Tragedi Mina (1)
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i19579-tragedi_mina_(1)
Memasuki bulan Dzulhijah, umat Islam dari berbagai penjuru dunia berdatangan ke tanah suci Mekah untuk memenuhi panggilan ilahi. Ibadah haji merupakan simbol persatuan, sekaligus kongres umat Islam sedunia. Pada acara ritual haji, para jemaah berputar mengitari Kabah dan menjalankan manasik haji yang telah diletakan pondasinya oleh Nabi Ibrahim as.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Sep 04, 2016 11:51 Asia/Jakarta

Memasuki bulan Dzulhijah, umat Islam dari berbagai penjuru dunia berdatangan ke tanah suci Mekah untuk memenuhi panggilan ilahi. Ibadah haji merupakan simbol persatuan, sekaligus kongres umat Islam sedunia. Pada acara ritual haji, para jemaah berputar mengitari Kabah dan menjalankan manasik haji yang telah diletakan pondasinya oleh Nabi Ibrahim as.

Terkait hal ini, Allah swt dalam al-Quran surat Al Imran ayat 97 berfirman, "Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."

Tapi tahun lalu, ritual ibadah haji diwarnai dua insiden mematikan yang membuat dunia Islam berduka. Ritual terbesar umat Islam serta simbol persatuan dan solidaritas kaum Muslim dunia ini berubah menjadi acara duka. Dua pekan sebelum manasik haji dimulai, sebuah crane roboh menimpa jamaah di Masjidil Haram. Insiden ini menewaskan 107 orang, dan melukai sejumlah lainnya.

 

Pada saat Jemaah haji berada di Mina, sebuah tragedi besar terjadi akibat penumpukan jamaah dan manajemen yang kacau balau. Petaka Mina sejauh ini telah menewaskan dan melukai ribuan orang. Rangkaian tragedi berdarah ini berlangsung di saat dinasti Al Saud selama ini memegang otoritas tunggal penyelenggaraan ibadah haji sekitar 80 tahun, tanpa kontrol dari pihak manapun, bahkan tanpa melibatkan peran OKI sendiri. Mereka menyebut dirinya sebagai Khadimul Haramain (pelayan dua tempat suci).

 

Tragedi tahun lalu bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, ada 13 insiden mematikan yang merusak kekhusyukan jamaah haji dalam 40 tahun lalu. Masing-masing dari insiden tragis ini menyebabkan puluhan jamaah meninggal dunia dan terluka. Pada 10 Desember 1975, sebuah ledakan tabung gas menyebabkan kebakaran hebat di tenda-tenda yang ditempati jamaah haji. Lebih dari 200 orang meninggal dunia dalam insiden tersebut.

 

Kemudian, pada 20 November 1979, terjadi insiden penyanderaan jamaah haji di Masjidil Haram dan aksi baku tembak dengan aparat keamanan Saudi yang telah menewaskan 150 orang dan melukai lebih dari 500 lainnya. Selanjutnya, Pada 31 Juli 1987, pasukan keamanan Saudi menyerang jamaah haji Iran ketika sedang menyelenggarakan ritual bara’ah dari kaum musyrikin. Aksi represif ini menyebabkan kematian lebih dari 400 jamaah dan mayoritas korban berasal dari Iran. Tidak hanya itu, terjadi enam kali insiden berdarah serupa di Mina yaitu: tahun 1990, 1994, 1998, 2001, 2003, dan 2006 dengan korban tewas sebanyak 1.426, 270, 118, 35, 250 dan 364 orang.

 

Tragedi Mina menjadi sorotan publik internasional, terutama bangsa-bangsa Muslim di dunia. Semua perhatian tertuju mengenai faktor penyebab terjadinya tragedi Mina. Berbagai analisis muncul mengenai friksi di tubuh pejabat Arab Saudi, terutama antarpangeran yang berebut kekuasaan, kelemahan manajerial Arab Saudi dalam pengelolaan haji karena pemerintah Al Saudi fokus terhadap perang Yaman, dan pihak yang cenderung menyalahkan takdir dan lainya.

Ironisnya, di tengah kondisi jemaah haji dan keluarganya yang berduka akibat tragedi Mina, sebagian pejabat Arab justru melemparkan telunjuk tudingan menyalahkan pihak jemaah haji sendiri. Kepala Komite Pusat Haji, Pangeran Khaled Faisal mengklaim sejumlah jemaah haji negara lain sebagai penyebab tragedi Mina. Menjawab statemen tersebut, di media sosial salah seorang pengguna internet bertutur, "Seorang perempuan Kenya penjual ikan selama sepuluh tahun menabung uangnya demi menunaikan ibadah haji. Kini pemerintah Saudi menyalahkan mereka sebagai penyebabnya?"

