AS Lebih Banyak Menembak, Tapi Iran Berperang Lebih Presisi
Di medan perang, tidak selalu pihak yang lebih banyak melepaskan tembakan yang berada di posisi unggul. Terkadang, yang lebih penting daripada besarnya daya tembak adalah di mana setiap serangan menghantam, bagian mana dari kemampuan musuh yang dilumpuhkan, dan sejauh mana serangan tersebut dapat mengubah perhitungan musuh.
Perang tidak dapat dianalisis hanya berdasarkan jumlah pesawat tempur, rudal, dan pesawat nirawak. Besarnya daya tembak memang penting, tetapi tidak selalu menjadi faktor penentu. Dalam banyak pertempuran, pihak yang lebih memahami sasaran, memilih waktu yang lebih tepat, dan menggunakan sumber dayanya dengan lebih terukur, dapat menghadapkan kekuatan yang lebih besar dan lebih lengkap persenjataannya pada kesulitan.
Menurut laporan Pars Today, dalam beberapa hari terakhir juga terlihat dua pendekatan yang berbeda di medan pertempuran. Amerika Serikat berupaya menekan infrastruktur komunikasi dan logistik Iran melalui serangan yang luas dan berulang. Sebaliknya, Iran, alih-alih memasuki persaingan yang semata-mata bersifat kuantitatif, memilih sasaran-sasaran yang secara langsung berperan dalam komando, pengintaian, pengisian bahan bakar, dan dukungan operasi Amerika Serikat.
Tujuan Amerika Serikat jelas: menciptakan gangguan pada jaringan pendukung Iran dan mengurangi kemampuan respons militernya dalam waktu sesingkat mungkin. Serangan terhadap sejumlah wilayah di selatan, barat daya, dan tengah Iran juga dilakukan dalam kerangka tersebut. Jalur-jalur komunikasi di sekitar Bandar Abbas dan Bandar Khamir, sejumlah titik di Chabahar, Bushehr, Ahvaz, Qeshm, Sirik, Yazd, Andimeshk, dan Lar termasuk dalam daftar sasaran.
Namun demikian, hasil yang terlihat di lapangan berbeda dari tujuan awal Amerika Serikat. Sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan, tetapi struktur komando dan kemampuan operasional Iran tidak lumpuh. Jalur-jalur pendukung digantikan, pasukan tetap melanjutkan aktivitasnya, dan kemampuan memberikan respons militer juga tetap terjaga. Hal ini menunjukkan bahwa struktur pertahanan Iran tidak hanya bergantung pada beberapa titik tetap dan bahwa berbagai skenario untuk menghadapi kondisi krisis telah dipersiapkan.
Hal yang lebih penting adalah bahwa setelah menanggung gelombang pertama serangan, Iran keluar dari posisi pasif. Respons Teheran tidak hanya bersifat simbolis. Sasaran-sasaran yang dipilih adalah yang memiliki peran langsung dalam kelanjutan operasi Amerika Serikat; mulai dari radar dan pusat komando hingga gudang amunisi, fasilitas pesawat nirawak, dan pesawat pengisian bahan bakar.
Pendekatan ini dapat dianggap sebagai bentuk penangkalan aktif. Maknanya adalah bahwa Iran tidak hanya menunggu serangan berikutnya, tetapi juga berupaya menjadikan sarana-sarana yang diperlukan musuh untuk melancarkan serangan berikutnya sebagai sasaran. Pendekatan semacam ini dapat membatasi keleluasaan para komandan Amerika Serikat dan memaksa mereka untuk memasukkan biaya respons Iran ke dalam perhitungan mereka sebelum setiap operasi.
Dalam serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan, Teheran berupaya membedakan antara negara-negara tuan rumah dan fasilitas militer Amerika Serikat. Pesan Iran adalah bahwa konflik bukan dengan bangsa-bangsa dan negara-negara tetangga, melainkan dengan struktur militer yang menggunakan wilayah kawasan untuk operasi melawan Iran. Berdasarkan hal itu, radar-radar pengawasan di Oman, pusat operasi khusus Amerika Serikat di Al-Tanf, Suriah, fasilitas di Pangkalan Muwaffaq Al-Salti di Yordania, dan sebagian Pangkalan Al Udeid di Qatar menjadi sasaran. Di Bahrain, pusat-pusat yang berkaitan dengan kapal tanpa awak, pemrosesan informasi, dan dukungan operasional diserang. Di Kuwait, peluncur HIMARS, gudang persenjataan, dan sistem radar masuk dalam daftar sasaran, sedangkan di Uni Emirat Arab sejumlah titik di Kota Militer Zayed menjadi sasaran serangan. Di Irak utara, posisi kelompok-kelompok bersenjata dan pangkalan-pangkalan yang dapat berperan dalam operasi darat atau aksi sabotase terhadap Iran juga menjadi sasaran serangan.
