May 22, 2019 10:51 Asia/Jakarta
  • 22 Mei 2019
    22 Mei 2019

Iran Peringati Hari Mulla Sadra Tanggal 1 Khordad, Republik Islam Iran memperingati Hari Mulla Sadra.

Sadr ad-Din Mohammad Shirazi yang dikenal dengan sebutan Sadr al-Mutaallihin dan Mulla Sadra lahir pada 9 Jumadil Awal 980 HQ di kota Shiraz. Fondasi keilmuan dan akhlaknya dibangun dengan menghadiri kuliah yang disampaikan gurunya Sheikh Bahai, ulama besar di masa kekuasaan Dinasti Safavi, Persia. Setelah itu beliau belajar filsafat, teologi dan irfan kepada Mirdamad dan ilmu-ilmu alam, matematika, perbintangan dan arsitektur pada Hakim Abul Qasem Mir Fandaraski.

Dengan penguasaannya akan filsafat Paripatetik, Iluminasi, Mulla Sadra kemudian sistem pemikiran filsafatnya dan menamakan aliran pemikirannya dengan Hikmah Muta’aliyah. Beliau menggabungkan empat aliran pemikiran penting seperti irfan, filsafat yang mencakup Paripatetik dan Iluminasi serta ajaran agama Islam dan membangun basis filsafat Hikmah Muta’aliyah.

Mulla Sadra dalam bangunan filsafatnya berhasil menggabungkan irfan, filsafat dan agama atau penyucian jiwa, rasionalitas dan wahyu dalam sebuah sistem pemikiran yang harmonis. Mulla Sadra berusaha menafsirkan agama dengan pendekatan irfan dan filsafat. Beliau meninggalkan banyak karya tulis dan yang terpenting adalah buku monumentalnya al-Asfar al-Arba’ah.

Akhirnya alim dan filsuf ini meninggal dunia pada 1050 HQ di usia 70 tahun di kota Basrah dan dikebumikan di kota itu juga.

Mulla Sadra

Dimulainya Perang Qadisiyah antara Pasukan Islam dan Persia

Tanggal 16 Ramadan 14 HQ, dimulai perang Qadisiyah antara pasukan Islam dan Persia.

Sebagai kelanjutan dari perang-perang yang terjadi di permulaan Islam, Khalifah Kedua menugaskan Saad bin Abi Waqqas untuk menguasai imperium Persia. Sementara dari Yazgerd III, Raja Sasanian menunjuk Farrokhzad sebagai komandan perangnya.

Setelah melakukan perundingan pertama, Saad bin Abi Waqqas mengusulkan agar Persia menerima Islam atau membayar jizyah, tapi pasukan Persia memilih untuk berperang. Akhirnya perang terjadi antara kedua pihak di daerah Qadisiyah, Irak.

Berperang selama beberapa hari membuat pasukan Persia mulai terlihat lemah dan akhirnya mengakui kekelahan. Kemenangan ini berujung pada pembukaan kota Qadisiyah dan sampainya pasukan Islam ke tepi pantai barat Sungai Dajlah menghadap Eyvan Madain, jatuhnya ibukota dan punahnya pemerintahan Sasanian.

Sejarah

Yaman Bersatu

29 tahun yang lalu, tanggal 22 Mei 1990, dideklarasikanlah Republik Yaman yang merupakan persatuan dari Republik Arab Yaman dan Republik Rakyat Demokratik Yaman. 

Mantan Presiden Republik Arab Yaman, Ali Abdullah Saleh menjadi presiden di negara baru ini sedangkan mantan presiden Republik Rakyat Demokratik Yaman, Ali Salim l-Bidh, diangkat sebagai wakil presiden. Yaman adalah salah satu pusat peradaban tertua di Timur Dekat. Pada abad ke-7, Yaman dikuasai oleh kekhalifahan Islam.

Pada abad ke-19, Yaman utara dikuasai oleh Imperium Ottoman sedangkan Yaman Selatan dikuasai oleh Inggris. Setelah merdeka dari penjajahan, masing-masing wilayah mendirikan negara terpisah. Yaman utara menjadi Republik Arab Yaman sedangkan Yaman selatan yang dikuasai kaum marxis mendirikan negara Republik Demokratik Rakyat Yaman.

Sejak tahun 1972, pemerintah kedua negara itu mulai membicarakan kemungkinan disatukannya kembali negara Yaman, namun baru terwujud 18 tahun kemudian.

Bendera Yaman