Dialog Pertahanan Korsel dan Cina
https://parstoday.ir/id/news/world-i56444-dialog_pertahanan_korsel_dan_cina
Cina dan Korea Selatan untuk pertama kalinya selama dua tahun terakhir khususnya setelah hubungan kedua negara renggang akibat penempatan sistem anti udara THAAD Amerika di wilayah Korea Selatan, menggelar dialog pertahanan.
(last modified 2026-04-22T10:22:51+00:00 )
May 08, 2018 14:29 Asia/Jakarta
  • Dialog Pertahanan Cina-Korea Selatan
    Dialog Pertahanan Cina-Korea Selatan

Cina dan Korea Selatan untuk pertama kalinya selama dua tahun terakhir khususnya setelah hubungan kedua negara renggang akibat penempatan sistem anti udara THAAD Amerika di wilayah Korea Selatan, menggelar dialog pertahanan.

Yeo Seok-joo, kepala penentu kebijakan di Departemen Pertahanan Korsel dan sejawatnya dari Cina Hu Changming di pertemuan yang digelar di Seoul menekankan perluasan kerja sama pertahanan Beijing-Seoul.

 

Dialog pertahanan Cina-Korsel terakhir kali digelar Januari 2016, namun setelah penempatan sisten anti rudal THAAD di wilayah Seoul, dan protes pemerintah Beijing, dialog ini dihentikan. Boikot ekonomi dan pariwisata Cina terhadap Korsel juga bentuk protes lain pemerintah Beijing atas penempatan THAAD. Kebijakan Cina ini telah menimbulkan kerugian besar terhadap ekonomi Korsel.

Image Caption

 

Meski demikian sikap lunak pamerintah Cina terhadap program militer Korea Selatan disebabkan kesiapan kedua Korea menghapus tensi di antara mereka. Dan pemerintah Cina mendukung proses tersebut dan berencana meningkatkan kepercayaan dan mendorong negara-negara yang memiliki sengketa wilayah dengannya di Laut Cina Selatan untuk menghapus tensi ini.

 

Meski Cina menilai penempatan sistem anti rudal THAAD milik Amerika di Korsel sebagai ancaman serius bagi keamanan nasionalnya, namun Beijing meyakini Amerika tidak akan lagi memiliki alasan melanjutkan militerasinya di Asia Timur jika keamanan berkesinambungan berhasil diterapkan di Semenanjung Korea. Di sisi lain, pemerintah Seoul juga akan terpaksa menghentikan program militer Amerika di wilayahnya.

 

Yoon Young-kwan, mantan menteri luar negeri Korea Selatan mengatakan, "Perluasan hubungan dengan Cina sebuah ide rasional. Pemerintah Korea Selatan dan militer negara ini telah meningkatkan kerja sama militernya dengan Cina dan kerja sama ini telah diperbarui. Kita memiliki sejarah pendek terkait normalisasi hubungan diplomatik dengan Cina dan ini harus kita perkuat."

 

Dukungan rakyat Korsel terkait upaya menghapus tensi pemerintahnya dengan Korea Utara menunjukkan bahwa opini publik di kawasan menyambut perdamaian dan pengokohan kerja sama. Sementara itu, pengambilan kebijakan independen dari Amerika oleh pemerintah Seoul akan semakin efektif membantu perluasan kerja sama di kawasan. Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in yang berhasil berkuasa dengan slogan mengapus friksi dengan Cina, mendukung konvergensi dengan pemerintah Beijing.

 

Seorang pengamat isu Korea Utara mengatakan, "Ada potensi terjadinya insiden antara Korea Utara dan Amerika. Dan langkah Cina yang ingin menghapus tensi di kawasan patut diapresiasi dan harus didukung oleh seluruh negara kawasan."

 

Bagaimana pun juga, normalisasi hubungan antara Korea Selatan dan Cina akan sangat efektif membantu penerapan perdamaian dan keamanan di kawasan Semenanjung Korea dan pemerintah Beijing berharap kondisi ini dapat meredam militerasi di Asia Timur dan negara kawasan dengan memperluas kerja sama pertahanannya akan mampu menerapkan keamanan dan tidak butuh pada negara asing. (MF)