Menelisik Kegagalan Negosiasi AS-Taliban
-
Negosiasi AS dan Taliban
Juru bicara Presiden Afghanistan, Sediq Sediqqi mengatakan perundingan Amerika Serikat dan kelompok Taliban di Qatar tidak mengalami kemajuan.
"Delegasi AS dan Taliban dalam negosiasi mereka di Doha, sama sekali tidak mencapai kemajuan untuk mengurangi kekerasan atau gencatan senjata," ungkap Sediq Sediqqi.
Jubir Presiden Afghanistan menyebut Taliban harus menerima gencatan senjata dan terlibat pembicaraan langsung dengan pemerintah Afghanistan untuk menciptakan perdamaian.
Sediq Sediqqi di akhir pernyataannya menekankan bahwa mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian di Afghanistan merupakan prioritas pemerintah.
Negosiasi antara delegasi Taliban dan Amerika Serikat telah dilakukan selama sebelas putaran di Qatar dan kedua pihak hingga saat ini tidak menerima keikutsertaan pemerintah Afghanistan dalam negosiasi tersebut.
Kegagalan putaran terbaru negosiasi AS dan Taliban di Qatar terjadi ketika baru-baru ini dirilis laporan yang menunjukkan kedua pihak telah menyepakati rancangan resolusi perdamaian dan dokumen ini siap untuk ditandatangani.
Dengan mencermati jawaban negatif Taliban atas permintaan terbaru Gedung Putih untuk mengurangi aksi kekerasan di Afghanistan, sebenarnya kegagalan negosiasi mereka sudah dapat diprediksi.
Sebelumnya, wakil khusus AS dalam urusan Afghanistan Zalmay Khalilzad meminta pihak Taliban agar mengurangi aksi-aksi kekerasan di Afghanistan yang kemudian ditolak oleh kelompok ini.
Pimpinan Taliban menekankan bahwa pengurangan aksi kekerasan di Afghanistan hanya akan terjadi setelah Amerika Serikat menandatangani nota kesepakatan perdamaian dan menarik pasukannya dari Afghanistan.
Sikap Taliban yang tidak ingin mengurangi aksi kekerasan menunjukkan kelompok ini tidak sudi mengikuti keinginan Amerika Serikat dan bersikeras memilih untuk melanjutkan perang dan mempertahankan intensitasnya hingga ditandatanganinya nota kesepakatan perdamaian dan keluarnya pasukan AS.
Memperhatikan perilaku berulang-ulang Amerika Serikat yang tidak patuh dengan komitmennya ke berbagai negara serta tidak melaksanakan janjinya, Taliban juga enggan mengurangi kekerasan sebelum menandatangani perjanjian damai dengan Amerika Serikat dan menarik pasukan AS dari Afghanistan, lalu mengakhiri perang di negara ini.
Tentu saja penolakan rencanan usulan Amerika Serikat untuk mengurangi kekerasan di Afghanistan tidak terbatas pada Taliban saja, dan pemerintah negara ini juga tidak menerimanya.
Pemerintah Afghanistan mengumumkan bahwa pengurangan kekerasan tidak bermakna dan pemerintah menuntut dilakukannya gencatan senjata dan berakhirnya perang. Menurut para pejabat Afghanistan, rencana yang dinginkan AS soal pengurangan aksi kekerasan oleh Taliban menunjukkan kebingungan negara ini dalam menyusun strategi untuk menghadapai tuntutan nasional di Afghanitan demi terciptanya perdamaian.
Pemerintah Afghanistan percaya bahwa bertentangan dengan klaimnya, Amerika Serikat sebenarnya tidak punya keinginan untuk membantu terwujudnya perdamaian dan stabilitas di negara ini dan dengan menghapus Kabul dari proses negosiasi damai dengan Taliban, praktis tidak mengakui kepentingan dan kedaulatan nasional Afghanistan.
Dalam kondisi yang demikian, pemerintah Afghanistan berkali-kali menyatakan bahwa segala bentuk kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Taliban tanpa pengakuan pemerintah tidak sah dan tidak mungkin dapat diimplementasikan.
Berdasarkan catatan-catatan seperti ini, pemerintah dan bangsa Afghanistan menuntut Amerika Serikat agar menarik pasukannya dari negaranya demi menyiapkan kondisi bagi penyelenggaraan negosiasi antara Kabul dan Taliban demi mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian abadi yang tentu saja diabaikan oleh Gedung Putih.