Pemilihan sasaran ini menunjukkan bahwa Iran berupaya untuk, alih-alih menyerang keseluruhan kehadiran Amerika Serikat, menjadikan komponen-komponen yang lebih sensitif sebagai sasaran; yaitu bagian-bagian yang tanpanya kelanjutan operasi menjadi lebih rumit, lebih mahal, dan lebih lambat.
Di bidang maritim, Teheran juga berupaya menunjukkan bahwa kemampuan responsnya tidak terbatas pada pangkalan-pangkalan darat. Serangan terhadap sebuah kapal militer di bagian utara Samudra Hindia dan tindakan terhadap kapal-kapal yang bergerak di Selat Hormuz di luar pedoman yang telah diumumkan merupakan bagian dari pesan tersebut. Iran ingin menunjukkan bahwa mereka mengawasi jalur-jalur perairan di sekitarnya dan dapat memengaruhi dinamika maritim apabila konflik meluas.
Perbedaan utama antara kedua pihak mungkin dapat diringkas dalam satu kalimat: Amerika Serikat lebih banyak menembakkan senjata, tetapi Iran berupaya agar setiap tembakan memiliki dampak yang lebih jelas.
Operasi Amerika Serikat bertumpu pada penggunaan secara luas pesawat tempur, rudal laut, dan pesawat nirawak bunuh diri. Pengulangan serangan terhadap beberapa titik juga memperkuat kemungkinan bahwa sebagian sasaran penting telah diserang sebelumnya dan kini upaya utama difokuskan pada pengikisan infrastruktur secara bertahap.
Sebaliknya, Iran menggunakan kombinasi pesawat nirawak Shahed dan Arash, rudal balistik, serta rudal jelajah. Penentuan waktu serangan yang terkoordinasi dan masuknya sasaran udara secara bersamaan dari berbagai jalur memberikan tekanan besar terhadap sistem pertahanan udara. Dalam kondisi demikian, bahkan sistem yang canggih pun dapat menghadapi keterbatasan waktu, jumlah pencegat, atau kapasitas pemrosesan.
Sasaran Iran pada umumnya juga merupakan titik-titik yang berperan dalam pengendalian perang; radar, pusat-pusat intelijen, sistem penentuan sasaran, gudang pesawat nirawak, dan peralatan pengisian bahan bakar. Dengan kata lain, Iran, alih-alih sekadar menyerang lengan musuh, juga berupaya menekan otak dan jaringan saraf operasinya.
Lolosnya sebagian rudal dan pesawat nirawak Iran dari lapisan pertahanan menunjukkan bahwa sistem seperti Patriot juga tidak kebal. Tidak ada sistem pertahanan yang mampu memberikan jaminan penuh terhadap serangan gabungan dan berskala besar, terutama ketika ancaman datang dari ketinggian, kecepatan, dan jalur yang berbeda-beda.
Di sisi lain, meningkatnya penerbangan pesawat pengintai, pesawat pengisian bahan bakar, dan pesawat angkut Amerika Serikat juga mengungkapkan sejumlah hal penting mengenai situasi di medan. Kehadiran terus-menerus pesawat intelijen di dekat pantai Iran dan Selat Hormuz menunjukkan bahwa Amerika Serikat memerlukan aktivitas intelijen yang intensif untuk mengidentifikasi sasaran baru dan memantau pergerakan Iran.
Dinonaktifkannya sistem pengiriman posisi pada beberapa pesawat selama menjalankan misi juga dapat menjadi indikasi adanya upaya menyembunyikan jalur penerbangan. Perilaku seperti ini biasanya terlihat ketika pihak lawan memiliki kemampuan yang memadai untuk memantau dan menganalisis lalu lintas udara.
Pada saat yang sama, pembentukan jembatan udara berskala besar dengan menggunakan pesawat C-17, C-130, dan berbagai jenis pesawat pengisian bahan bakar menunjukkan adanya tekanan yang cukup besar terhadap jaringan pendukung Amerika Serikat. Ketika pesawat harus bertahan lebih lama di udara atau menggunakan pangkalan yang lebih jauh, biaya setiap operasi meningkat. Kelelahan awak, konsumsi bahan bakar, keausan peralatan, serta kesulitan perawatan dan pemeliharaan juga secara bertahap meningkat.
