Sidang Musiman Dewan Gubernur IAEA
https://parstoday.ir/id/news/iran-i11158-sidang_musiman_dewan_gubernur_iaea
Sidang musiman Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dimulai pada Senin (6/6/2016) di Wina, Austria. Salah satu agenda sidang ini adalah membahas program nuklir damai Republik Islam Iran berdasarkan perjanjian Tehran dengan Kelompok 5+1.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 07, 2016 14:02 Asia/Jakarta
  • Sidang Musiman Dewan Gubernur IAEA

Sidang musiman Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dimulai pada Senin (6/6/2016) di Wina, Austria. Salah satu agenda sidang ini adalah membahas program nuklir damai Republik Islam Iran berdasarkan perjanjian Tehran dengan Kelompok 5+1.

Rencana Aksi Bersama Kompreshensif (JCPOA) sudah disahkan di Dewan Keamanan PBB melalui resolusi 2231 dan program nuklir damai Iran – dengan menerima pembatasan parsial untuk jangka waktu tertentu – secara resmi diakui oleh dunia.

 

Dirjen IAEA Yukiya Amano dalam pidatonya pada pembukaan sidang tersebut, menegaskan bahwa Iran di bawah resolusi 2231 Dewan Keamanan dan resolusi-resolusi terkait, telah melaksanakan komitmennya sesuai JCPOA. Ia menambahkan, pengawasan atas pelaksanaan perjanjian nuklir masih berada di permulaan jalan dan kelanjutan proses ini menuntut komitmen semua pihak.

 

"Pada bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang, komitmen yang kuat dari semua pihak diperlukan untuk membuat implementasi berkelanjutan," tegas Amano kepada Dewan Gubernur IAEA.

 

Berdasarkan perjanjian Iran dan Kelompok 5+1, berkas nuklir Republik Islam ditarik dari agenda Dewan Keamanan PBB dan sanksi-sanksi yang terkait nuklir juga dihapus, dan hanya IAEA sebagai sebuah lembaga ahli akan terlibat aktif dalam konteks tugas dan aturan internasional di bidang nuklir.

 

Iran sudah memenuhi semua komitmennya berdasarkan nota kesepakatan dengan Kelompok 5+1, tetapi Amerika Serikat – sebagai salah satu pihak utama dalam perjanjian ini – tidak melaksanakan komitmennya dan bahkan para bakal calon Presiden Amerika sudah sering melontarkan kritik terhadap kesepakatan tersebut.

 

Pemerintah AS sedang memanfaatkan perjanjian nuklir sebagai alat politik dan propagandanya. Mereka memperkenalkan JCPOA sebagai salah satu prestasinya dalam pelarangan penyebaran senjata nuklir. Padahal, program nuklir Iran sejak awal bertujuan damai dan Republik Islam – dengan menerima perundingan dan perjanjian nuklir – ingin membuktikan kebohongan propaganda AS, yang menuding Iran sedang mengejar program nuklir militer.

 

Meskipun perjanjian nuklir telah menciptakan batasan tertentu untuk Iran, namun seluruh infrastruktur nuklir damainya akan tetap terjaga dan program nuklir Iran – sesuai jadwal yang telah ditetapkan – akan dilanjutkan kembali untuk mencapai produksi 20 ribu megawatt listrik nuklir.

 

Jika dunia terancam oleh nuklir, maka ancaman itu datang dari AS dan para pemilik lain senjata nuklir. AS sedang berusaha untuk memproduksi generasi baru bom atom untuk digunakan dalam perang skala kecil dengan tingkat kerusakan terbatas. AS sekarang memiliki 7.650 hulu ledak nuklir yang siap dipasang di rudal dan sejauh ini telah melakukan sekitar 1.054 uji coba nuklir.

 

Ancaman nuklir yang dihadapi dunia tidak hanya datang dari Korea Utara dan Pakistan, di mana para pejabat AS selalu berbicara tentang upaya mencegah ancaman nuklir negara tersebut. Rezim Zionis Israel – sebagai satu-satunya pemilik senjata atom di Timur Tengah – tidak pernah disinggung oleh AS.

 

Pemerintah AS memandang wacana larangan penyebaran senjata nuklir sebagai alat kepentingannya, sama seperti pendekatan mereka dalam masalah hak asasi manusia dan terorisme.

 

AS ingin dirinya dan sekutu-sekutunya termasuk Israel, sebagai satu-satunya para pemilik senjata nuklir dan menegaskan superioritas militernya. (RM)