Jihad Iran Melawan Corona
-
Penanganan Covid-19 di Iran
Oleh: Yusli Effendi *
Meskipun di awal Maret sempat terekam sebagai negara di luar China dengan kasus Covid-19 paling banyak setelah Italia, Iran kini konsisten masuk dalam beragam laporan sebagai salah satu negara dengan tingkat kesembuhan tertinggi. Menkes Iran, Saeed Namaki bahkan berani mengklaim dalam laman Iran Front Page edisi 25 April bahwa negaranya telah membukukan rekor dunia dalam hal besarnya jumlah kesembuhan pasien baru Corona. Pernyataan itu nyatanya berbasis fakta. Worldometers pada 4 Mei mencatat, negeri para mullah itu memiliki 97.424 positif Covid-19 dan 78.422 sembuh (80,2%). Sebelumnya di pertengahan April, dari 52 ribu yang terkonfirmasi positif, negeri ini mencatatkan tingkat kesembuhan yang sangat tinggi hingga 48 ribu atau 91%.

Negara lain dengan catatan impresif lainnya ialah China dengan 82.880 positif dan 77.766 sembuh (93,8%), serta Korsel dengan 10.801 positif dan 9.217 sembuh (85,3%). Di Eropa, Jerman memiliki catatan bagus dengan 165.664 positif dan 132.700 sembuh (80,1%). Pada tanggal yang sama, mari kita bandingkan dengan Indonesia yang memiliki 11.192 positif dan 1.876 sembuh (16,7%) serta AS dengan 1.188.421 dan 178.594 sembuh (15%). Keduanya memiliki angka yang lebih rendah dari rerata dunia yang menyentuh 30%.
Resep kesembuhan dari Corona bisa kita gali dari negara-negara seperti China, Korsel, atau Jerman. Namun, Iran menawarkan formula berbeda dalam penanggulangan wabah: jihad. Selain mengandalkan inisiatif pemerintah, solidaritas nasional, dan inovasi teknologi, anasir agama begitu manjur melambari upaya penghasil utama safron ini memulihkan diri meski masih didera sanksi embargo ekonomi.
Taplak Tirakat Hari Raya
Corona telah mengubah Hari Raya Nawrouz menjadi perayaan dalam keprihatinan. Biasanya, perayaan datangnya musim semi dalam kalender Persia ini disambut dalam kehangatan kasih sayang, kemeriahan, dan suka cita—layaknya kita menyongsong Idulfitri. Taplak Tujuh Sin (Sofr-e Haft Sin), hidangan tujuh rupa yang sarat perlambang kebaikan penanda pergantian tahun, memang tetap digelar. Namun, tahun ini keluarga-keluarga Iran mengelilinginya dalam kemuraman dan duka.
Libur nasional dua pekan saat banyak warga melakukan perjalanan ziarah, mudik, liburan, atau mengunjungi sanak kerabat, harus ditunda. Pergerakan warga menurun drastis hingga 70% justru di masa Nawrouz, karena banyak yang membatalkan perjalanan saat epidemi Corona mencapai puncaknya demi mematuhi anjuran pemerintah yang secara ketat mewajibkan isolasi diri di rumah.
Tehran telah menerapkan beberapa upaya menghambat persebaran virus usai kasus pertama terkonfirmasi pada 19 Pebruari di Qom. Tidak hanya penutupan sekolah-sekolah dan universitas sejak lima hari sesudahnya, pemerintah bahkan berani mengambil langkah yang tak populer: meniadakan salat Jumat dan menutup masjid serta situs-situs suci ziarah seperti makam Fatimah Maksumah di Qom dan Makam Imam Reza di Mashhad. Tehran juga aktif melakukan tes Covid-19 di perbatasan kota untuk mencegah persebarannya kian meluas.
Ikhtiar Teknologi Berdikari
Industri Iran juga berperan besar dalam menyiapkan amunisi dalam peperangan melawan wabah. Kebutuhan alat kesehatan, masker, sarung tangan, disinfektan, dan penyanitasi tangan, yang langka di awal wabah, segera terpenuhi setelah pelaku industri turun tangan. Industri manufaktur melipatgandakan kapasitas produksi, dan dengan dibantu para ilmuwan, mereka segera menemukan dan memproduksi tiga jenis alat deteksi Covid-19 yang langsung diserap pasar dalam dua pekan.

Dua jenis alat tes telah diproduksi massal; jenis pertama alat tes PCR (sampel lendir), diproduksi 8 juta dalam sebulan, sementara jenis lainnya—alat tes berbasis serologi (sampel darah)—berhasil diproduksi hingga 400 ribu dalam sebulan, dan terus naik hingga dua juta produk. 40 alat ventilator canggih produksi lokal pun berhasil diproduksi tiap hari. Selain alat diagnosis, produk inovatif lainnya juga tak henti direka-cipta: generator ozon, pelindung muka nano, garba disinfeksi, hingga alat tes molekular.
