Indonesia Miliki Logam Tanah Jarang yang Besar
Indonesia memiliki logam tanah jarang alias rare earth yang dicari banyak negara dunia.
Situs Detik Finance hari Selasa (12/4/2022) melaporkan, sumber daya alam ini diklaim memiliki nilai ekonomi yang besar dan dunia sedang berlomba-lomba mencarinya.Logam tanah jarang merupakan mineral ikutan yang bersifat magnetik dan konduktif yang digunakan menjadi komponen utama dalam pemberian daya terhadap sebagian besar perangkat elektronik atau gadget, yakni ponsel, tablet, speaker, dan sebagainya.
Saat ini penggunaan logam tanah jarang juga mulai banyak ditemukan di berbagai sektor, mulai dari untuk bidang kesehatan, otomotif, penerbangan, bahkan hingga industri pertahanan.
Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan Indonesia sebenarnya terlambat mengeksplorasi logam tanah jarang. Maka dari itu, saat ini belum banyak informasi pasti yang bisa didapatkan soal potensi yang ada.
Dia mengatakan sejauh ini ada sekitar delapan lokasi yang terpetakan memiliki kandungan rare earth di Indonesia. Itu pun masih baru dalam tahap eksplorasi awal.
"Dalam tahapan eksplorasi kita terbatas, dari potensi yang ada keterdapatannya ada di 9 lokasi, dan sudah terpetakan baru di 8 lokasi," ungkap Ridwan.
"Dari 8 lokasi ini baru dilakukan eksplorasi awal secara umum kami sangat terbatas informasinya," katanya.
Dia bilang paling banyak logam tanah jarang berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di pertambangan timah. Ada puluhan bahkan ratusan ribu ton potensi logam tanah jarang di provinsi tersebut.
"Paling banyak memang ada di provinsi Kepulauan Bangka Belitung, khususnya di Bangka Selatan," ujar Ridwan.
Dalam data yang dipaparkan Ridwan, di Bangka Belitung ada potensi logam tanah jarang sebesar 186.663 ton logam tanah jarang dalam bentuk monasit dan 20.734 logam tanah jarang dalam bentuk senotim.
Ada juga logam tanah jarang dalam bentuk laterit di Sulawesi Tengah sebesar 443 ton dan Kalimantan Barat sebesar 219 ton. Ada juga potensi di Sumatera Utara sebesar 19.917 ton.
PT Timah menjadi salah satu perusahaan yang akan mengembangkan pengelolaan logam tanah jarang di Indonesia. Direktur Utama PT Timah Achmad Ardianto mengatakan saat ini pihaknya sedang mencari teknologi untuk mengekstraksi rare earth dari mineral monasit. Mineral tersebut banyak ditemukan di hasil tambang timah.
Achmad mengatakan pihaknya sedang bekerja sama melakukan penelitian teknologi pengolahan logam tanah jarang dengan perusahaan Kanada. Tepatnya dengan Canada Rare Earth Corporation. Kerja sama penelitian dilakukan untuk mencari teknologi yang dapat mengekstraksi rare earth dengan produksi 1.000 ton per tahun.(PH)