Apa Tujuan Israel Mempertahankan Pasukannya di Wilayah Suriah?
Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, menegaskan bahwa pernyataan rezim Zionis mengenai rencana untuk mempertahankan pasukannya di wilayah Suriah merupakan upaya untuk mengukuhkan pendudukan.
Setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah dan berkuasanya pemerintahan baru di negara tersebut, rezim Zionis berulang kali melanggar kedaulatan Suriah. Selain melancarkan serangan terhadap negara itu, rezim tersebut juga menempatkan pasukannya di sejumlah wilayah Suriah. Serangan terhadap Suriah hingga kini masih terus berlangsung.
Menurut Menteri Luar Negeri Suriah, selama Juli tercatat 65 serangan, sementara dalam 18 hari pertama Agustus tercatat 52 serangan oleh pasukan Israel. Pertanyaannya, apa tujuan rezim Zionis terus melancarkan serangan dan bersikeras mempertahankan kehadiran militernya di wilayah Suriah?
Tujuan terpenting rezim Zionis adalah menduduki wilayah Suriah dan memperluas wilayah pendudukan. Mengingat lemahnya pemerintahan Suriah dan ketidakmampuannya menghadapi pendudukan rezim Zionis, rezim tersebut kini berupaya beralih dari konflik keamanan sementara menuju pengukuhan kondisi teritorial baru di Suriah selatan. Israel membenarkan kehadiran militernya di sejumlah wilayah Suriah selatan dengan dalih keamanan, tetapi Damaskus berpandangan bahwa penegasan mengenai kehadiran permanen tidak dapat dianggap sebagai langkah sementara untuk menjamin keamanan. Sebaliknya, hal itu harus dipandang sebagai upaya untuk mengukuhkan realitas teritorial baru.
Tujuan lain rezim Zionis adalah menciptakan “realitas di lapangan” baru, kemudian bergerak menuju kesepakatan politik dengan pemerintah Suriah. Dengan kata lain, rezim Zionis berupaya menciptakan realitas baru di lapangan sebelum tercapainya kesepakatan politik dengan mengukuhkan pendudukannya di wilayah Suriah.
Dalam kemungkinan perundingan di masa mendatang, rezim tersebut kemudian akan berupaya memasukkan kondisi yang telah diciptakannya itu sebagai realitas baru ke dalam kesepakatan. Mengingat keinginan pemerintahan baru Suriah untuk mencapai kesepakatan politik dengan rezim Zionis, serta ketergantungan pemerintahan baru tersebut pada Amerika Serikat, Tel Aviv berupaya memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan pendudukan permanen atas wilayah Suriah dan bahkan memasukkannya ke dalam teks kesepakatan.
Tujuan lainnya adalah mengikis kedaulatan nasional Suriah. Serangan berulang dan penegasan mengenai kehadiran pasukan Israel di wilayah Suriah akan membuat pola tindakan rezim Zionis terhadap Suriah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Mengingat karakter pemerintahan yang berkuasa di negara tersebut dan ketidakmampuannya menghadapi ancaman Tel Aviv, kedaulatan nasional Suriah pada praktiknya akan semakin terkikis, yang tentunya sejalan dengan kepentingan rezim Zionis.
Tujuan lainnya adalah menciptakan zona penyangga di Suriah selatan. Jika rezim Zionis tidak mampu mengukuhkan pendudukan wilayah Suriah dan aneksasinya ke wilayah pendudukan, setidaknya rezim tersebut akan berupaya, melalui serangan terus-menerus dan pembentukan zona penyangga, memastikan tidak ada pasukan Suriah yang diperbolehkan ditempatkan di wilayah tersebut. Dengan cara ini, Israel secara de facto akan memperoleh kendali intelijen dan operasional atas wilayah-wilayah tersebut.