Kelemahan Sistem Kesehatan Global Hadapi Corona
https://parstoday.ir/id/news/world-i80578-kelemahan_sistem_kesehatan_global_hadapi_corona
Para menteri kesehatan negara-negara G-20 melakukan pertemuan virtual untuk membahas dampak wabah virus Corona dan mereka mengakui kelemahan sistem kesehatan global dalam menghadapi pandemi ini. Menurut mereka, Covid-19 telah menyingkap kelamahan sistem kesehatan di seluruh dunia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 20, 2020 14:36 Asia/Jakarta
  • Kelemahan Sistem Kesehatan Global Hadapi Corona

Para menteri kesehatan negara-negara G-20 melakukan pertemuan virtual untuk membahas dampak wabah virus Corona dan mereka mengakui kelemahan sistem kesehatan global dalam menghadapi pandemi ini. Menurut mereka, Covid-19 telah menyingkap kelamahan sistem kesehatan di seluruh dunia.

Para menkes G-20 menyampaikan keprihatinan atas penularan parah virus Corona di negara-negara lemah dan menekankan pentingnya membantu negara lain dalam memerangi pandemi ini.

Mereka juga mengevaluasi kelemahan sistem kesehatan dan respon global yang tidak memadai terhadap krisis ini.

Korban terus berjatuhan akibat terinfeksi virus Corona dan banyak negara dunia telah menerapkan kebijakan karantina, jam malam, dan pembatasan ketat untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

Data terbaru mencatat bahwa 2,421,018 orang di seluruh dunia telah terinfeksi Corona dan jumlah kematian mencapai 165,890 orang. Amerika Serikat menempati urutan pertama dengan 764,265 kasus dan 40,565 kematian.

Wabah Corona membuat mayoritas negara dunia menghadapi krisis yang luar biasa di bidang medis dan peralatan kesehatan. Kelangkaan besar ini justru terjadi di negara-negara Eropa dan AS sehingga jumlah kematian akibat Covid-19 terus meningkat.

Keterbatasan ventilator di Italia, Spanyol, dan AS menyebabkan tingginya angka kematian di sana. Tidak hanya itu, mereka juga menghadapi keterbatasan tenaga medis dan perawat, alat test Corona, kapasitas rumah sakit yang penuh, serta kekurangan alat kesehatan seperti baju pelindung dan sarung tangan.

Pandemi Corona di negara-negara Eropa dan AS menunjukkan bahwa mereka sangat rapuh di bidang kesehatan dan medis. Di Eropa, meski adanya berbagai perusahaan asuransi yang mengcover biaya berobat, namun secara praktis banyak warga tidak dapat menikmatinya karena tingginya biaya. Di sisi lain, asuransi sosial juga tidak sanggup memenuhi kebutuhan para pasien.

Kota New York menjadi pusat penyebaran virus Corona di Amerika.

Kebijakan pengetatan ekonomi di beberapa negara Eropa, pemangkasan anggaran kesehatan, dan minimnya upah tenaga medis, secara praktis telah memperlemah kinerja sektor kesehatan di banyak negara Eropa.

Tingginya populasi lansia serta meningkatnya biaya perawatan medis dan sosial mereka, juga ikut memperburuk situasi saat ini.

Pakar kebijakan kesehatan internasional di Imperial College London, Profesor Franco Sassi mengatakan sistem kesehatan mayoritas negara-negara industri termasuk Inggris, tidak siap untuk menghadapi krisis besar di bidang kesehatan seperti Corona. "Jika daya tampung pasien di ruang ICU lebih besar, maka angka kematian akan berkurang," ujarnya.

Di Amerika, kritikan terhadap sistem kesehatan juga meningkat. Tidak adanya sistem kesehatan terpadu, tingginya biaya perawatan medis, kesenjangan sosial, dan diskriminasi rasial, telah membuat negara itu menyaksikan lonjakan angka kematian akibat Corona.

Walikota Chicago, Lori Lightfoot mengungkapkan bahwa penduduk kulit hitam menyumbang 70 persen dari kematian yang berhubungan dengan virus Corona.

Dia menekankan bahwa Chicago tidak dapat menghapus kesenjangan kesehatan selama beberapa dekade dalam beberapa hari atau seminggu, tetapi kita harus mengesankan orang-orang di komunitas ini bahwa ada hal-hal yang dapat mereka lakukan, ada alat yang dapat mereka gunakan untuk membantu diri mereka sendiri.

Virus Corona adalah sebuah ancaman yang telah membunuh banyak orang, tapi kerja sama internasional dan regional dengan meningkatkan kualitas sistem kesehatan, dapat menjadi sebuah solusi untuk melawan wabah mematikan ini. (RM)