Netanyahu: Saya dan Trump Memiliki Metode yang Berbeda
-
Benjamin Netanyahu
Pars Today - Perdana Menteri Rezim Zionis dalam sebuah wawancara mengatakan: Saya dan Trump memiliki metode yang berbeda.
Dilansir dari Kantor Berita Mehr yang mengutip Al Jazeera, Perdana Menteri rezim Zionis, Benjamin Netanyahu, dalam wawancaranya dengan jaringan berita Fox News hari Senin (6/7) menyatakan: “Belum ada jadwal yang ditetapkan untuk pertemuan saya dengan Presiden Amerika Serikat, dan saya berharap dapat memaparkan kepadanya kemajuan yang telah dicapai dalam jalur perdamaian dengan Lebanon.”
Dalam upaya untuk menepis berbagai laporan media arus utama mengenai adanya perselisihan mendalam antara dirinya dan Trump, Perdana Menteri rezim Zionis tersebut berdalih: “Tidak ada perbedaan pendapat yang mendasar dengan Washington; saya dan Presiden Trump memiliki cara penyampaian yang berbeda, namun kami adalah sekutu terbaik satu sama lain.”
Benjamin Netanyahu, yang saat ini menghadapi gelombang demonstrasi besar-besaran dari para pemukim yang menentang kebijakan-kebijakannya yang dinilai tidak efektif di wilayah pendudukan, mengklaim: “Melemahkan Iran akan membuka jalan bagi tercapainya kesepakatan-kesepakatan perdamaian baru, seperti ‘Perjanjian Abraham’. Berbeda dengan Turki, Israel berdiri bersama Amerika Serikat dalam menghadapi Iran.”
Ia menambahkan klaimnya: “Turki adalah negara yang luar biasa, namun kepemimpinannya berada di tangan seseorang yang secara terbuka menyerukan kehancuran Israel. Saya sangat menentang pengiriman jet tempur F-35 ke Turki, karena tindakan ini akan merusak keseimbangan kekuatan yang berpijak pada keunggulan Israel!”
Perlu diketahui bahwa fokus utama kekhawatiran kabinet Netanyahu terhadap Ankara saat ini dipicu oleh menguatnya rumor di media mengenai kemungkinan Amerika Serikat menjual jet tempur generasi kelima F-35 ke Turki. Doktrin keamanan Israel selama ini selalu berpijak pada “Keunggulan Kualitatif Militer” (Qualitative Military Edge) yang mutlak di kawasan. Masuknya F-35 ke dalam armada Turki akan menjadi tantangan bagi supremasi udara Israel terhadap aktor regional lainnya. (MF)