Amerika Tinjauan dari Dalam, 15 Mei 2021
-
Quds dan Brutalitas Israel serta sikap AS
Transformasi di Amerika Serikat selama sepekan lalu diwarnai sejumlah isu penting seperti, sikap Amerika Serikat terkait brutalitas rezim Zionis Israel di Masjid Al Aqsa serta balasan kubu muqawama Palestina.
Selain itu, ada sejumlah isu penting lainnya seperti, rencana Amerika pindahkan pasukannya dari Afghanistan ke dekat perbatasan Rusia, insiden penembakan mematikan di AS, rencana AS pertahankan sanksi non nuklir terhadap Iran serta berbagai isu lainnya.
Kecam Serangan Rudal Gaza, AS: Israel Berhak Membela Diri
Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, tanpa menyinggung sedikit pun kejahatan terbaru rezim Zionis Israel di kota Al Quds, mengecam serangan balasan rudal kelompok perlawanan Palestina di Gaza ke Israel.
Ned Price seperti dikutip situs resmi Deplu AS, Senin (10/5/2021) dalam konferensi persnya mengatakan, “Selain mendesak semua pihak untuk menurunkan ketegangan, kami juga mengakui legitimasi Israel, mengakui hak Israel untuk membela diri, dan hak untuk membela rakyat dan wilayahnya.”
Ia menambahkan, “Lebih luas lagi, kami sangat prihatin atas situasi di Israel, Tepi Barat dan Jalur Gaza termasuk bentrokan di Jerusalem (Al Quds) yang menyebabkan korban bertambah sampai 180 orang, serta penembakan roket dari Gaza dan ancaman serangan roket berikutnya.”
Jubir Deplu AS juga menyambut langkah yang diambil Israel untuk menunda keputusan terkait penggusuran wilayah Sheikh Jarrah di kota Al Quds.
Dihalangi AS, PBB Gagal Rilis Pernyataan tentang Kejahatan Israel
Dewan Keamanan PBB gagal mengeluarkan sebuah pernyataan tentang kejahatan Israel di Quds pendudukan setelah Amerika Serikat melakukan intervensi.
Seperti dilaporkan televisi France 24, Senin (10/5/2021), para anggota Dewan Keamanan mengadakan sidang darurat setelah meningkatnya kekerasan di wilayah Quds pendudukan dan berlanjutnya kejahatan rezim Zionis, tetapi gagal menghasilkan sebuah keputusan karena intervensi AS.
“Dewan Keamanan harus segera mengeluarkan pernyataan,” kata Duta Besar Irlandia untuk PBB, Geraldine Byrne Nason, yang menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan.
Para diplomat di PBB mengatakan semua 15 anggota Dewan Keamanan prihatin dengan meningkatnya kekerasan, tetapi AS – sekutu dekat Israel – percaya bahwa pernyataan itu mungkin tidak berguna saat ini.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price mengatakan pemerintahan Biden ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil oleh Dewan Keamanan, tidak akan memperburuk ketegangan.
Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Israel menyerang orang-orang Palestina di Kompleks Masjid al-Aqsa dan daerah sekitarnya, terutama lingkungan Bab al-Amoud.
Bulan Sabit Merah Palestina mengumumkan pada Sabtu lalu bahwa lebih dari 200 orang terluka dalam serangan Israel terhadap warga Palestina.
Tel Aviv Dihujani Rudal Palestina, Ini Reaksi AS
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menanggapi serangan rudal kelompok perlawanan Palestina ke Tel Aviv.
Dikutip Fars News, Selasa (11/5/2021), Deplu AS mengumumkan, "Kami mendukung hak Israel untuk membela diri sebagaimana juga warga Palestina berhak hidup dalam keamanan."
Deplu AS menegaskan kebijakan Washington tetap tidak berubah bahwa Tepi Barat telah diduduki, dan kondisi terakhir Baitul Maqdis masih belum jelas.
PBB dan sejumlah banyak negara dunia menganggap distrik-distrik Zionis melanggar hukum, karena Israel menduduki wilayah tersebut pada perang tahun 1967, dan berdasarkan Konvensi Jenewa segala bentuk pembangunan yang dilakukan penjajah di wilayah pendudukan, dilarang. (HS)
Anggota Kongres AS Kritik Kejahatan Israel di Palestina
Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Cori Bush mengkritik dukungan Washington atas kejahatan rezim Zionis terhadap rakyat Palestina.
“Perjuangan untuk kehidupan warga kulit hitam dan perjuangan untuk pembebasan Palestina adalah saling berhubungan,” tulis Cori Bush di akun Twitter-nya seperti dikutip laman Farsnews, Sabtu (15/5/2021).
“Kami menentang uang kami dipakai untuk mendanai militer, pendudukan, dan sistem penindasan dengan kekerasan dan penumpasan. Kami anti-perang, kami anti-pendudukan, dan kami anti-apartheid,” tegasnya.
Sementara itu, anggota DPR AS dari Negara Bagian Indiana, Andre Carson dalam sebuah tweet, mengatakan Washington harus menggunakan pengaruhnya untuk melindungi hak-hak rakyat Palestina dan bekerja untuk perdamaian yang berkelanjutan.
