Erdogan, PKK dan Angin Segar Pemilu Turki
-
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan menyebut serangan bersenjata terhadap salah satu pos pemenangan pemilu Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di dekat kota Suruc sebagai aksi teroris yang dilakukan Partai Buruh Kurdistan (PKK).
Serangan bersenjata terbaru yang terjadi hari Kamis (14/6) menewaskan setidaknya tiga orang dan mencederai delapan lainnya.
Presiden Turki segera mengarahkan telunjuk tudingan terhadap PKK, yang diklaim sebagai pelaku aksi teror itu.
"Partai Keadilan dan Pembangunan dalam pemilu legislatif dan presiden berada di atas. Aksi teroris ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak bisa menerima keadaan tersebut," ujar Erdogan.
Berbeda dengan klaim Erdogan, sebagian analis politik menilai tudingan terhadap PKK yang dilancarkan presiden Turki menunjukkan kondisi lain yang terjadi saat ini di Turki menjelang penyelenggaraan pemilu. Mereka memandang kondisi pihak oposisi semakin membaik yang memicu kekhawatiran Erdogan.
Terkait hal ini, pengamat masalah Turki, Rahman Ghahremanpour menjelaskan," Erdogan mengkhawatirkan hasil pemilu presiden mendatang dengan mempertimbangkan naiknya popularitas Meral Akşener, sebagimana hasil berbagai jajak pendapat terbaru. Oleh karena itu, kedudukan Partai Keadilan dan Pembangunan mulai terancam,".
Kini, AKP mengkhawatirkan peningkatan popularitas partai oposisi di tengah masyarakat Turki. Bahkan, kandidat dari Partai IYI mengatakan pihaknya tidak akan berpartisipasi dalam kampanye pemilu di televisi nasional Turki, TRT, karena merasa memiliki media lain untuk meraih dukungan publik.
Menghadapi situasi demikian, Erdogan mengerahkan seluruh kekuatannya termasuk memanfaatkan sentimen rakyat Turki seperti kebencian terhadap AS yang menjadi komoditas politik bagi petahana. Oleh karena itu, selama beberapa bulan terakhir Erdogan gencar melancarkan tudingan dukungan AS terhadap PKK demi mengalihkan berbagai persoalan yang menimpa negara ini akibat intervensi AS dalam masalah keamanan.
Pengamat Turki, Musa Ozoghorlou mengungkapkan, jika Erdogan tidak bisa mengatasi masalah Kurdi secara kompromis, maka friksi antara Turki dan AS saat ini akan terus berlanjut. Pasalnya, friksi utama berkaitan dengan kebijakan AS di kawasan. Padahal, Erdogan secara pribadi tidak memiliki masalah dengan AS.
Tampaknya Erdogan dan partainya saat ini berada dalam kondisi sulit untuk memenangi pemilu 24 Juni mendatang. Oleh karena itu, Erdogan mengerahkan seluruh fasilitas di dalam dan luar negeri untuk memulihkan kondisi demi meraih kemenangan dalam pemilu.
Tudingan Erdogan terhadap PKK selain bermuatan politis untuk menyudutkan partai oposisi, sekaligus dalam rangka menutupi kegagalan kebijakan luar negerinya di Suriah. Masalah ini mengindikasikan rakyat Turki menghendaki angin segar dalam pemilu mendatang yang akan membantu pemulihan kondisi ekonomi, dan penguatan keamanan serta merekatkan persatuan nasional di negara ini.(PH)