Begini Jawaban Jubir Kemlu Iran kepada Raja Bahrain
https://parstoday.ir/id/news/iran-i194218-begini_jawaban_jubir_kemlu_iran_kepada_raja_bahrain
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran menulis dalam sebuah unggahan: "Apakah berpihak kepada pihak-pihak yang melakukan agresi militer terhadap sebuah negara Muslim sejalan dengan larangan tegas Al-Qur'an untuk tidak bersekutu dengan orang-orang zalim atau membantu para pelaku agresi?"
(last modified 2026-08-02T04:50:47+00:00 )
Aug 02, 2026 11:47 Asia/Jakarta
  • Begini Jawaban Jubir Kemlu Iran kepada Raja Bahrain

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran menulis dalam sebuah unggahan: "Apakah berpihak kepada pihak-pihak yang melakukan agresi militer terhadap sebuah negara Muslim sejalan dengan larangan tegas Al-Qur'an untuk tidak bersekutu dengan orang-orang zalim atau membantu para pelaku agresi?"

Menurut Pars Today, mengutip Kantor Berita IRIB, Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran, pada Sabtu malam dalam sebuah unggahan di jejaring sosial X menulis: "Iran adalah sebuah bangsa dengan peradaban kuno dan kaya yang menerima Islam, dan pada abad-abad berikutnya menjadi salah satu pilar utama dalam pembentukan serta perkembangan peradaban Islam. Iran berperan dalam berbagai bidang, mulai dari fikih dan hadis hingga filsafat, kedokteran, matematika, dan sastra. Tolok ukur keutamaan dalam Islam bukanlah bahasa Arab ataupun kedekatan geografis dengan tanah tempat wahyu diturunkan. Sebagaimana firman Allah Yang Maha Tinggi: 'Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu' (Surah Al-Hujurat: 13). Oleh karena itu, tidak ada seorang penguasa pun yang berhak menjadikan status sebagai penutur bahasa Arab sebagai alasan untuk mengklaim diri sebagai representasi 'Risalah Muhammad SAW', atau menjadikan klaim tersebut sebagai pengganti kepatuhan terhadap ajaran Islam yang jelas.

Republik Islam Iran senantiasa, terlepas dari perbedaan politik, menekankan prinsip bertetangga yang baik dan hubungan persaudaraan di antara bangsa-bangsa Islam, bahkan dalam hubungannya dengan pemerintahan yang baru berdiri dan berkuasa atas sebagian wilayah yang terpisah dari tanah Iran. Sebaliknya, Al-Qur'an dengan tegas memperingatkan: 'Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim' (Surah Hud: 113), yang berarti tidak boleh berpihak kepada atau mendukung orang-orang zalim. Demikian pula, Rasulullah SAW bersabda: 'Barang siapa membantu seorang yang zalim, maka Allah akan menjadikan orang zalim itu berkuasa atas dirinya.'

Oleh karena itu, siapa pun yang berbicara tentang 'Risalah Muhammad SAW' patut terlebih dahulu mengukur tindakan pemerintahnya sendiri dengan tolok ukur tersebut. Apakah berpihak kepada pihak-pihak yang melakukan agresi militer terhadap sebuah negara Muslim sejalan dengan larangan tegas Al-Qur'an untuk tidak bersekutu dengan orang-orang zalim atau membantu para pelaku agresi? Dan apakah menerima musuh-musuh kaum Muslimin serta mendukung agresi militer mereka terhadap negara tetangga Muslim sesuai dengan hak bertetangga dan persaudaraan Islam? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini telah dijelaskan dengan terang dalam Al-Qur'an, ditegaskan oleh sunah Nabi SAW, dan juga disaksikan oleh hati nurani umat Islam."