"Dia Hidup di Hati Kami": Presiden Iran Tegaskan Warisan Abadi Khamenei
-
Masoud Pezeshkian , Presiden Iran
Pars Today - Presiden Republik Islam Iran menegaskan, "Saya telah menyatakan dan akan terus menyatakan bahwa saya tidak mengucapkan selamat tinggal kepada Pemimpin Syahid dan tidak akan pernah melakukannya. Dia hidup di hati dan pikiran saya, dan di hadapan saya, dia selalu hidup dan akan terus hidup."
Melansir IRNA, 4 Juli 2026, Pars Today melaporkan bahwa Masoud Pezeshkian , Presiden Iran, pada Sabtu (4/7) sore dalam Konferensi Internasional "Imam Khamenei; Pemimpin Abadi Perlawanan", seraya mengapresiasi kehadiran luas para tokoh dan tamu dari berbagai belahan dunia dalam upacara perpisahan dan pemakaman jenazah suci Pemimpin Agung Revolusi Islam, menyatakan harapannya bahwa kehadiran ini akan menjadi landasan bagi penguatan persatuan dan solidaritas di antara umat Islam di dunia, dan bahwa bangsa-bangsa Muslim dapat berdiri dengan lebih bersatu melawan kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada teror, kekerasan, dan pembunuhan yang dilakukan oleh kekuatan hegemonik.
Presiden Iran, seraya menekankan kedudukan istimewa Pemimpin Syahid Revolusi, mengatakan, "Kebesaran, martabat, manajemen, dan ketegasan beliau melampaui apa yang dapat digambarkan dalam kata-kata. Apa yang kita saksikan hari ini dalam emosi, air mata, dan kehadiran penuh semangat rakyat di berbagai arena adalah bukti paling jelas dari kedudukannya di antara bangsa Iran dan para pencari kebebasan di dunia."
Dr. Pezeshkian melanjutkan, "Pemimpin Syahid Revolusi selama bertahun-tahun kepemimpinannya selalu menekankan pentingnya persatuan umat Islam, dan telah menyampaikan puluhan pidato dan pernyataan dalam hal ini."
Presiden Iran, merujuk pada kejahatan rezim Zionis dan dukungan AS terhadap rezim ini, mengatakan, "Hari ini kita menyaksikan teror dan penghilangan yang ditargetkan terhadap para elit, ilmuwan, dan tokoh-tokoh berpengaruh di negara-negara kawasan, tindakan yang dilakukan dalam berbagai bentuk di Gaza, Lebanon, Suriah, Irak, Iran, dan negara-negara lain di kawasan."
Ia menekankan bahwa kebijakan-kebijakan ini bertujuan untuk melemahkan masyarakat Islam dan menciptakan ketidakstabilan di kawasan.
Pezeshkian dalam konferensi ini, seraya menekankan perlunya mengubah slogan persatuan menjadi tindakan praktis, menyatakan, "Umat Islam harus menghindari segala tindakan yang dapat memperlebar kesenjangan sosial dan perbedaan internal, dan dengan menjaga kohesi dan solidaritas, berdiri melawan kezaliman, penindasan, dan dominasi."
Presiden Iran di akhir, merujuk pada kesyahidan Pemimpin Revolusi yang telah tiada, menggambarkan peristiwa ini sebagai peristiwa yang tertindas dan sekaligus menginspirasi, dan menambahkan, "Jalan, pemikiran, dan pesan para pemimpin ilahi tidak berhenti dengan kesyahidan; mereka tetap hidup dan membimbing generasi mendatang untuk melanjutkan jalan kebenaran, keadilan, dan perlawanan."
Pernyataan Pezeshkian bahwa ia tidak akan pernah mengucapkan selamat tinggal kepada Pemimpin Syahid adalah pernyataan yang sangat kuat dan emosional. Ini adalah pengakuan bahwa pengaruh dan warisan Khamenei akan terus hidup, dan bahwa ia akan terus membimbing bangsa Iran bahkan setelah kematiannya.
Dengan mengatakan bahwa Khamenei "hidup di hati dan pikiran" rakyat Iran, Pezeshkian menegaskan bahwa kesyahidan bukanlah akhir, tetapi sebuah transisi menuju kehidupan abadi dalam ingatan dan tindakan generasi mendatang.
Pezeshkian dengan tegas menyerukan agar persatuan tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi tindakan nyata. Ini adalah pengingat bahwa dalam menghadapi ancaman bersama, perpecahan internal adalah kelemahan terbesar.(Sail)