Pardis Technology Park di Teheran—kawasan industri terintegrasi yang menjadi sentra industri kolaborasi swasta, lembaga riset akademis, dan lembaga pemerintah—menjadi yang terdepan dalam prakarsa domestik menangani wabah. Yang harus kita garisbawahi ialah para perusahaan berbasis iptek ini bahkan mampu memenuhi kebutuhan nasional secara mandiri, bahkan kini mulai mengekspornya, di tengah kesulitan sanksi ekonomi.
Jihad Corona
Upaya Iran mencapai puncaknya saat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mendeklarasikan jihad melawan virus Korona pada 3 Maret. Sang Rahbar menyeru 83 juta rakyatnya bersatu memobilisasi diri untuk berjihad dengan mematuhi anjuran WHO dan mengerahkan segala daya mengatasi wabah. Sebagai ulama karismatik pemegang kendali tertinggi di atas pemerintah dan militer, darinya terlahir tak hanya perintah, namun sekaligus fatwa. Kepatuhan rakyat tak hanya dibuktikan dengan partisipasi 71 juta orang dalam sistem pelaporan nasional lewat telepon dan laman web yang digagas Kemenkes, tapi juga kesukarelaan untuk melakukan aksi kebajikan nirpamrih mengatasi Corona.
Segala lapisan masyarakat bersegera di garis depan: para ibu berjihad dengan menjahit masker dari rumah; para pelajar bahu membahu bersama paramiliter Garda Revolusi (basij) mahasiswa dan tentara (artesh) memproduksi penyanitasi tangan dan disinfektan di masjid dan membagikannya secara gratis kepada yang membutuhkan; sementara warga lainnya menjadi sukarelawan di rumah sakit. Meski bukan tenaga kesehatan resmi, warga sipil tersebut membantu sebisanya: dari memungut sampah, memberi makan penderita, hingga sekadar menyemangati atau menghibur tenaga medis dengan lagu-lagu perjuangan. Masjid pun beralih fungsi menjadi tempat produksi APD dan disinfektan untuk membantu industri menutup kebutuhan masyarakat.
Panggilan jihad juga menjadikan para tenaga kesehatan yang meninggal terpapar virus sebagai martir bangsa dan agama. Ali Khamenei menganugerahkan gelar pahlawan nasional dan syahid bagi mereka, sejajar dengan para pahlawan perang. Bagi Republik Islam Iran, kesyahidan adalah gelar termulia bagi mereka yang gugur mempertaruhkan nyawa melawan musuh negara dan agama. Foto mereka dipasang dengan takzim di seantero negeri: di ruang publik hingga sudut-sudut desa dan kota. Dalam beberapa kesempatan, para pemimpin Iran mengaitkan jihad Corona dengan narasi perlawanan terhadap Amerika yang bersikukuh menimpakan embargo ekonomi di tengah musibah. Fatwa jihad Corona juga menjadikan tindakan medis layaknya tugas suci agama.
Pelajaran bagi Indonesia
Dari Iran kita bisa belajar dua hal penting. Pertama, solidaritas nasional berbasis nilai-nilai agama. Meski terdapat perbedaan dalam konteks sosial-politik, Iran memberikan kita pelajaran bahwa dalam masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai agama, pelibatan wacana agama yang tepat seperti pemaknaan ulang jihad akan mampu tak hanya menyentuh sisi emosi serta membangun kesadaran historis, namun juga memiliki daya mobilisasi. Narasi yang kontekstual disertai ketaatan masyarakat pada figur agawaman disegani akan bisa meresonansi pesan untuk melakukan “aksi suci” di masa pelik wabah.
Kedua, kemandirian dan sinergi dalam inovasi teknologi. Keterbatasan akibat sanksi ekonomi malah mendorong Iran lebih kreatif dan mandiri. Interaksi erat antaraktor—pemerintah, industri, ilmuwan, peneliti, agamawan, dan masyarakat sipil—dimanfaatkan optimal dalam menciptakan produk inovatif sebagai amunisi memerangi Corona. Sinergi itu dipungkaskan di sentra industri iptek seperti Pardis Technology Park.
Indonesia sejatinya tak kalah dalam hal inovasi: Lembaga Biologi Molekuler Eijkman—bekerja sama dengan PT Bio Farma dan RSPAD Gatot Soebroto—telah memulai pengobatan metode plasma pemulihan mengikuti Iran; peneliti Universitas Airlangga/ITS telah mampu menciptakan robot perawat pasien Corona; dan peneliti dari ITB, Unpad, serta Rumah Sakit Hasan Sadikin telah mampu memproduksi ventilator jinjing berbiaya murah. Namun, dari Iran kita tahu, sinergi lintas aktor yang terorkestrasi dengan kompleks industri menjadikannya memiliki daya jangkau yang lebih cepat dan luas.
*Yusli Effendi. Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya