Glimmer Alborz: Tenun, Sulam, dan Kisah Perempuan Qazvin
https://parstoday.ir/id/news/iran-i196414-glimmer_alborz_tenun_sulam_dan_kisah_perempuan_qazvin
ParsToday - Provinsi Qazvin, yang terletak di barat laut Iran, sekitar 130 kilometer di sebelah barat Tehran, tidak hanya memiliki warisan kaya situs-situs bersejarah dan arsitektur kuno, tetapi juga menyimpan tradisi-tradisi unggul dalam bidang kerajinan tangan dan keterampilan seni.
(last modified 2026-09-07T10:14:50+00:00 )
Sep 07, 2026 17:08 Asia/Jakarta
  • Kerajinan tangan Qazvin
    Kerajinan tangan Qazvin

ParsToday - Provinsi Qazvin, yang terletak di barat laut Iran, sekitar 130 kilometer di sebelah barat Tehran, tidak hanya memiliki warisan kaya situs-situs bersejarah dan arsitektur kuno, tetapi juga menyimpan tradisi-tradisi unggul dalam bidang kerajinan tangan dan keterampilan seni.

Melansir ParsToday yang mengutip PressTV, Senin, 07 September 2026, banyak dari keterampilan ini diwariskan secara turun-temurun, dan kaum perempuan memainkan peran yang sangat penting dalam melestarikan, mempraktikkan, serta mewariskan warisan tak-benda ini. Mulai dari glebek [karpet tenun datar] Alamut yang berwarna-warni dan pita-pita halus pen-bafi [tenun kartu], hingga muj-bafi [tenun gelombang] dan dah-yek-duzi [sulaman sepuluh-jahitan], setiap kerajinan tangan merefleksikan kisah tentang sejarah, budaya, dan pengetahuan lokal provinsi ini.

Namun, kerajinan tangan ini jauh lebih dari sekadar peninggalan masa lalu. Kini, para perajin Qazvin berupaya mempertahankan teknik-teknik, pola, dan motif tradisional, sembari menyesuaikannya dengan selera dan pasar kontemporer. Dengan demikian, mereka memberikan tempat yang bermakna bagi keterampilan berusia ratusan tahun dalam kehidupan modern, serta memastikan bahwa warisan ini bukan sekadar bertahan, melainkan terus berevolusi.

Berikut ini, kita akan menilik lebih dekat beberapa kerajinan tangan tradisional Qazvin yang paling ikonis beserta kisah di baliknya.

Kilim: Warisan Berwarna-warni dari Tenun Nomaden

Glebek adalah anyaman datar tradisional yang digunakan sebagai alas lantai, hiasan dinding, atau selimut. Secara tradisional, glebek dibuat dari serat alami seperti wol domba, bulu kambing, sutra, serta serat dari hewan peliharaan lainnya.

Glebek yang dahulu dihargai terutama karena kegunaan praktisnya, kini juga dipandang sebagai karya seni dekoratif dan telah masuk ke dalam rumah-rumah perkotaan kontemporer.

Glebek tradisional umumnya diwarnai dengan zat pewarna alami dan nabati. Dalam beberapa kasus, para perajin membilas produk jadi dengan teh atau kulit kenari untuk memperbaiki tampilan, memperdalam warna, dan menciptakan kesan antik alami.

Berbeda dengan karpet, glebek sering kali ditenun tanpa pola yang telah ditentukan sebelumnya. Sebaliknya, banyak desain terbentuk secara intuitif selama proses menenun, dan motifnya muncul melalui keterampilan, pengalaman, serta ekspresi kreatif penenun. Glebek juga biasanya berukuran lebih kecil daripada karpet, dan jarang melebihi ukuran tiga kali empat meter.

Tenun glebek, jajim [karpet tipis tenun], karpet, dan permadani telah lama populer di Qazvin, terutama di kalangan suku dan komunitas nomaden di wilayah tersebut.

