Maraton Diplomasi di Jenewa: Pencabutan Sanksi Target Utama
https://parstoday.ir/id/news/iran-i185562-maraton_diplomasi_di_jenewa_pencabutan_sanksi_target_utama
ParsToday - Delegasi Republik Islam Iran yang dipimpin Sayid Abbas Araghchi, dalam hitungan jam akan memasuki putaran kedua dialog nuklir dengan Amerika Serikat. Target utamanya adalah pencabutan sanksi zalim dan pencapaian kesepakatan yang memenuhi kepentingan bangsa dan negara Iran.
(last modified 2026-02-17T10:03:26+00:00 )
Feb 17, 2026 15:05 Asia/Jakarta
  • Rafael Grossi dan Sayid Abbas Araghchi
    Rafael Grossi dan Sayid Abbas Araghchi

ParsToday - Delegasi Republik Islam Iran yang dipimpin Sayid Abbas Araghchi, dalam hitungan jam akan memasuki putaran kedua dialog nuklir dengan Amerika Serikat. Target utamanya adalah pencabutan sanksi zalim dan pencapaian kesepakatan yang memenuhi kepentingan bangsa dan negara Iran.

Melaporkan dari koresponden IRNA di Jenewa, Selasa, 17 Februari 2026, pencabutan sanksi dan pengamanan kepentingan negara menjadi poros utama pembahasan dalam kunjungan Menteri Luar Negeri dan delegasi pendamping.

Sayid Abbas Araghchi Selasa pagi bertemu dengan Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dalam pertemuan tersebut, ia menyampaikan pandangan dan pertimbangan teknis Republik Islam Iran mengenai proses negosiasi nuklir.

Ia juga dalam pertemuan dengan Badr bin Hamad Al Busaidi, Menteri Luar Negeri Oman yang berperan sebagai mediator dialog tidak langsung Iran-AS, menjelaskan posisi dan pertimbangan Tehran mengenai isu nuklir dan pencabutan sanksi.

Menteri Luar Negeri Iran, seraya mengapresiasi upaya Oman dan pribadi Menteri Luar Negeri negara ini dalam membantu memajukan proses diplomatik, menekankan tekad dan keseriusan Republik Islam Iran untuk memanfaatkan diplomasi berorientasi hasil guna mengamankan kepentingan dan hak sah bangsa Iran serta menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.

Menteri Luar Negeri Oman, merujuk pada hubungan bersahabat dan panjang antara Muscat dan Tehran serta peran Republik Islam Iran dalam menjaga dan meningkatkan perdamaian serta stabilitas kawasan, memuji pendekatan Iran dalam melanjutkan jalur diplomasi. Ia menyatakan harapan agar putaran dialog ini mencapai hasil yang diinginkan.

Sayid Abbas Araghchi dan Badr bin Hamad Al Busaidi

Dengan menjelaskan pendekatan konsisten negaranya dalam mendukung diplomasi, ia menekankan keberlanjutan peran Oman dalam upaya-upaya yang berkontribusi pada keamanan, perdamaian, dan stabilitas kawasan serta menjauhkan bangsa-bangsa dari konsekuensi perang dan konflik.

Berdasarkan laporan, kedua pihak menekankan pentingnya upaya memperkuat peluang saling pengertian dan mencapai kesepakatan yang memenuhi tujuan dan harapan para pihak yang bernegosiasi.

Putaran baru dialog dengan dua syarat dimulai setelah jeda beberapa bulan, sejak 5 Februari 2026, melanjutkan proses yang sebelumnya terhenti pascaperang 12 hari.

Keputusan Republik Islam Iran untuk kembali ke jalur dialog diambil setelah kontak dan konsultasi beberapa negara kawasan dengan Presiden Iran serta penekanan mereka pada peran diplomasi sebagai jalan mengelola perbedaan pendapat.

Republik Islam Iran memasuki proses dialog setelah menerima pesan jelas dari pihak lawan bahwa topik negosiasi hanya sebatas isu nuklir. Berdasarkan ini, Tehran mengajukan dua syarat untuk hadir dalam proses ini: penerimaan prinsip pengayaan dan pembatasan dialog hanya pada berkas nuklir.

Kerangka ini, berbeda dengan pencitraan media Barat, diterima oleh pihak lawan. Republik Islam Iran juga memperingatkan bahwa jika syarat-syarat ini diabaikan atau jalur negosiasi menyimpang dari isu nuklir, kelanjutan dialog tidak akan ditempuh oleh Tehran.

Namun, ketidakpercayaan masih menjadi salah satu simpul utama di jalur negosiasi. Perilaku dan pernyataan kontradiktif pihak Amerika, di samping gerak-gerik elemen perang di Amerika dan kalangan terafiliasi rezim Israel, mempengaruhi proses diplomatik.

Berdasarkan informasi yang diterima, perubahan berulang dalam sikap pihak Amerika, pesan-pesan kontradiktif, serta terbatasnya kehadiran delegasi mereka hanya beberapa jam di lokasi dialog, dianggap sebagai indikasi kurangnya keseriusan politik dan tidak adanya pendekatan profesional dalam memajukan jalur diplomasi dari pihak lawan.

Meskipun demikian, Republik Islam Iran tetap memandang negosiasi sebagai instrumen utama untuk mengelola ketegangan dan memajukan kepentingan nasional. Tim negosiator Iran menekankan pentingnya waktu dan urgensi keseriusan dalam dialog. Menteri Luar Negeri Iran berulang kali menyatakan bahwa Tehran siap mencapai kesepakatan yang adil dan berimbang, dengan syarat pihak lawan juga menunjukkan kemauan politik, pendekatan realistis, dan kesiapan memberikan hasil nyata.

Kini perhatian tertuju pada pendekatan Washington di lapangan. Republik Islam Iran hadir dalam dialog ini dengan pendekatan bertanggung jawab dan penuh keseriusan, serta menegaskan bahwa jika pihak Amerika memiliki kemauan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang adil dan dapat diandalkan, tercapainya saling pengertian akan mungkin.(sl)