dan penjual bahan bakar.
Ketergantungan Ekstrem pada Impor Gas
Sebelum serangan Amerika dan rezim Israel ke Iran, perang Rusia di Ukraina telah mengganggu pasokan energi global dan memicu kekacauan luas di Eropa. Uni Eropa mengimpor hampir seluruh minyak yang dikonsumsinya dan 85 persen kebutuhan gas alamnya.
Data Kantor Statistik Uni Eropa menunjukkan bahwa secara total 57 persen kebutuhan energi blok ini dipasok melalui impor, di mana tentu saja sebagian besar energi yang diproduksi di dalam Eropa berasal dari sumber terbarukan dan nuklir.
Dengan harga bahan bakar di pompa bensin di beberapa negara melewati setara 12 dolar per galon, darah orang Eropa semakin mendidih. Estimasi kelompok "Federasi Transportasi dan Lingkungan Eropa/T&E", warga Uni Eropa hanya untuk solar, membayar tambahan 203 juta euro (231 juta dolar) per hari.
Menurut media yang berbasis di Istanbul ini, beberapa pemerintah Eropa menghabiskan miliaran euro untuk membantu negara masing-masing melewati krisis energi saat ini.
Anthony Frogatt, analis T&E, mengatakan bahwa "ironi pahit dari perkara ini adalah Amerika memiliki kerentanan paling rendah terhadap krisis yang ia sendiri penyebabnya, sementara sekali lagi ekonomi Eropa-lah yang terkena pukulan."
Para pemimpin Uni Eropa di Brussels telah mengizinkan negara-negara anggota untuk sementara memberikan bantuan negara kepada rumah tangga dan industri padat energi, seperti sektor pertanian, transportasi, dan perikanan. Mereka juga menyesuaikan beberapa aturan ketat pengeluaran Uni Eropa untuk memungkinkan investasi yang memperkuat keamanan energi dan mengurangi ketergantungan jangka panjang blok ini pada impor minyak dan gas alam.
Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa, awal bulan ini dalam pidato tahunannya tentang keadaan Uni Eropa mengatakan, "Tekanan akibat kenaikan harga energi dan biaya pinjaman, baik bagi rakyat maupun bisnis, pahit dan menyakitkan."
Paris dalam Kesulitan
Prancis telah mengambil serangkaian tindakan yang semakin meningkat untuk mengurangi tekanan kenaikan harga pada konsumen dan bisnis yang bergantung pada bahan bakar.
Pemerintah Prancis Selasa (22/9) pekan lalu mengumumkan paket senilai 450 juta euro untuk memperluas program dukungannya. Paris mengklaim rencana baru ini akan membuat 5,5 juta pekerja yang memenuhi syarat menerima bantuan 100 euro untuk mengompensasi sebagian biaya bahan bakar hingga akhir tahun.
Namun, Emmanuel Macron, Presiden Prancis dalam suratnya kepada pejabat eksekutif Uni Eropa yang dilihat Associated Press, memperingatkan jika Selat Hormuz yang Tehran tutup setelah serangan agresif Amerika dan (rezim) terhadap Iran tidak dibuka kembali, pasar minyak global akan segera menyaksikan "kenaikan harga yang tajam".
Langkah-Langkah Dukungan
Periode dua bulan pemotongan pajak bahan bakar di Jerman berakhir pada akhir Juni. Pemerintah negara ini setuju untuk memberlakukan kembali pemotongan pajak ini dari 1 Oktober hingga akhir tahun, tindakan yang akan menurunkan harga bensin dan solar sebesar 17 sen per liter. Pemerintah Jerman mengumumkan pemotongan baru ini akan menelan biaya 2,5 miliar euro.
Pemerintah Spanyol juga memperpanjang pemotongan pajak bensin dan solar yang diperkenalkan pada bulan Maret sebagai bagian dari paket lima miliar euro untuk menghadapi dampak perang Iran terhadap harga energi domestik. Besaran diskon pajak ini bulan ini adalah lima sen per liter. Jika inflasi harga bahan bakar melebihi 15 persen dibandingkan tahun lalu, besaran diskon ini akan meningkat menjadi 20 sen per liter.
Berlindung pada Cadangan Strategis
Di samping program dukungan nasional, negara-negara anggota Uni Eropa juga berlindung pada cadangan strategis mereka. Tindakan ini dilakukan dalam kerangka kesepakatan 32 negara anggota Badan Energi Internasional untuk memasok 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka ke pasar.
Uni Eropa telah berupaya mengurangi ketergantungannya pada energi impor dari Rusia melalui peningkatan produksi energi terbarukan dan menggantikan bahan bakar fosil dengan listrik di peralatan dan industri.
Namun upaya Uni Eropa untuk mengurangi ketergantungannya pada energi Rusia, telah meningkatkan ketergantungan blok ini pada Amerika. Von der Leyen tahun lalu menandatangani kesepakatan dengan Donald Trump, Presiden Amerika, yang berdasarkan padanya Uni Eropa berkomitmen untuk selama tiga tahun membeli 750 miliar dolar energi dari Amerika.
Namun, agresi terhadap Iran telah membuat hubungan ini bagi Uni Eropa semakin vital sekaligus semakin kompleks. Karena Eropa semakin bergantung pada Amerika untuk pasokan solar.
Dukungan terbaru Trump terhadap larangan ekspor solar untuk menurunkan harga di Amerika juga semakin menambah kekhawatiran Eropa. Karena jika tindakan semacam itu dilaksanakan, Eropa harus menemukan sumber alternatif untuk memasok bahan bakar ini. Dalam kaitan ini, Brussels sedang berkonsultasi dengan Washington untuk mengabaikan rencana penangguhan ekspor solar ke luar negeri.
Olaf Gill, Juru Bicara Komisi Eropa, Kamis (24/9) menggambarkan ide ini sebagai "tidak menyenangkan dan buruk" dan mengatakan, "Setiap gangguan dalam kerja sama Uni Eropa dan Amerika di bidang energi yang kuat, dapat memiliki konsekuensi negatif bagi kedua pihak."
"Perang di Asia Barat (Iran) dan Ukraina memaksa pemerintah Eropa mengambil langkah subsidi, pajak, dan reformasi kebijakan untuk melindungi ekonomi dan warga dari harga bensin dan solar yang belum pernah terjadi sebelumnya. OECD: sejak perang Iran, negara-negara di seluruh dunia melakukan intervensi pasar; 7 dari 10 negara yang paling berjuang adalah anggota UE. Contoh: Lituania potong setengah harga tiket kereta; Italia tunda penutupan PLTU batu bara & sesuaikan birokrasi proyek minyak-gas; Belanda tambah anggaran program hemat energi; Polandia usul pajak berat atas keuntungan produsen/penjual bahan bakar. UE mengimpor hampir seluruh minyak & 85% gas alamnya; 57% kebutuhan energi dari impor."(Sail)