Perang Dagang Amerika dan Cina
https://parstoday.ir/id/radio/world-i54692-perang_dagang_amerika_dan_cina
Pemerintah Cina baru-baru ini mengeluarkan peringatan, jika barang-barang impor negara ini ke Amerika Serikat dikenai tarif baru, maka langkah serupa akan dilakukan terhadap produk Amerika yang masuk Cina.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 08, 2018 09:54 Asia/Jakarta

Pemerintah Cina baru-baru ini mengeluarkan peringatan, jika barang-barang impor negara ini ke Amerika Serikat dikenai tarif baru, maka langkah serupa akan dilakukan terhadap produk Amerika yang masuk Cina.

Duta Besar Cina untuk Amerika, Cui Tiankai mengumumkan, jika Washington menerapkan biaya tarif impor lebih besar terhadap produk Cina, maka Beijing akan melakukan langkah serupa untuk membalas. Tiankai mengancam, segala bentuk penerapan tarif impor baru oleh Amerika akan mendapat balasan setimpal dari Cina.

Statemen itu disampaikan sehari setelah Beijing memberlakukan tarif impor baru untuk 128 produk Amerika. Pemerintah Cina mengambil keputusan tersebut sebagai respon atas langkah terbaru Presiden Amerika, Donald Trump yang menerapkan tarif impor baru atas produk baja dan alumunium termasuk dari Cina. Trump melakukan langkah itu diduga untuk mengatasi defisit neraca perdagangan sekitar 800 milyar dolar, yang 500 milyar dolarnya merupakan transaksi bisnis dengan Cina.

Gedung Putih melancarkan perang dagang di antara dua kekuatan besar ekonomi dunia untuk menciptakan keseimbangan dalam transaksi perdagangannya dan untuk keluar dari tekanan defisit neraca perdagangan. Lalu seberapa besar kemungkinan pecahnya perang dagang ini dan siapa yang akan keluar menjadi pemenang dalam perang ini ?

Amerika dan Cina

Amerika merupakan salah satu kekuatan ekonomi dunia terbesar dengan PDB estimasi tahun 2018 sekitar 20,2 triliun dolar. Pada saat yang sama, tidak ada satu negara dunia pun yang seperti Amerika mengalami defisit neraca perdagangan sedemikian besar. Rakyat Amerika setiap tahunnya mengkonsumsi barang dan jasa impor dengan nilai sekitar 800 milyar dolar, lebih besar ketimbang ekspor negara itu.

Tingginya tingkat konsumerisme di Amerika, turunnya kualitas produksi dalam negeri, berkurangnya kemampuan bersaing dengan produk impor dan kebijakan manajemen bisnis yang keliru, dituding sebagai faktor-faktor penyebab defisit tersebut. Angka defisit neraca perdagangan Amerika setiap tahun terus bertambah. Padahal hingga setengah abad lalu, Amerika adalah negara pemberi utang dan pemilik cadangan valuta asing dan emas terbesar di dunia, namun sekarang berubah menjadi negara dengan utang paling besar.

Parahnya lagi negara pemberi utang terbesar ke Amerika justru adalah rival terdekatnya sendiri yaitu Cina (data tahun 2013). Untuk keluar dari kondisi ini, Donald Trump mewakili kubu nasionalis dalam perekonomian Amerika dengan slogannya "America First", berusaha merusak sistem ekonomi global dan melancarkan perang terhadap rival-rival bisnisnya. Akan tetapi, mulai dari sekarang sudah terlihat keraguan serius soal keberhasilan strategi ini.

Perang dagang di antara bangsa dan negara dunia, bukan hal baru. Sejak dahulu kala, masyarakat manusia sudah terlibat dalam persaingan ekonomi. Beberapa persaingan ini berujung dengan perang fisik dan pembantaian. Sejarawan menilai, salah satu sebab munculnya perang dunia pertama adalah persaingan bisnis Inggris dan Jerman, dan keterlibatan Amerika dalam perang dunia kedua dipicu oleh persaingan bisnis negara ini dengan penguasa Jepang di Asia Timur.

Akan tetapi pasca PD II, kekuatan-kekuatan besar dunia berusaha menghindari konfrontasi militer dan mengubahnya menjadi perang ekonomi, lewat pendirian organisasi-organisasi internasional seperti IMF, Bank Dunia dan organisasi tarif internasional yang di kemudian hari berubah menjadi Organisasi Perdagangan Dunia, WTO.

Selama ini, beberapa perang dagang di antara kekuatan ekonomi terbesar dunia sempat terjadi, terbaru adalah perang dagang Amerika dengan Cina, pasca naiknya Donald Trump. Di tahun 2003, mantan presiden Amerika, George W. Bush dengan dalih serupa yang diutarakan Trump, menerapkan tarif impor produk baja dan alumunium dari Cina dengan harapan bisa mendongkrak produksi dalam negeri Amerika.

Namun sekitar dua tahun setelahnya, seiring meningkatnya aksi balasan Cina, Bush mencabut kebijakan tersebut dan hubungan kedua negara kembali berjalan sesuai aturan WTO. Realitasnya dalam 15 tahun terakhir, masalah ekonomi Amerika dan Cina terus memburuk. Amerika menuduh Cina sengaja memainkan harga mata uang Yuan dengan maksud menjaga nilai produk ekspornya agar tetap rendah dan menghambat masuknya barang impor dari negara lain. Sementara Cina, menganggap alasan defisit perdagangan yang lebih besar Amerika adalah menurunnya efisiensi di bidang ekonomi dan meningkatnya permintaan dalam negeri negara itu.

