Hatami: Musuh Paham, Iran Harus Dihormati
-
Jenderal Hatami
Pars Today - Panglima Artesh Republik Islam Iran dalam pertemuan dengan keluarga Syahid Sepahbod Mohammad Bagheri, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran yang gugur syahid, mengatakan, "Kemenangan bangsa Iran atas musuh-musuh akan diperteguh."
Melansir Pars Today dari IRNA, 15 Juni 2026, Amir Sarlashkar Amir Hatami, Panglima Artesh Republik Islam Iran, dalam pertemuan dengan keluarga Syahid Sepahbod Mohammad Bagheri, almarhum Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, yang dilaksanakan dalam rangka peringatan tahun kesyahidannya, mengatakan, "Kami dalam Perang 12 Hari dan perang Ramadan, menghadapi kekuatan terbesar dunia dan kekuatan yang kejam dan kriminal yang menyertainya. Musuh-musuh mengira bahwa mereka dapat memberikan kerusakan yang sangat serius terhadap sistem suci Republik Islam, Revolusi Islam, dan negara tercinta kami, dan secara istilah mereka datang untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi ternyata mereka memiliki perhitungan dan anggapan yang keliru."
Ia, dengan menyatakan bahwa angkatan bersenjata dan bangsa Iran, berutang budi pada upaya syuhada tercinta dan di kepala mereka, Imam yang syahid dan para komandan kami, termasuk Syahid Bagheri, mengatakan, "Musuh-musuh tidak mampu dan tidak akan mampu mencapai tujuan-tujuan jahat mereka terhadap Iran."
Pelajaran dari Dua Perang
Amir Sarlashkar Hatami, selanjutnya merujuk pada pelajaran yang dipetik dari Perang Ramadan dan 12 Hari, dan menyatakan, "Berkat darah syuhada, kami belajar bagaimana menghadapi musuh yang kriminal dan besar seperti Amerika. Kami belajar untuk tidak menyia-nyiakan bahkan satu momen pun dalam jalur kemajuan, dan sekarang pun, kami berusaha menempatkan musuh di tempatnya, dan insya Allah kemenangan yang telah terwujud ini akan diperteguh."
Ia di akhir, mengatakan, "Kesyahidan Pemimpin Revolusi dan para komandan kami, sangat pahit dan berat, tetapi musuh dengan baik memahami bahwa pohon Revolusi dan hubungan bangsa dengan sistem suci Republik Islam, jauh lebih kuat dari anggapan mereka, dan musuh harus menghormati bangsa Iran, keyakinan mereka, Islam yang tercinta, dan sistem Republik Islam."
Pernyataan Hatami ini adalah perpaduan antara refleksi spiritual dan ketegasan militer. Penyebutan "perang 12 hari" dan "perang Ramadhan" sebagai dua pengalaman yang membentuk mentalitas militer Iran sangat menarik, keduanya adalah momen di mana Iran menghadapi tekanan eksistensial dan keluar sebagai pemenang. Frasa "musuh datang untuk menyelesaikan pekerjaan" adalah referensi halus terhadap strategi "decapitation strike" yang gagal. Dan penutupnya, "musuh harus menghormati Iran", bukan sekadar ancaman, tetapi pernyataan bahwa hormat bukan diminta, tetapi dipaksa oleh realitas. Ini adalah bahasa militer yang berbicara dari posisi kekuatan, bukan kelemahan.(Sail)