Pengakuan Trump Soal Lemahnya Militer Amerika
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengakui bahwa militer Amerika lemah dan ia menuntut penambahan anggaran militer untuk Kementerian Pertahanan negara itu.
Donald Trump di hadapan anggota Partai Republik mengatakan, angkatan bersenjata Amerika sejak dahulu dan dalam rentang waktu yang cukup lama, bahkan sebelum pemerintahan Barack Obama, sudah lemah. Ia menambahkan, militer Amerika harus dirombak. Menurut Trump, Amerika membutuhkan pasukan yang besar dan kuat. "Kita harus lebih kuat dari sebelumnya," tegas Trump.
Statemen Trump itu disampaikan padahal di tahun fiskal ini, anggaran Kemenhan Amerika atau Pentagon mencapai 700 milyar dolar yang merupakan angka yang cukup fantastis dibandingkan periode-periode sebelumnya. Diperkirakan anggaran Pentagon di tahun fiskal mendatang juga akan ditingkatkan minimal sebesarnya 20 milyar dolar.
Dengan kata lain, anggaran pertahanan Amerika dalam dua tahun hampir setara dengan satu setengah trilyun dolar, sementara rencananya selama 10 tahun ke depan, infrastruktur usang militer Amerika akan dimodernisasi, itupun dalam kondisi ketika Amerika adalah negara yang anggaran pertahanannya setengah anggaran militer seluruh dunia.
Sebagaimana yang diakui sendiri oleh Presiden Amerika, militer Amerika memang terus melemah. Kondisi ini bukan disebabkan oleh tidak adanya persenjataan modern dan punya daya destruktif tinggi, tapi karena adanya penurunan kekuatan lunak Amerika dan meningkatnya kemampuan pertahanan rival-rival Amerika.
Pengalaman perang Amerika di Irak menunjukkan bahwa militer Amerika memerlukan waktu sekitar 20 hari untuk menggulingkan rezim diktator Saddam Hussein dan menghilangkan 140 nyawa, namun untuk menciptakan keamanan di Irak, Amerika membutuhkan bertahun-tahun, jika memang menghendakinya, dan mengorbankan 4.300 orang.
Meski memberikan dukungan penuh di bidang politik, finansial dan senjata kepada kelompok-kelompok teroris di Suriah, namun koalisi Barat-Arab pimpinan Amerika tetap gagal mencapai ambisinya di negara itu, bahkan dengan menembakkan 50 rudal ke pangkalan udara Suriah pun tidak berhasil mengubah kondisi perang sehingga menguntungkan Amerika dan sekutu-sekutunya.
Kegagalan ini ternyata kembali terulang di Asia Timur, tempat di mana Korea Utara tanpa mempedulikan keunggulan mutlak militer Amerika, bersikeras melanjutkan program rudal dan nuklirnya dan mengancam menyerang wilayah Amerika dengan rudal-rudalnya.
Hubert Védrine, mantan Menlu Perancis mengatakan, era unipolar Amerika yang hanya menguntungkan negara-negara superpower, sudah berakhir.
Pejabat Amerika khususnya kubu nasionalis saat ini sedang berusaha mengumpulkan trilyunan uang pajak warga Amerika untuk membentuk sebuah pasukan terkuat sepanjang sejarah negara itu. Namun demikian, perubahan dunia di abad ke-21 yang berlangsung cepat dan anjloknya kekuatan lunak Amerika disertai munculnya kekuatan-kekuatan baru global dan regional, bercerita tentang penurunan peran dan pengaruh Amerika dalam sistem global. (HS)