Tak bisa dipungkiri saat ini, dunia sedang berhadapan dengan kemungkinan pecahnya perang dagang di antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Amerika menerapkan tarif impor baru untuk produk baja senilai 10 persen dan untuk alumunium 25 persen. Sebelumnya, negara ini juga memberlakukan tarif impor untuk produk panel surya dari Cina dan mesin cuci dari Korea Selatan. Trump mengancam, jika Cina tidak menghentikan "pencurian" dari Amerika, maka barang dan jasa impor Cina senilai 60 milyar dolar akan dikenakan tarif baru.

Baja dari Cina

Membalas ancaman itu, Cina memberlakukan tarif baru sebesar 15 persen untuk produk impor dari Amerika termasuk buah dan kacang-kacangan, minuman keras dan pipa baja, dan 25 persen untuk produk seperti daging babi dan alumunium daur ulang. Diperkirakan tiga milyar dolar volume perdagangan Cina-Amerika, akan masuk dalam kebijakan baru Beijing ini. Akan tetapi mengingat volume transaksi bisnis kedua negara yang mencapai triliunan dolar, jumlah tiga milyar dinilai sangat kecil. Namun demikian, Cina bermaksud menerapkan tarif baru atas produk-produk yang dianggap memberikan dukungan langsung terhadap Trump.

Donald Trump berulangkali mengumumkan tekadnya untuk mengubah perekonomian nasional Amerika dan membuka lapangan kerja baru di negara itu. Ia mengklaim dalam waktu satu tahun, akan terbuka tiga juta kesempatan kerja baru di Amerika. Terlepas dari benar atau tidaknya klaim tersebut, banyak kalangan di dalam maupun di luar Amerika meyakini bahwa penerapan tarif impor barang dan jasa baru justru akan merugikan perekonomian negara ini.

Salah satu contohnya, impor produk baja dan alumunium yang sedikitnya membantu membuka 150 ribu lapangan kerja di Amerika. Di sisi lain, langkah balasan rival-rival Amerika atas kebijakan Trump diprediksi akan mempengaruhi setidaknya lima juta kesempatan kerja di sektor industri, pertanian dan jasa negara ini.

Lebih dari itu, meningkatnya harga barang yang dibuat dari bahan alumunium dan baja impor, diduga akan menambah biaya hidup warga Amerika termasuk buruh pabrik baja dan memaksa sebagian perusahaan Amerika  memberhentikan pekerjanya untuk menutupi kerugian yang ditimbulkan dari perang dagang tersebut. Oleh karena itu, Trump terpaksa mengecualikan impor produk baja dan alumunium dari Kanada, Australia, Uni Eropa dan beberapa negara lain dari tarif baru.

Hal ini juga membuktikan bahwa target asli kebijakan ekonomi Trump adalah Cina. Namun Cina sendiri bukan pengeskpor utama baja dan alumunium ke Amerika dan tarif baru yang diberlakukan Trump tidak terlalu mempengaruhi neraca perdagangan kedua negara. Sepertinya, penerapan tarif impor baru Amerika atas baja dan alumunium adalah pendahuluan dari kebijakan Trump yang lebih besar untuk melawan kekuatan bisnis Cina.

Maka tak heran jika Cina membalas menerapkan tarif impor baru atas 128 produk Amerika untuk menghentikan langkah negara itu, terutama tarif impor daging babi dari Amerika sebesar 25 persen. Langkah ini memberikan pukulan keras terhadap sektor peternakan Amerika di daerah pedesaan.

Cina adalah importir terbesar kedua daging babi Amerika di dunia dan Beijing berharap tekanan ini pada akhirnya bisa menyasar Trump secara langsung. Terlebih dalam beberapa bulan ke depan, Amerika akan menggelar pemilu sela, dan Partai Republik yang akan berjuang mempertahankan mayoritasnya di Kongres dan DPR, berharap pada suara penduduk pedesaan yang merupakan basis kubu konservatif.

Perang dagang Amerika dan Cina

Tidak diragukan pihak yang paling dirugikan dalam perang dagang ini adalah sistem perdagangan dunia. Sistem yang berlandaskan pada perdagangan bebas, dicabutnya hambatan cukai, aliran investasi bebas dan penggabungan semakin banyak pasar. Pihak yang bertugas menjaga keberlangsungan sistem ini adalah WTO yang sejak dua dekade terakhir dinilai menjadi motor penggerak perekonomian dunia.

Di sisi lain, penerapan kebijakan ekonomi proteksionis Trump, aksi Brexit oleh Inggris dan langkah balasan Cina, dinilai bisa mengancam kelangsungan sistem perdagangan bebas ini dan mendorong dunia ke dalam perang dagang. Mungkin saja perang dagang ini berujung dengan konfrontasi militer seperti sebelumnya dan mengancam keselamatan ratusan juta warga dunia.  

Direktur IMF, Christine Lagarde mengatakan, tidak ada pemenang dalam sebuah perang dagang dan jika dilakukan aksi balasan penerapan tarif impor oleh negara-negara lain terhadap Amerika, maka perekonomian dunia akan menanggung dampak serius. Hal senada disampaikan Perdana Menteri Cina, Le Keqiang, perang dagang antara Cina dan Amerika tidak punya pemenang.