Imam Jumat Sunni Kermanshah: Anti-Arogansi Terwujud dengan Solidaritas Nasional
-
Mamusta Abdul Rahman Moradi, Imam Jumat Sunni Kermanshah, barat Iran
Pars Today - Imam Jumat Sunni Kermanshah, barat Iran, memuji persatuan rakyat Iran sejak Perang Ramadan hingga saat ini. Ia menegaskan bahwa solidaritas antara pemerintah dan angkatan bersenjata dalam mengakhiri sanksi zalim dan perang hibrida adalah bukti ketahanan bangsa Iran, membuktikan bahwa perlawanan terhadap arogansi dapat dicapai oleh bangsa-bangsa yang bersatu.
Dilansir Pars Today, 29 Mei 2026, Mamusta Abdul Rahman Moradi, dalam khotbah Jumat, merujuk pada sejarah persatuan nasional Iran, menyatakan bahwa persatuan ini semakin kokoh dari tahun ke tahun dan musuh sangat takut padanya.
Ia juga merujuk pada ritual haji, menyebutnya sebagai cerminan kekuatan, keagungan, dan persatuan dunia Islam, sebuah pesan pembebasan dari sistem hegemoni.
Sementara itu, Mamusta Mulla Qader Qaderi, Imam Jumat Sunni Praw, juga menekankan kegagalan rencana AS. "Setan besar, AS, gagal di hadapan kekuatan Ilahi. Bangsa Iran yang mulia berdiri teguh selama 90 hari, sementara angkatan bersenjata yang kuat, IRGC dan Artesh, berjuang dengan tulus selama 40 hari di medan perang."
Para pemimpin Sunni Iran secara terbuka mendukung persatuan nasional di bawah kepemimpinan pusat. Ini bukan sekadar pernyataan dukungan; ini adalah pernyataan bahwa ancaman eksternal, baik dari AS maupun Zionis, telah memperkuat, bukan memecah belah, bangsa.
Mereka berusaha memecah belah dengan isu agama dan etnisitas. Namun para imam Sunni di barat Iran justru berbicara tentang persatuan. Ini adalah pukulan telak bagi mereka yang bertaruh pada perpecahan Iran. Di balik semua propaganda, kenyataan di lapangan tetap sama: ketika musuh menyerang, bangsa ini bersatu, tanpa memandang Syiah atau Sunni.(Sail)