Tekanan Baru Amerika terhadap Turki
https://parstoday.ir/id/news/world-i45643-tekanan_baru_amerika_terhadap_turki
Amerika Serikat mengambil tindakan terhadap Turki di tengah ketegangan lebih lanjut antara Washington dan Ankara.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Okt 09, 2017 14:04 Asia/Jakarta

Amerika Serikat mengambil tindakan terhadap Turki di tengah ketegangan lebih lanjut antara Washington dan Ankara.

Kedutaan dan konsulat-konsulat AS di Turki telah menghentikan penerbitan visa non-imigran sejak 8 Oktober 2017, dengan tujuan untuk mengurangi jumlah pemohon yang mendatangi Kedutaan Besar AS.

AS tampaknya menghentikan penerbitan visa di Turki sebagai respon atas penangkapan Metin Topuz, seorang staf lokal Konsulat AS di Istanbul. Pekan lalu, Metin Topuz ditangkap dan ditahan oleh aparat keamanan Turki dengan tuduhan melakukan spionase dan berhubungan dengan kelompok Gulen.

Dalam hal ini, Wakil Perdana Menteri dan juru bicara Pemerintah Turki, Bekir Bozdag mengatakan, Konsulat AS di Istanbul harus bertanggung jawab karena mempekerjakan seorang yang dicurigai terkait dengan kelompok Gulen.

"Berdasarkan undang-undang, identitas Metin Topuz harus dikirim ke Kementerian Luar Negeri Turki setelah ia dipekerjakan di Konsulat AS, namun tindakan semacam itu tidak dilakukan," ujar Bozdag.

Namun, beberapa sumber tidak resmi di Ankara mengatakan bahwa pemerintah Washington telah menghentikan penerbitan visa AS karena kekhawatiran tentang keamanan staf dan diplomatnya di kedutaan dan konsulat Amerika di berbagai kota di Turki.

Kemungkinan ini juga tidak boleh diabaikan, di mana pemerintah AS menghentikan penerbitan visa non-imigran di Turki, menyusul keputusan Presiden Donald Trump yang membatasi masuknya warga dari beberapa negara dunia ke Amerika.

Setelah mengumumkan nama beberapa negara penentang kebijakan Amerika di dunia, Gedung Putih mulai melancarkan perlawanan terhadap negara-negara yang dianggap musuh nomor dua mereka, seperti Turki.

Pasca kudeta gagal di Turki pada Juli 2016, para pejabat Ankara menaruh kecurigaan besar terhadap banyak pemerintahan Barat, terutama Amerika. Pemerintah AS mendukung pihak-pihak yang menentang kebijakan Turki di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Di antara pihak-pihak tersebut adalah Muhammed Fethullah Gulen dan Adil Oksuz, dosen di Universitas Marmara Istanbul dan teman dekat Gulen. Gulen dituduh merancang dan melaksanakan kudeta yang gagal di Turki. Selain itu, dukungan finansial, militer, dan politik AS kepada kelompok Kurdi Suriah juga memicu protes dari pemerintah Turki.

Jurnalis dan analis Turki, Mohammad Saleh Khatam dalam wawancara dengan Deutsche Welle baru-baru ini mengatakan, "Sikap negara-negara Barat telah memicu kemarahan Turki, dan memaksa negara ini untuk memperlunak beberapa sikapnya."

Dapat dikatakan bahwa pemerintah AS selain mendukung kelompok Gulen, juga menawarkan bantuan kepada pihak-pihak yang menentang kebijakan Erdogan. Dalam situasi sekarang, langkah lain Washington dalam membuat perhitungan dengan Ankara adalah menghentikan penerbitan visa non-imigran di Turki. (RM)