Asyura; Kebijaksanaan, Kesetiaan, dan Kehormatan Abadi
https://parstoday.ir/id/news/iran-i192054-asyura_kebijaksanaan_kesetiaan_dan_kehormatan_abadi
Pars Today - Asyura; sebuah mazhab pemikiran di mana kesetiaan kepada darah menyatu, dan 72 syuhada, dengan pilihan sadar akan kehormatan abadi, menjadi lentera petunjuk sejarah.
(last modified 2026-06-25T08:16:32+00:00 )
Jun 25, 2026 15:14 Asia/Jakarta
  • Peringatan Asyura Imam Husein as
    Peringatan Asyura Imam Husein as

Pars Today - Asyura; sebuah mazhab pemikiran di mana kesetiaan kepada darah menyatu, dan 72 syuhada, dengan pilihan sadar akan kehormatan abadi, menjadi lentera petunjuk sejarah.

Menurut laporan Pars Today yang mengutip Kantor Berita Mehr, kebangkitan Asyura adalah titik balik bersejarah dalam kembalinya umat kepada jalan kenabian. Di era di mana bid'ah menggantikan sunnah, Nainiwa berubah menjadi tempat pemurnian untuk memisahkan kebenaran dari kebatilan. Dalam hal ini, peran para sahabat Imam Husain (as) melampaui sekadar pengikut; mereka adalah "saksi-saksi visioner" dari sebuah mazhab yang menunjukkan kesetiaan, pengetahuan, dan ketahanan pada tingkat tertinggi.

 

Kesetiaan di Karbala memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar komitmen moral. Ini adalah manifestasi tertinggi dari "Tawalli dan Tabarri" (cinta dan benci karena Allah) yang berasal dari pengakuan intuitif dan keyakinan para sahabat akan kedudukan kepemimpinan (wilayah). Mereka memandang kematian di sisi Imam bukan sebagai akhir, tetapi sebagai awal dari kehidupan yang baik (hayat tayyibah). Pengetahuan inilah yang menyebabkan pada malam Asyura, ketika Imam membebaskan mereka dari sumpah setia, tidak seorang pun mundur selangkah, dan semuanya berpegang teguh pada janji mereka. Keragaman para sahabat, dari orang tua seperti Habib bin Mazahir hingga pemuda seperti Ali Akbar (as) dan Qasim bin Hasan (as), menunjukkan bahwa jalan menuju puncak ini terbuka untuk setiap usia dan lapisan sosial, dan syaratnya tidak lain adalah kejujuran dan ketulusan.

 

Elemen "kebijaksanaan" (bashirat) juga memainkan peran kunci. Para sahabat, di tengah hiruk-pikuk propaganda Yazid dan serbuan keraguan, tidak kehilangan jalan kebenaran, dan mereka tahu bahwa berdiri di sisi Husain (as) adalah berdiri di barisan kebenaran mutlak, bahkan jika itu harus dibayar dengan nyawa mereka. Kebijaksanaan ini berakar pada pendidikan agama dan hubungan hati dengan Al-Qur'an dan Ahlul Bait.

 

Adegan Karbala adalah manifestasi dari kepatuhan terhadap janji yang diambil Allah dari Bani Adam. Ke-72 orang ini adalah perwakilan dari semua manusia merdeka yang merespons panggilan "Hal min nashir" (Adakah penolong) dari kebenaran. Dalam perhitungan ilahi, angka bukanlah tolok ukur, tetapi kualitas iman dan kedalaman kesetiaanlah yang menentukan. Kesyahidan mereka dengan senyuman dan semangat menunjukkan dominasi ranah pengetahuan atas materi; bagi mereka, Karbala bukanlah tempat pembantaian berdarah, tetapi sebuah tangga menuju Tuhan. Medali kehormatan "sahabat paling setia dan paling berbakti" dari Imam adalah bukti kebenaran ini.

 

Dari aspek sosial, kesetiaan mereka adalah pelajaran besar bagi semua zaman: dalam perjalanan menuju cita-cita ilahi, tidak ada tempat untuk pragmatisme pribadi. Kesetiaan ini menanam benih dalam sejarah yang buahnya muncul dalam kebangkitan-kebangkitan penuntut darah dan gerakan-gerakan penyadaran berikutnya. Asyura adalah kontras antara "akal kehidupan duniawi" dan "akal kehidupan akhirat," dan para sahabat, dengan melampaui akal duniawi, melangkah ke ranah rasionalitas wahyu. Kesetiaan di Karbala menyatu dengan "kesabaran," dan bertahan di tengah kehausan dan kehilangan orang-orang tercinta membutuhkan ketabahan Husaini. Hubungan para sahabat dengan Imam adalah hubungan cinta dan berakar pada pengenalan akan khalifah Allah, dan hubungan inilah yang membuat mereka saling mendahului untuk menjadi pelindung. Pilihan sadar ini di puncak krisis membuktikan bahwa kesetiaan adalah sebuah jalan hidup.

 

Darah yang tertumpah di Karbala adalah penjamin kelangsungan syariat, dan jika bukan karena pengorbanan 72 sahabat, pesan gerakan ini akan terkubur dalam sejarah. Perilaku para sahabat ini, dari yang baru masuk Islam hingga budak, menunjukkan bahwa Karbala adalah pabrik pembentuk manusia di mana ras dan masa lalu tidak penting, dan kesetiaan mengubah tembaga mereka menjadi emas. Asyura, sebagai sebuah "peristiwa transenden," menginspirasi setiap manusia merdeka dalam menghadapi ketidakadilan, dan model kesetiaan ini adalah resep untuk krisis identitas manusia kontemporer. Mereka, dengan melampaui "aku" mencapai "Dia," dan memahami fana fillah (melebur dalam Tuhan), dan melihat Karbala sebagai gerbang menuju surga yang membuat ketakutan menjadi tidak berarti.

 

Salat di bawah hujan anak panah adalah perwujudan nyata dari penghambaan yang menunjukkan bahwa tujuan utamanya adalah beribadah kepada Allah. Kebangkitan Imam adalah satu-satunya jalan untuk membangunkan masyarakat yang tertidur, dan 72 sahabat adalah elit yang memikul beban kebangkitan ini, dan dengan darah mereka, menggarisbawahi ketidakabsahan Bani Umayyah. Momen perpisahan para sahabat dan meminta maaf kepada Imam menunjukkan kerendahan hati di puncak keberanian dan kedalaman pengetahuan mereka. Pada akhirnya, kesetiaan mereka adalah pilihan besar antara kehormatan abadi dan kehinaan, dan dengan pilihan ini, mereka mengukir tempat mereka dalam kehormatan umat manusia.

 

Hari ini, membaca ulang kesetiaan ini sangat penting untuk mempersiapkan kedatangan (Imam Mahdi), dan Karbala mengajarkan bahwa kesetiaan memiliki harga yang harus dibayar. Ke-72 orang ini adalah intisari dari kebajikan manusia, dan sejarah setiap tahun dengan Muharram duduk di meja pengetahuan mereka. Karbala adalah aliran yang mengalir di setiap waktu dan tempat, dan kita juga berada dalam ujian yang serupa. Kesetiaan mereka adalah model dinamis untuk naik dari materialisme ke puncak spiritualitas dan kesiapan untuk arena-arena besar ilahi; inilah kebenaran abadi dari darah Tuhan di seluruh alam semesta. (MF)