Tapi, apa yang menjadi perhatian sebenarnya mengenai faktor penyebab tragedi Mina, tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab Dinasti Al Saud sebagai pengelola ibadah haji yang harus menjamin keselamatan jemaah haji.

Keamanan, terutama keselamatan nyawa manusia merupakan hak paling dasar dari hak asasi manusia. Tidak ada seorang pun yang secara sengaja diperbolehkan mengancam keamanan orang lain. Al-Quran sangat menghargai nilai nyawa manusia. Bahkan, kitab suci samawi ini menegaskan bahwa membunuh seorang mukmin setara dengan membunuh seluruh umat manusia.

Kemuliaan manusia dan larangan menyerang orang lain juga diatur dalam ketentuan internasional. Piagam HAM Islam pasal 2 ayat satu menyatakan, "Kehidupan adalah anugerah ilahi, dan hak setiap manusia yang wajib dijamin oleh setiap orang, masyarakat dan negara. Hak ini harus dijaga dan dipertahankan dari setiap serangan apa pun...".

Seluruh negara berkewajiban untuk melindungi setiap warga negaranya masing-masing dari setiap ancaman keamanan. Demikian juga setiap negara harus melindungi warga negara asing yang mengunjungi negaranya dari setiap serangan dan teror. Keamanan kunjungan ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji yang dilakukan warga negara dari berbagai negara dunia jelas memiliki kedudukan khusus dan sensitif. Sebab, dilakukan secara massal dan demi tujuan ibadah yang mulia.

Berdasarkan prinsip dan aturan internasional, Arab Saudi sebagai tuan rumah ibadah haji bertanggung jawab terhadap keamanan seluruh jemaah haji yang datang dari berbagai negara dunia. Oleh karena itu, pemerintah Al Saud harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menunaikan kewajibannya itu sesuai ketentuan internasional dengan mematuhi standar keamanan dan prosedur pengamanan, serta hak dan kebebasan setiap jemaah haji.

Sesuai prinsip dan aturan internasional, setiap negara tidak boleh melakukan intervensi baik langsung maupun tidak langsung terhadap kedaulatan negara lain. Dari sini, tanggung jawab keamanan setiap warga negara asing yang mengunjungi Saudi berada di tangan pemerintah Al Saud. Arab Saudi sebagai tuan rumah ibadah haji harus menjalankan tanggung jawabnya melindungi keamanan setiap warga asing yang mengunjungi negaranya.

Sejumlah laporan menunjukkan bahwa personil yang dikerahkan untuk mengamankan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini sejak Raja Salman berkuasa mengalami penurunan drastis dari 60.000 personil menjadi 20.000 orang. Dilaporkan perang Yaman sebagai penyebab utamanya. karena sebagian pasukan dikerahkan untuk menyerang Yaman.

Tragedi Mina memerlukan pengusutan serius. Buruknya manajemen merupakan sebuah realitas yang mengundang protes banyak pihak terutama dari bangsa-bangsa muslim. Sayangnya, negara-negara Muslim hanya sebatas menyampaikan penyesalan atas terjadinya insiden-insiden berdarah di musim haji, dan setelah itu mereka melunak dan menguap begitu saja. Sikap arogan pemerintah Saudi dalam menyikapi setiap tragedi di Tanah Suci harus dirunut pada cara Kerajaan Al Saud memandang manusia. Kematian seorang Muslim bagi rezim Al Saud merupakan sebuah insiden biasa dan mereka sama sekali tidak merasa harus bertanggung jawab atau meminta maaf.

 

Arogansi mereka dapat disaksikan di Yaman. Di bulan haram (Dzulhijjah) tahun lalu, militer Saudi tetap membombardir negara tetangganya itu dan membunuh ribuan warga Yaman. Salah satu akar masalahnya terletak pada pemikiran takfiri dalam doktrin Wahabi yang dianut oleh rezim Al Saud. Pasalnya, semua mazhab-mazhab Islam kecuali Wahabi dianggap sesat, dan secara khusus, darah pengikut Syiah sah untuk ditumpahkan.

 

Masyarakat dunia menyaksikan kejadian memilukan dan insiden tragis yang menimpa jamaah haji di Mina. Publik dunia mengenang Keluarga Al Saud sebagai sebuah kelompok yang tidak memiliki komitmen dan tanggung jawab dalam pelaksanaan ritual ibadah terbesar kaum Muslim di tanah yang paling suci di dunia.Negara-negara Islam perlu mengambil sikap tegas untuk mendorong investigasi independen atas tragedi Mina dan mengingatkan tanggung jawab rezim Al Saud dalam menjamin keamanan dan keselamatan para tamu Allah Swt.