Joey Hood: AS Tak Terlibat dalam Dialog Iran-Saudi
Pejabat senior Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan Washington tidak terlibat dalam perundingan yang dilakukan Iran dan Arab Saudi.
Seperti dikutip situs The National News, Senin (10/5/2021), Joey Hood menuturkan, “Kami mendukung dialog Iran dan Saudi di Irak, tapi kami tidak ada urusan apa pun dengan mereka.”
Sebelumnya Presiden Irak mengatakan negaranya lebih dari sekali menjadi tuan rumah dialog Iran dan Saudi.
Surat kabar The Financial Times, 18 April 2021 lalu mengutip tiga pejabat Saudi mengklaim dialog langsung pejabat senior Riyadh dan Tehran untuk memulihkan hubungan kedua negara rival di kawasan tersebut.
Menurut Financial Times, delegasi Saudi dalam dialog ini dipimpin Kepala Dinas Intelijen Saudi Khaled Hamidan, dan delegasi Iran dipimpin Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, Saeed Iravani.
Tema utama pembicaraan ini, katanya, adalah masalah Yaman yang sampai saat ini masih menjadi sasaran agresi militer Saudi dan koalisinya.
AS Ingin Pindahkan Pasukan dari Afghanistan di Dekat Perbatasan Rusia
Amerika Serikat dilaporkan akan menempatkan kembali pasukannya yang ditarik dari Afghanistan di dekat perbatasan Rusia seiring meningkatnya ketegangan antara Washington dan Moskow.
Seperti dilansir Sputnik Rusia, Senin (10/5/2021), AS dan NATO mulai menarik pasukannya dari Afghanistan pada 1 Mei setelah membaiknya situasi keamanan di negara itu dibandingkan dengan situasi saat invasi Barat pada 2001 lalu.
Menurut media Rusia ini, setelah meninggalkan Afghanistan, AS lebih memilih membawa pasukan dan peralatan militernya di Uzbekistan dan Tajikistan, dua negara bekas Uni Soviet yang berbatasan dengan Afghanistan di utara.
Namun, kehadiran militer Rusia di wilayah tersebut dan pengaruh Cina yang semakin besar akan mempersulit rencana AS untuk menyebarkan pasukannya di Asia Tengah.
Tajikistan adalah anggota penuh dari Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif yang dipimpin Rusia, dan Uzbekistan yang menangguhkan keanggotaannya dalam aliansi ini pada 2012, tetap mempertahankan hubungan ekonomi dan keamanan yang kuat dengan Rusia.
Ketegangan antara Moskow dan Washington meningkat dalam beberapa bulan terakhir karena berbagai isu, termasuk tuduhan campur tangan Rusia dalam pemilu AS dan kasus serangan siber terhadap lembaga-lembaga pemerintah AS. Namun, tudingan ini berulang kali dianggap tidak beralasan oleh Moskow.
Pesta Ulang Tahun Berdarah Terjadi di Colorado, Tujuh Tewas
Aksi penembakan terjadi di sebuah pesta ulang tahun di AS yang menewaskan sejumlah orang, termasuk pelakunya sendiri.
Seorang laki-laki menembak mati enam orang dewasa, kemudian menembak dirinya sendiri dalam sebuah pesta ulang tahun di Colorado Springs, Colorado, pada Minggu (9/5) pagi.
"Tersangka, seorang laki-laki dan pacar perempuannya, naik mobil ke tempat itu, masuk ke dalam dan mulai menembaki orang-orang di pesta itu sebelum akhirnya bunuh diri," kata pernyataan yang dirilis oleh Departemen Kepolisian Colorado Springs.
Polisi belum mengungkap identitas penyerang dan motif penyerangnya masih belum diketahui.
Aksi ini menjadi insiden penembakan terburuk di Colorado sejak seorang pria bersenjata menyerang sebuah toko pada 22 Maret yang menewaskan sepuluh orang.
Colorado Springs adalah kota terbesar kedua di Colorado setelah Denver dengan populasi 465.000 orang.
AS akan Mempertahankan Sanksi Non-nuklir terhadap Iran
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa bergabungnya kembali dengan kesepakatan nuklir JCPOA tidak akan menghalangi AS menerapkan sanksi yang tidak terkait nuklir terhadap Iran.
Ned Price dalam konferensi pers di Washington, Senin (10/5/2021), menuturkan pemerintahan Biden tidak akan mencabut sanksi-sanksi yang diterapkan dengan klaim dugaan “terorisme.”
“Jika Amerika Serikat bergabung kembali dengan JCPOA, kami akan tetap meminta pertanggung jawaban Iran atas perilakunya di bidang lain seperti, hak asasi manusia dan terorisme,” tegasnya seperti dikutip laman Farsnews.
Ned Price juga berbicara tentang harapan negaranya bahwa perundingan Wina akan berlangsung lama dan masih ada kesenjangan yang lebar.
Mantan Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi keras terhadap Iran.
Saat ini Iran dan kelompok 4+1 sedang berunding di Wina, Austria untuk menemukan solusi supaya AS memenuhi kewajiban kesepakatan nuklir. Pertemuan ini belum berhasil karena berbagai hambatan yang diciptakan oleh Washington.