Tiga Tujuan AS di Balik Eskalasi, dan Mengapa Iran Tetap Bertahan
https://parstoday.ir/id/news/world-i194356-tiga_tujuan_as_di_balik_eskalasi_dan_mengapa_iran_tetap_bertahan
Pars Today - Pola perilaku Donald Trump, Presiden AS, terhadap Republik Islam Iran sedemikian rupa sehingga mengarah pada kelanjutan jalur krisis dalam hubungan Washington dan Tehran.
(last modified 2026-08-05T03:56:29+00:00 )
Aug 05, 2026 10:44 Asia/Jakarta
  • Tentara AS
    Tentara AS

Pars Today - Pola perilaku Donald Trump, Presiden AS, terhadap Republik Islam Iran sedemikian rupa sehingga mengarah pada kelanjutan jalur krisis dalam hubungan Washington dan Tehran.

Sementara dalam beberapa hari terakhir Donald Trump telah mengumumkan serangan besar dan luas terhadap infrastruktur Iran, ia kembali mengklaim bahwa atas permintaan beberapa negara di kawasan dan juga persetujuan Iran untuk berunding, ia telah menunda serangan ini. Meskipun Iran membantah klaim Trump tentang permintaan untuk berunding, negara-negara di kawasan, termasuk Arab Saudi, meminta perundingan dengan Iran dan penghindaran dari serangan terhadap infrastruktur.

Terlepas dari apakah serangan baru sebesar apa yang dikatakan Trump akan terjadi atau tidak, atau apakah perundingan baru akan terbentuk atau tidak, bukti menunjukkan bahwa pola perilaku AS mengarah pada kelanjutan jalur krisis dalam hubungan dengan Iran.

AS sejauh ini belum mencapai tujuan strategisnya melalui aksi militer terhadap Iran, dan dalam kondisi saat ini mengejar tiga tujuan terkait Iran.

Tujuan pertama AS adalah memaksakan kehendak politiknya pada Iran. AS tidak hanya gagal mencapai tujuan militernya, tetapi kini menyaksikan penekanan Iran pada pengaturan keamanan baru untuk pengelolaan Selat Hormuz. Hal ini bahkan lebih buruk bagi AS daripada kekalahan militer, karena sebelum perang, Selat Hormuz terbuka dan Republik Islam Iran tidak berbicara tentang pengaturan keamanan baru.

Sejalan dengan ini, kritik luas juga dilontarkan di dalam dan luar AS terhadap Donald Trump. Meskipun Trump, dalam menghadapi para kritikus yang menganggapnya sebagai pecundang dalam perang dengan Iran, mengklaim kemenangan atas Iran, untuk membungkam para kritikus menjelang pemilihan paruh waktu Kongres, ia membutuhkan pemaksaan kehendak politiknya pada Iran.

Tujuan penting lainnya terkait dengan pandangan bersama AS dan rezim Zionis tentang perlunya supremasi militer Israel di kawasan. Rezim Zionis secara terang-terangan berupaya menjadi kekuatan militer tertinggi di kawasan Asia Barat. Kepentingan AS juga menginginkan supremasi Israel di kawasan.

Menurut para pakar, strategi Trump adalah melemahkan alat-alat kekuasaan dan pencegahan Iran dengan tujuan mempertahankan supremasi Israel di kawasan. Masalah AS dengan Iran bukan hanya masalah nuklir. Masalahnya adalah agar Israel memiliki tangan di atas di kawasan dan tidak ada negara yang mampu melawannya.

Dalam kerangka realisme ofensif, perilaku Israel saat ini dapat dianggap sebagai perilaku kekuatan revisionis regional, kekuatan yang mencari keamanan bukan dalam penerimaan keseimbangan, tetapi dalam terus-menerus mengganggu keseimbangan untuk kepentingannya sendiri.

Tujuan ketiga AS adalah menghancurkan kemampuan Republik Islam Iran dan mengubahnya menjadi Iran yang lemah. Faktanya, masalah bagi AS bukan hanya "Iran nuklir", tetapi "Iran yang mampu". Persepsi AS adalah bahwa satu-satunya negara di kawasan Asia Barat yang memiliki klaim kemerdekaan dan kekuatan pertahanan domestik adalah Iran, dan ini dapat menjadi model bagi negara-negara di kawasan, sehingga negara-negara lain juga berupaya membebaskan diri dari ketergantungan keamanan pada AS.

Perlawanan Republik Islam Iran dalam perang-perang terkini terhadap AS dan Israel juga membuktikan kemampuan Iran untuk membela diri. Oleh karena itu, Washington beranggapan bahwa mereka harus menghancurkan kemampuan Iran dengan memberikan pukulan dan menimbulkan kerusakan, dan tidak membiarkan Iran tetap "mampu".

Atas dasar ini, mengingat perlawanan Republik Islam Iran terhadap tuntutan politik dan militer AS yang berlebihan, kelanjutan pola perilaku seperti itu dari Washington dapat menyebabkan perluasan krisis dalam hubungan dengan Iran, serta perluasan krisis di kawasan Asia Barat dan bahkan melampauinya.(Sail)