Ketergantungan yang luas pada pengisian bahan bakar di udara juga menunjukkan bahwa sebagian pangkalan di kawasan tidak lagi memiliki tingkat keamanan seperti sebelumnya. Pemindahan pesawat dan peralatan dari pangkalan-pangkalan yang dekat ke wilayah yang lebih jauh, meskipun dapat mencegah kerusakan langsung, akan membuat operasi menjadi lebih rumit dan lebih mahal.
Di pihak lain, salah satu kekuatan Iran adalah fleksibilitas dalam penempatan pasukan dan peralatan. Sistem-sistem bergerak, berbagai jalur pendukung, dan penyebaran pusat-pusat operasional menyebabkan penghancuran total terhadap kemampuan respons Iran menjadi sulit. Semakin banyak waktu dan sumber daya yang harus dikeluarkan musuh untuk menemukan sasaran-sasaran tersebut, semakin besar pula pengikisan kemampuan operasionalnya.
Kemampuan intelijen juga memegang peranan penting dalam hal ini. Identifikasi lokasi penempatan peralatan, penyadapan komunikasi, dan penentuan koordinat peluncur menunjukkan bahwa perang tidak hanya berlangsung di udara dan di laut. Sebagian besar perang berlangsung di bidang intelijen, komunikasi, dan analisis data.
Iran pada tahap ini berupaya menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memiliki rudal dan pesawat nirawak, tetapi juga mampu memperoleh informasi yang diperlukan untuk menggunakan peralatan tersebut secara efektif. Senjata yang presisi memiliki nilai yang terbatas tanpa informasi yang presisi. Yang meningkatkan efektivitas serangan adalah perpaduan antara kemampuan pengintaian, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan operasi.
Hasil terpenting dari perkembangan ini adalah perubahan bertahap dalam perhitungan Amerika Serikat. Sebelum dimulainya konflik, mungkin ada anggapan bahwa besarnya volume serangan dapat melumpuhkan kemampuan Iran dalam waktu singkat. Namun berlanjutnya respons Iran menunjukkan bahwa setiap serangan dapat diikuti oleh ancaman terhadap salah satu pusat penting Amerika Serikat di kawasan.
Mulai sekarang, para komandan Amerika Serikat tidak lagi dapat hanya mengandalkan kemampuan ofensif mereka. Mereka juga harus mempertimbangkan keamanan radar, pangkalan, pesawat pengisian bahan bakar, gudang amunisi, dan pusat-pusat komando. Hal ini mengurangi keleluasaan operasi CENTCOM.
Amerika Serikat kini menghadapi pilihan yang sulit. Mengurangi serangan dapat dipandang sebagai penerimaan atas keterbatasan di hadapan Iran, sedangkan memperluas perang akan membawa biaya kemanusiaan, keuangan, dan politik yang lebih besar. Mempertahankan operasi berskala besar dalam jangka panjang, terutama di kawasan di mana pangkalan-pangkalan Amerika Serikat berada dalam jangkauan serangan, tidak akan mudah.
Iran juga menunjukkan bahwa mereka tidak berniat memperluas perang tanpa perhitungan. Respons-respons dilakukan secara bertahap dan sasaran dipilih berdasarkan perannya dalam operasi musuh. Perilaku ini menunjukkan bahwa Teheran ingin sekaligus memperlihatkan kekuatannya dan mengendalikan jalur eskalasi.
Pada akhirnya, apa yang terlihat di medan adalah pertarungan antara dua jenis kekuatan. Amerika Serikat masih memiliki keunggulan besar dalam jumlah pesawat, amunisi, dan fasilitas pendukung, tetapi Iran berupaya menantang keunggulan tersebut melalui ketepatan, penyebaran, mobilitas, dan pemahaman yang lebih baik terhadap medan.
Perang masih belum berakhir dan kedua pihak masih memiliki lebih banyak sarana yang tersedia. Namun demikian, hingga saat ini satu kenyataan telah menjadi jelas: Iran tidak hanya mampu bertahan menghadapi gelombang tekanan awal, tetapi juga berhasil mengubah sebagian aturan dalam konflik. Dalam pertempuran seperti ini, kemenangan tidak semata-mata berarti menembakkan lebih banyak senjata; terkadang yang menjadi pemenang adalah pihak yang memaksa musuh berpikir lebih matang sebelum melancarkan setiap serangan.