Di antara tradisi-tradisi ini, glebek Alamut sangat terkenal karena motifnya yang mencolok, paduan warna yang hidup, dan karakter visual yang khas, ciri-ciri yang mencerminkan kreativitas para penenun sekaligus warisan budaya daerah tersebut.

Pen-bafi, pita tenun tangan yang halus

Pen-bafi, yang juga dikenal sebagai tenun kartu atau tenun pita, adalah salah satu kerajinan tangan tradisional unggulan di wilayah Alamut. Seni ini, yang masuk dalam kategori seni tekstil tradisional, menghasilkan pita-pita sempit dengan lebar biasanya antara satu hingga dua sentimeter.

Meskipun tampak halus, pita-pita ini sangat kuat dan tahan lama. Pita ini yang secara tradisional dibuat oleh perempuan setempat, memiliki beragam kegunaan, terutama dalam busana dan mode. Pita ini dapat digunakan untuk menghias kerah, pinggiran rok dan lengan, ikat pinggang, tali sepatu, tali gawai, dasi, dan tali gendongan bayi.

Jika dibuat dengan benang yang lebih tebal, pita-pita ini juga dapat memiliki fungsi yang lebih praktis, misalnya untuk mengikat tenda atau membuat tali kekang (penutup mulut) untuk kuda dan unta.

Asal-usul tenun kartu masih belum banyak diketahui. Tidak ada catatan jelas tentang kapan tepatnya teknik ini muncul, maupun bagaimana teknik ini sampai ke Iran. Contoh tenun kartu tertua yang diketahui dikaitkan dengan Mesir kuno.

Kerajinan ini dibuat menggunakan serat alami, dan dalam beberapa kasus serat sintetis. Namun secara tradisional, benang sutra yang di daerah setempat dikenal sebagai benang pinus, merupakan salah satu bahan utama yang digunakan para penenun.

Wilayah Alamut dikenal dengan beragam motif tradisional pen-bafi, yang banyak di antaranya ditenun dari ingatan, bukan dari pola tetap. Hal ini memberi ruang bagi keterampilan, pengalaman, dan kreativitas penenun untuk memainkan peran penting dalam membentuk setiap helai pita.

Muj-bafi; Tekstur yang berakar pada sejarah Qazvin

Muj-bafi, yang juga disebut sachim-bafi, moshte-bafi, atau jila-bafi, adalah teknik tekstil tradisional yang tampilan dan motifnya mirip dengan chardarshab [kain tenun seperti kelambu], tetapi pola dan komposisinya lebih rumit. Namanya terkait dengan pola zig-zag khas yang saling terkait dan terbentuk di sepanjang lungsin dengan teknik tenun kait-ganda.

Secara tradisional, muj ditenun dalam kotak-kotak kecil dan besar, dengan warna biru tua, jingga, dan merah tua sebagai warna yang paling khas digunakan oleh komunitas nomaden berbahasa Kurdi. Warna-warna lain seperti hijau, krem, hitam, biru, serta gradasi merah terang dan tua juga banyak digunakan.

Muj-bafi memiliki akar sejarah yang panjang di Qazvin dan diduga berkembang pesat di wilayah ini sejak era Safawi. Kelangsungannya menunjukkan daya tahan tradisi tekstil provinsi ini dan komunitas yang menjaganya lintas generasi.

Pada tahun 2011 [1390 Hijriah Syamsi], muj-bafi atas nama Provinsi Qazvin secara resmi terdaftar dalam Daftar Warisan Tak-Benda Nasional Iran, sehingga pentingnya budaya dan posisinya dalam kerajinan tangan tradisional daerah ini diakui secara resmi.

Di antara teknik sulaman tradisional Qazvin, terdapat dah-yek-duzi; sebuah bentuk sulaman dekoratif khas yang akarnya dapat ditelusuri hingga era Sasaniyah.

dah-yek-duzi; teknik kuno dalam pekerjaan menjahit.

