Begini Para Ilmuwan Iran Mengecoh AS; Rahasia Formula Syahid Shahriari
https://parstoday.ir/id/news/iran-i169662-begini_para_ilmuwan_iran_mengecoh_as_rahasia_formula_syahid_shahriari
Parstoday – Pencapaian Iran, ke uranium 20 persen adalah pengalaman bersejarah dari penipuan dan hambatan-hambatan yang diciptakan oleh kekuatan-kekuatan dunia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 27, 2024 16:09 Asia/Jakarta
  • Begini Para Ilmuwan Iran Mengecoh AS; Rahasia Formula Syahid Shahriari

Parstoday – Pencapaian Iran, ke uranium 20 persen adalah pengalaman bersejarah dari penipuan dan hambatan-hambatan yang diciptakan oleh kekuatan-kekuatan dunia.

Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya dengan memanfaatkan kebutuhan urgen Iran, atas bahan bakar nuklir, berusaha membatasi kemampuan ilmu pengetahuan Tehran. Tapi dengan bertumpu pada pengetahuan dan kemampuan dalam negeri, para ilmuwan Iran, berhasil menggagalkan konspirasi ini.
 
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Khamenei, dalam pertemuan terbarunya dengan anggota Basij, menyinggung salah satu titik balik dalam sejarah sains dan nuklir Iran.
 
Rahbar mengatakan, "Mereka yang berhasil menggagalkan konspirasi keji Amerika Serikat dalam masalah uranium yang diperkaya 20 persen adalah anggota Basij."
 
Surat kabar Farhikhtegan, menulis, "Penjelasan Rahbar, mengingatkan kita tentang peristiwa penting di tahun-tahun dekade 80-an (kalender Persia atau akhir tahun 2000) ketika Iran, berhadapan dengan sanksi dan hambatan-hambatan adidaya dunia, yang dengan bersandar pada para ilmuwan Basij, berhasil menguasai teknologi produksi uranium 20 persen."
 
Ditambahkannya, "Dalam masalah ini Turki dan Brasil, muncul sebagai mediator, tapi pada akhirnya upaya kedua negara itu kandas karena tekanan-tekanan AS, sehingga hal ini menjadi justifikasi bagi Iran, untuk menunjukkan kemampuannya memproduksi uranium 20 persen."
 
Menurut Farhikhtegan, akses Iran, ke teknologi untuk memproduksi uranium 20 persen adalah titik balik dalam sejarah nuklir Iran, dan simbol kemajuan ilmu pengetahuan dan tekad nasional. Keberhasilan yang dicapai di tengah kondisi sanksi dan tekanan-tekanan hebat yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuktikan bahwa Iran, mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan vitalnya sekalipun di kondisi yang paling sulit.
 
 
AS Setop Satu-Satunya Pemasok Bahan Bakar Nuklir Iran
 
Pada akhir dekade 80-an (kalender Persia), Iran, menghadapi sebuah krisis serius. Reaktor riset Tehran yang sudah dioperasikan sejak tahun 1340 Hijriah Syamsiah (1961) untuk memproduksi isotop-isotop radiofarmaka, dan untuk melakukan penelitian ilmiah, membutuhkan bahan bakar uranium 20 persen.
 
Reaktor ini pada tahun 1961 dibangun oleh AS, dan hingga menjelang Revolusi Islam, bahan bakarnya dipasok dari negara itu. Akan tetapi setelah kemenangan Revolusi Islam, Iran, memenuhi kebutuhan bahan bakar reaktor ini dari negara-negara lain termasuk Argentina.
 
Pada tahun 2008, seiring dengan habisnya cadangan uranium 20 persen, Iran, mengajukan permintaan pembelian bahan bakar baru. Saat itu, AS yang menyadari urgensitas strategis masalah ini, menekan Argentina, untuk tidak menjual bahan bakar reaktor nuklir ke Iran.
 
Langkah AS tersebut menempatkan Iran, pada posisi yang terpaksa harus mematikan reaktor Tehran, atau mencari jalan lain. Matinya reaktor ini berarti bahwa produksi radiofarmaka berhenti, dan ini mengancam ribuan nyawa pasien di Iran.
 
 
Permaian Iran dengan Kartu Truf Turki dan Brasil
 
Dalam rangka menyelesaikan masalah ini, Iran, memasuki perundingan dengan negara-negara anggota Kelompok Wina (AS, Prancis dan Rusia). Negara-negara ini mengusulkan pertukaran uranium yang sudah dikayakan 3,5 persen milik Iran, dengan uranium 20 persen.
 
Berdasarkan hal itu, Iran, harus mengirimkan 1.200 kilogram uranium 3,5 persen miliknya ke Rusia, dan setelah satu tahun, akan menerima 120 kilogram uranium 20 persen. Akan tetapi usulan ini ditolak Iran, dengan berbagai alasan. 
 
