Rahasia Kesehatan Mental Mahasiswa: Frekuensi Olahraga Lebih Penting daripada Intensitasnya
https://parstoday.ir/id/news/world-i196510-rahasia_kesehatan_mental_mahasiswa_frekuensi_olahraga_lebih_penting_daripada_intensitasnya
Pars Today - Sebuah riset baru menunjukkan bahwa untuk menurunkan risiko depresi dan kecemasan, jumlah frekuensi olahraga dalam seminggu mungkin lebih penting daripada intensitas atau durasinya. Temuan ini, yang dilakukan pada lebih dari 10 ribu mahasiswa di Norwegia, menekankan pentingnya kontinuitas dan keteraturan dalam aktivitas fisik.
(last modified 2026-09-09T05:33:49+00:00 )
Sep 09, 2026 12:31 Asia/Jakarta
  • Olahraga
    Olahraga

Pars Today - Sebuah riset baru menunjukkan bahwa untuk menurunkan risiko depresi dan kecemasan, jumlah frekuensi olahraga dalam seminggu mungkin lebih penting daripada intensitas atau durasinya. Temuan ini, yang dilakukan pada lebih dari 10 ribu mahasiswa di Norwegia, menekankan pentingnya kontinuitas dan keteraturan dalam aktivitas fisik.

Melansir IRNA, Rabu, 09 September 2026, situs TechDaily dalam laporannya menulis:

Para peneliti dari Universitas Ilmu Terapan Norwegia Barat dalam sebuah studi baru menemukan bahwa frekuensi olahraga per minggu memiliki pengaruh lebih besar dalam menurunkan risiko depresi dan kecemasan pada mahasiswa dibandingkan intensitas atau durasi aktivitas fisik.

Penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal akses terbuka PLOS One, dilakukan terhadap 10.460 mahasiswa penuh waktu Norwegia berusia antara 18 hingga 35 tahun.

Mengapa Kesehatan Mental Mahasiswa Penting?

Depresi dan kecemasan adalah salah satu penyebab utama disabilitas di kalangan anak muda di seluruh dunia. Masa memasuki perguruan tinggi diiringi tekanan akademik, kekhawatiran finansial, perubahan rutinitas hidup, serta keterpisahan dari sistem dukungan keluarga yang akrab. Karena itu, masa ini merupakan salah satu waktu terpenting untuk pencegahan gangguan mental.

Olahraga telah lama dikaitkan dengan peningkatan kesehatan mental, tetapi banyak bukti sebelumnya bersifat potong-lintang (cross-sectional), dan hanya sedikit studi yang mengikuti mahasiswa secara longitudinal (dalam rentang waktu) serta menggunakan alat diagnostik standar untuk mengidentifikasi gangguan mental.

Frekuensi Olahraga, Lebih Penting dari Intensitasnya

Pada awal penelitian, para partisipan melaporkan seberapa sering mereka berolahraga per minggu, berapa lama durasi setiap sesi, intensitas aktivitas fisik, serta total waktu olahraga mingguan mereka. Satu tahun kemudian, mereka mengisi kuesioner diagnostik standar yang mengevaluasi gangguan mental umum.

Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa dengan aktivitas fisik yang lebih rendah lebih berisiko mengalami gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Di antara berbagai faktor yang diteliti, frekuensi olahraga per minggu memiliki kaitan terkuat dengan kesehatan mental.

Hubungan ini tidak sama untuk semua kelompok. Di kalangan perempuan, intensitas olahraga yang lebih rendah menjadi prediktor depresi dan kecemasan, sementara pada laki-laki, durasi olahraga mingguan yang lebih pendek dianggap sebagai faktor risiko yang lebih kuat.

Manfaat Olahraga Semakin Besar dengan Peningkatan Frekuensi

Probabilitas terkena gangguan mental menurun seiring dengan peningkatan aktivitas fisik: semakin sering mahasiswa berolahraga dalam seminggu, semakin rendah risiko gangguan mental mereka. Efek positif ini berlangsung hingga sekitar 10 jam olahraga per minggu. Artinya, olahraga lebih dari 10 jam tidak memberikan pengaruh tambahan dalam menurunkan risiko, dan efek perlindungannya mencapai puncak pada kisaran 10 jam. Tentu saja, ini bukan berarti mahasiswa harus berolahraga 10 jam untuk merasakan manfaatnya. Temuan ini juga mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang minimal 150 menit aktivitas fisik sedang hingga berat per minggu.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kontinuitas dan keteraturan dalam olahraga mungkin lebih praktis dan penting daripada melakukan latihan yang melelahkan dan berat. Aktivitas rutin dapat mencakup berbagai bentuk gerakan, dan hal ini membuat penyisipan olahraga ke dalam jadwal kuliah yang padat menjadi lebih mudah dibandingkan mengandalkan sesi olahraga panjang yang hanya dilakukan sesekali.

Karena studi ini bersifat observasional, tidak dapat dipastikan secara mutlak bahwa olahraga itu sendiri mencegah timbulnya penyakit mental. Faktor-faktor lain mungkin juga berperan dalam hubungan ini. Selain itu, gejala awal depresi atau kecemasan itu sendiri dapat membuat seseorang sulit untuk berolahraga.

Meskipun demikian, membantu mahasiswa untuk tetap aktif dapat menjadi bagian dari strategi kesehatan mental yang lebih luas, terutama bagi mereka yang mengalami gejala awal atau ringan.

Peran Olahraga dalam Kehidupan Mahasiswa

Para peneliti di akhir menyatakan, "Temuan kami menunjukkan bahwa mahasiswa yang berolahraga secara teratur berada pada risiko yang lebih rendah untuk mengalami gangguan mental dalam jangka waktu tertentu. Temuan ini menekankan pentingnya menyediakan akses terhadap aktivitas fisik yang terjangkau dan alami bagi mahasiswa."

Mereka menambahkan, "Kesehatan mental mahasiswa telah menjadi perhatian yang semakin meningkat di bidang kesehatan masyarakat. Temuan kami menunjukkan bahwa mendukung mahasiswa untuk tetap aktif dapat membantu meningkatkan kesehatan mental mereka, dan hal ini harus dianggap sebagai bagian penting dari lingkungan belajar yang sehat."

"Sebuah studi terhadap 10.460 mahasiswa Norwegia menemukan bahwa frekuensi olahraga per minggu lebih penting daripada intensitas atau durasi dalam menurunkan risiko depresi dan kecemasan. Efek perlindungan optimal tercapai pada sekitar 10 jam olahraga per minggu, dan manfaatnya mendukung rekomendasi WHO (150 menit aktivitas sedang-berat per minggu). Namun, temuan ini bersifat observasional, sehingga tidak dapat memastikan sebab-akibat secara mutlak. Yang jelas, keteraturan dan kontinuitas lebih praktis dan mudah diterapkan dalam rutinitas mahasiswa daripada latihan berat yang sporadis."(Sail)