Istilah dah-yek secara harfiah berarti "sepersepuluh" dan merujuk pada teknik itu sendiri: jarum dan benang ditusukkan sepuluh kali dari satu titik yang sama, lalu diikat dengan satu jahitan ke kain. Proses ini menciptakan efek dekoratif timbul yang menghasilkan tekstur dan tampilan khas sulaman ini.

Secara tradisional, dah-yek-duzi digunakan untuk menghias berbagai macam benda, termasuk pinggiran pakaian, bingkai cermin, tirai mewah, gagang dan kantong, tempat gunting, topi, panel dekoratif, sampul Al-Qur'an, dompet, dan tempat pena.

Kain-kain seperti satin, termeh [kain tenun halus khas Iran], dan beludru biasanya menjadi pilihan utama, karena kekuatan dan teksturnya memungkinkan kain menahan jahitan berulang yang dibutuhkan oleh teknik ini. Pada era Islam, dah-yek-duzi juga menjadi bagian dari seni dan dekorasi religius. Para perajin Iran menggunakan teknik ini untuk menghias tirai dan penutup yang terkait dengan Ka'bah, serta penutup dekoratif makam para Imam dan keturunan mereka.

Kehadiran dah-yek-duzi yang berkesinambungan pada benda-benda sehari-hari dan seni sakral mencerminkan ikatan abadi antara tradisi tekstil Persia, keahlian tangan, dan ekspresi budaya.

Khazanah Warisan Budaya Tak-Benda

Kerajinan tangan ini hanyalah sebagian dari kekayaan warisan kerajinan tangan Qazvin. Hingga saat ini, 44 seni dan keterampilan tradisional dari Provinsi Qazvin telah secara resmi terdaftar sebagai bagian dari warisan tak-benda nasional Iran.

Di antaranya termasuk muj-bafi (tenun gelombang), zereh-bafi (tenun zirah), pen-bafi (tenun pita), tekkeh-duzi (sulaman tambal), penjilidan tradisional, thabaq-sazi [pembuatan wadah bertingkat], moqarnas-sazi [ornamen stalaktit], pertukangan tembaga, lukisan di balik kaca, tenun karpet, tenun glebek Ardaq, tenun jajim, pembuatan giweh [sepatu tradisional] dan sulaman giweh di Takestan.

Semua tradisi ini bersama-sama menunjukkan keragaman keterampilan yang luar biasa, yang dilestarikan dan dipraktikkan oleh generasi perajin Qazvin, dengan kaum perempuan memainkan peran yang sangat menonjol dalam bidang tenun dan sulaman tradisional.

Saat ini, provinsi ini menjadi tempat bagi setidaknya 7.500 perajin dan pengrajin yang berkecimpung dalam bidang seni tradisional dan kerajinan tangan.

Menurut Maryam Mahdavi, Kepala Dinas Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Provinsi Qazvin, sektor ini pada tahun lalu telah menciptakan lapangan kerja bagi 1.665 orang dan berkontribusi pada ekspor produk seni senilai 1,6 juta dolar AS.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa kerajinan tangan tradisional Qazvin bukan hanya bagian penting dari warisan budaya provinsi, tetapi juga merupakan sektor ekonomi yang hidup yang terus membantu menyediakan mata pencaharian dan menghubungkan pengrajin lokal dengan pasar di luar wilayah tersebut.

Qazvin, jantung tradisi kaligrafi Iran selama bertahun-tahun

Qazvin, yang dijuluki sebagai "ibu kota kaligrafi Iran", telah mempertahankan tradisi seni selama berabad-abad yang dibentuk oleh sekolah-sekolah keagamaan, dukungan kerajaan Safawi, dan pendidikan master-murid, dan hingga kini lembaga-lembaga serta seniman muda masih menjaga warisan kaligrafi yang kaya ini tetap hidup.

