IMF: Harga Minyak tidak akan kembali ke Masa Sebelum Perang Iran
https://parstoday.ir/id/news/daily_news-i192910-imf_harga_minyak_tidak_akan_kembali_ke_masa_sebelum_perang_iran
Pars Today – Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa pasar minyak global tidak akan mencapai stabilitas dan harga seperti sebelum operasi militer terhadap Iran untuk waktu yang lama, karena ketegangan yang terus berlanjut.
(last modified 2026-07-10T09:01:33+00:00 )
Jul 10, 2026 15:57 Asia/Jakarta
  • Harga Minyak Global
    Harga Minyak Global

Pars Today – Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa pasar minyak global tidak akan mencapai stabilitas dan harga seperti sebelum operasi militer terhadap Iran untuk waktu yang lama, karena ketegangan yang terus berlanjut.

Menurut laporan Kantor Berita Mehr yang mengutip Sputnik, Julie Kozack, Direktur Departemen Komunikasi IMF, dalam sebuah konferensi pers menyampaikan prospek yang mengkhawatirkan tentang pasar energi.

 

Dengan menekankan bahwa skenario kembalinya segera ke kondisi damai sebelum perang tidak memiliki tempat dalam proyeksi lembaga ini, ia menyatakan bahwa bahkan dengan kemungkinan perbaikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mulai pertengahan Juli, harga minyak tidak akan kembali ke tingkat sebelum dimulainya operasi AS dan rezim Israel terhadap Iran.

 

Berdasarkan analisis terbaru IMF yang dirilis pada hari Rabu (8/7), rata-rata harga minyak global per barel pada tahun 2026 akan mencapai 89,27 dolar, atau naik sekitar 33 persen, dan akan menyesuaikan menjadi 78,7 dolar pada tahun 2027.

 

Lembaga keuangan ini menekankan bahwa model-model proyeksi ke depan akan secara langsung mempertimbangkan kondisi lapangan di kawasan dan pasar komoditas.

 

Analisis ini dirilis di tengah memuncaknya ketegangan di kawasan. Pada Rabu malam, pasukan teroris AS, dengan dalih palsu bahwa kapal-kapal komersial di Selat Hormuz menjadi sasaran, melancarkan serangan terhadap Iran. Sebagai balasan, pasukan Iran, dalam respons tegas terhadap pelanggaran gencatan senjata oleh Washington, menargetkan pangkalan-pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait dalam operasi pembalasan. (MF)