Iran Minta Parlemen Eropa Bersikap Realistis
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qassemi, menilai poin tertentu dari resolusi yang disahkan oleh Komite Urusan Luar Negeri Uni Eropa tentang hubungan dengan Iran pasca perjanjian nuklir, tidak realistis dan dipengaruhi oleh propaganda miring pihak-pihak yang anti-Iran.
Seperti dikutip IRNA, Qassemi pada Jumat (7/10/2016) mereaksi pengesahan dokuman strategis yang disebut "Strategi Uni Eropa terhadap Republik Islam Iran Pasca Perjanjian Nuklir" di Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa.
Ia mengakui bahwa dokumen tersebut memuat poin-poin positif, tetapi masih terdapat bagian yang tidak realistis dan dipengaruhi oleh propaganda miring pihak-pihak yang anti-Iran.
"Meskipun ada poin-poin positif dan menjanjikan dalam resolusi itu, di mana ia bisa membantu memperluas hubungan Iran dan Uni Eropa serta membuka ufuk baru dalam interaksi bilateral, namun ia masih memuat poin tertentu khususnya mengenai situasi hak asasi manusia di Iran, yang tidak sesuai dengan realitas yang ada dan juga dipengaruhi oleh propaganda miring pihak-pihak yang anti-Republik Islam," tegas Qassemi.
Padahal, lanjutnya, Iran dan Uni Eropa dijadwalkan akan melakukan dialog di bidang HAM dalam waktu dekat ini. Jadi sikap seperti ini tentu saja akan mengundang tanda tanya dan tidak konstruktif.
"Ini sama sekali tidak membantu memajukan dialog HAM dan merupakan bentuk intervensi dalam urusan internal negara kami," tandasnya.
Qassemi lebih lanjut menuturkan bahwa meskipun resolusi Parlemen Eropa bersifat anjuran saja, namun akan lebih baik jika ia lebih realistis dan lebih visioner.
"Kami berharap Parlemen Eropa dan komisi luar negeri untuk melihat isu-isu seperti itu dengan lebih realistis dan tidak membahas perkara yang tidak benar, di mana disampaikan oleh pihak-pihak anti-Iran," ujarnya. (RM)