Pertama, negara-negara Barat, tidak memberikan jaminan penyerahan bahan bakar di waktu yang sudah ditetapkan. Kedua, pengalaman di masa lalu seperti pelanggaran komitmen Prancis, dalam proyek reaktor nuklir Bushehr, telah memperkuat ketidakpercayaan Iran.
 
Sebaliknya Iran, mengusulkan supaya pertukaran ini dilakukan di dalam wilayah Iran, atau negara ketiga, seperti Turki. Dalam hal ini Iran, membuka jalan bagi Turki dan Brasil, yang memiliki hubungan baik dengan Tehran, untuk masuk ke dalam masalah tersebut sebagai mediator.
 
Sesuai dengan rencana yang kemudian menjadi dasar Pernyataan Tehran,1.200 kilogram uranium 3,5 persen Iran, dikirim ke Turki, dan Iran, menerima 120 kilogram uranium 20 persen. Selain itu, Iran juga berhak mengambil uraniumnya dari Turki kapan pun.
 
Presiden Turki dan Brasil, sebelum pernyataan ini ditandatangani, memberitahu Presiden AS Barack Obama, tapi setelah pernyataan dirilis, Obama, meski sudah mengetahui citra negaranya akan rusak, tetap menolak pernyataan tersebut.
 
AS menyadari bahwa penarikan Rusia, dari proses pertukaran nuklir oleh Iran, dapat membuka peluang kerja sama Kremlin dan Washington, untuk mengambil langkah bersama melawan Republik Islam.
 
Maka dari itu, Obama, meski menyadari dampak negatif menolak Pernyataan Tehran, terhadap citra negaranya, namun tetap mengambil risiko itu supaya bisa merilis resolusi anti-Iran, dan menarik dukungan Rusia, tapi tidak menyadari bahwa langkah ini justru menguntungkan Iran.
 
 
AS pun Mengikuti
 
Iran, dengan menonjolkan perilaku tidak jujur AS, telah membuka kesempatan untuk menarik dukungan Badan Energi Atom Internasional, IAEA, dan meyakinkan opini publik dunia terkait urgensitas produksi uranium 20 persen di dalam negaranya.
 
Barat yang tidak menduga Iran, mampu dengan cepat mencapai teknologi produksi uranium 20 persen, sangat terkejut. Negara-negara Barat, yang berusaha menekan Iran, secara politik dan ekonomi untuk terpaksa menerima syarat-syarat yang ditetapkannya, sekarang berhadapan dengan sebuah negara yang secara mandiri memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
 
Pada bulan Agustus 2010, Iran, mengumumkan sudah berhasil memproduksi 25 kilogram uranium 20 persen. Angka ini terus bertambah dari tahun ke tahun, dan Iran, berhasil memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam negerinya secara keseluruhan.
 
 
Syahid Shahriari Buka Kunci Produksi Bahan Bakar Nuklir
 
Keberhasilan Iran, mencapai teknologi pengayaan uranium 20 persen, berutang pada kerja keras para ilmuwan Basij negara ini terutama Syahid Majid Shahriari. Beliau dengan merancang dan menyambungkan dua riam sentrifugal (centrifuge cascade), mampu mengoperasikan formula kompleks pengayaan uranium lima persen ke 20 persen.
 
Proses yang membutuhkan akurasi dan kontrol yang sangat tinggi ini merupakan salah satu kesulitan pada fase produksi bahan bakar nuklir. Selain itu, Syahid Shahriari, berhasil memproduksi lempengan-lempengan bahan bakar yang sangat dibutuhkan dalam uranium 20 persen di reaktor nuklir. Prestasi ini, menjadikan Iran, mandiri dalam memproduksi bahan bakar nuklir.
 
 
Pelajaran-Pelajaran dari Sebuah Pengalaman Bersejarah
 
Pencapaian Iran, pada uranium 20 persen adalah sebuah pengalaman bersejarah dari penipuan dan hambatan-hambatan kekuatan-kekuatan dunia. 
AS, dan sekutu-sekutunya dengan memanfaatkan kebutuhan urgen Iran, atas bahan bakar nuklir, berusaha membatasi kemampuan ilmu pengetahuan Tehran. Tapi dengan bertumpu pada pengetahuan dan kemampuan dalam negeri, para ilmuwan Iran, berhasil menggagalkan konspirasi ini.
 
Langkah AS ini menunjukkan bahwa tujuan asli bukanlah menyelesaikan masalah Iran, tapi membatasi kemampuan nuklir, dan menguras cadangan uranium terkayakan Iran. Selain itu, peran mediator yang dimainkan Turki dan Brasil, menunjukkan bahwa bahkan upaya jujur untuk menyelesaikan perseteruan juga gagal karena tekanan AS dan sekutu-sekutunya.
 
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi diplomasi global, bahwa bersandar pada kemampuan dalam negeri adalah jalan terbaik untuk menghadapi tekanan-tekanan asing. (HS)