Perempuan sebagai Penjaga, dan Inovator, Tradisi

Perempuan memainkan peran yang sangat menonjol dalam sektor kerajinan tangan Qazvin.

Menurut Maryam Bidakham, Kepala Dinas Urusan Perempuan dan Keluarga Pemerintah Provinsi Qazvin, sejumlah besar perempuan di seluruh provinsi aktif dalam kerajinan tangan. Ia mengatakan bahwa lebih dari 12.000 perempuan saja yang memiliki izin usaha di bidang kerajinan tangan dan warisan budaya, yang menunjukkan kapasitas produktif perempuan di provinsi ini.

Banyak seniman perempuan mewarisi keterampilan ini dalam keluarga dan komunitas lokal mereka, belajar dari ibu dan nenek mereka. Dengan demikian, mereka melestarikan lebih dari sekadar teknik menenun dan menyulam. Mereka juga menjaga motif, palet warna, dan pengetahuan lokal yang terkandung dalam kerajinan tangan ini.

Penggunaan pewarna alami seperti kulit kenari, kulit bawang, daun murbei, dan tumbuhan lokal yang tersedia dalam pen-bafi, serta pewarisan motif-motif geometris dan intuitif dari generasi ke generasi, adalah contoh-contoh pengetahuan yang tetap hidup bersama produk akhirnya.

Namun, perempuan bukan sekadar "penjaga" tradisi. Mereka juga turut mengubah tradisi ini menjadi bagian dari ekonomi kontemporer.

Menjaga kerajinan tangan tradisional tetap hidup bukan berarti membekukannya di masa lalu. Dengan menyesuaikan fungsi produk, bereksperimen dengan bahan dan paduan baru, serta memperkenalkan kerajinan tangan tradisional ke pasar perkotaan dan kontemporer, para seniman menemukan cara-cara baru untuk menghubungkan keterampilan warisan dengan kehidupan modern.

Saat ini, komunitas kerajinan tangan Qazvin menunjukkan bahwa warisan tradisional tidak semata-mata milik masa lalu. Ini adalah tradisi hidup yang terus berevolusi, beradaptasi, dan menemukan peran-peran baru dalam kehidupan kontemporer.

Para penenun dan penyulam mempertahankan metode tradisional dalam menenun, mewarnai, dan membuat motif, sambil menerapkan keterampilan yang sama untuk memproduksi produk-produk yang sesuai dengan selera dan kebutuhan konsumen masa kini. Misalnya, glebek tidak lagi hanya digunakan sebagai alas lantai, tetapi telah menjadi elemen dekorasi interior kontemporer. Demikian pula, pita-pita halus yang dihasilkan dari pen-bafi dapat diaplikasikan pada busana modern, aksesori, dan desain mode.

Dengan demikian, kerajinan tangan Qazvin adalah sesuatu yang jauh lebih dari sekadar pengingat masa lalu. Ia adalah warisan hidup yang bertahan melalui kesinambungan, kreativitas, dan inovasi, yang digerakkan oleh generasi baru seniman yang memberikan tempat bermakna bagi pengetahuan tradisional di dunia masa kini.

"Kerajinan tangan tradisional Qazvin, mulai dari glebek Alamut, pen-bafi (tenun pita), muj-bafi (tenun gelombang), hingga dah-yek-duzi (sulaman sepersepuluh), bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan tradisi hidup yang terus beradaptasi dengan pasar dan selera modern. Perempuan memegang peran sentral sebagai penjaga sekaligus inovator, dengan lebih dari 12.000 perempuan memiliki izin usaha di sektor ini. Secara ekonomi, sektor ini menyerap 1.665 tenaga kerja dan menghasilkan ekspor 1,6 juta dolar AS pada tahun lalu. Qazvin juga dikenal sebagai pusat kaligrafi Iran, dengan 44 jenis kerajinan telah terdaftar sebagai warisan tak-benda nasional."(Sail)