Ancaman Terbaru Presiden Turki terhadap AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i40104-ancaman_terbaru_presiden_turki_terhadap_as
Presiden Turki mengancam Amerika Serikat untuk membalas tindakan negara ini jika senjata AS digunakan untuk menumpahkan darah warganya.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Jun 26, 2017 12:59 Asia/Jakarta

Presiden Turki mengancam Amerika Serikat untuk membalas tindakan negara ini jika senjata AS digunakan untuk menumpahkan darah warganya.

Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan hal itu ketika menyinggung bantuan senjata AS kepada Partai Buruh Kurdistan Turki (PKK) dan bantuan militer serta finansial kepada pasukan Kurdi Suriah (YPG) di utara negara Arab ini.

"Turki akan membalas harga setiap tetes darah yang ditumpahkan dengan senjata AS kepada pemilik asli senjata ini," kata Erdogan di hadapan massa Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkumpul di Istanbul untuk menandai Hari Raya Idul Fitri, seperti dilansir IRNA, Senin (26/6/2017).

Ia menegaskan, "Bagaimana mungkin dari satu sisi kita bersama dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan dari sisi lain, kita bergerak bersama dengan organisasi-organisasi teroris?" Presiden Turki juga menuntut adanya revisi dalam struktur NATO disebabkan dukungan AS kepada kelompok-kelompok teroris.

Pernyataan Erdogan yang mengancam AS bisa dimaknai sebagai tanda meningkatnya ketegangan dalam hubungan Ankara dengan Washington. Ini bukan pertama kalinya para pejabat tinggi Turki melontarkan ancaman terhadap AS disebabkan dukungan negara ini kepada Kurdi di Turki dan Suriah.

Presiden Turki tahun lalu dalam sebuah pernyataan keras dan anti-AS juga mengatakan, Washington harus memutuskan; apakah Partai Demokratik Kurdi Suriah (YPG) sekutu AS atau Turki sekutunya?

Sementara itu, pada Februari 2016, Ahmet Davutoglu, Perdana Menteri Turki di masa itu memperingatkan keras AS atas dukungannya kepada Unit Perlindungan Rakyat Kurdi Suriah, YPG. Ia menyinggung konfrontasi Turki dengan AS.

Davutoglu dalam jumpa pers pada 20 Februari 2016 mengatakan, sepanjang sejarah, terdapat banyak negara yang persekutuan mereka berubah menjadi persaingan dan konfrontasi. Ia meminta AS untuk mendukung Turki dalam menghadapi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi Suriah, YPG.

Meskipun muncul penegasan dari para pejabat Turki, namun para pejabat AS tetap mengumumkan bahwa YPG bukan organisasi teroris. Sebelumnya, para pejabat Ankara dan Washington juga berulang kali berselisih dengan berbagai alasan. Di antara perselisihan itu adalah mengenai ekstradisi Fethullah Gulen, Pemimpin Gerakan Gulen (Gerakan Hizmet) dari AS.

Meski para pejabat Turki telah memberikan dokumen valid (menurut mereka) tentang keterlibatan Kelompok Gulen dalam kudeta gagal pada bulan Juni kepada AS dan bahkan mengancam negara ini, namun masalah tersebut belum tuntas.

Di sisi lain, meskipun para pejabat Washington didesak oleh Ankara, namun hingga sekarang, mereka belum bersedia untuk mengekstradisi Gulen dari AS. Para pakar menilai kebijakan AS mendukung Gulen sebagai bentuk tindakan untuk mempermalukan para pejabat Turki di tingkat internasional.

Ancaman terbaru Presiden Turki terhadap AS juga tidak bisa dianggap serius. Menurut para pakar, pernyataan keras seperti ini hanya sebagai bentuk ungkapan penerimaan tanggung jawab tinggi para pemimpin Turki.

Yang pasti, Turki dan AS selalu memiliki kerjasama dan posisi umum dalam mendukung kelompok-kelompok teroris di kawasan selama beberapa tahun terakhir, terutama kelompok-kelompok teroris Takfiri di Suriah dan Irak.

Ancaman terbaru Presiden Turki terhadap AS dilontarkan ketika kedua negara ini sama-sama mendukung kelompok-kelompok teroris Takfiri seperti Daesh (ISIS) dan Front al-Nusra yang menyebabkan ketidakamanan dan instabilitas di kawasan. Ankara dan Washington juga andil besar dalam pembantaian ribuan rakyat tak berdosa di Suriah dan Irak. (RA)