Proyeksi Iran Mengenai Kerja Sama Ekonomi Asia
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rohani hari Senin (10/10) menyampaikan pandangannya di KTT Dialog Kerja Sama Asia (ACD) yang berlangsung di Bangkok.
Rohani dalam pidatonya menjelaskan sikap Iran mengenai peluang dan tantangan yang dihadapi Asia. Presiden Iran mengatakan, Negara-negara Asia harus membuka jalan untuk membuka pasar, interaksi ekonomi, reformasi struktural di dalam, transparansi dan koordinasi luas di bidang kebijakan, serta mengambil langkah besar dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat dan peningkatan kedudukan Asia di arena global.
Presiden Iran menegaskan, Dewasa ini semua pihak mengakui tidak ada masalah internasional seperti pengungsi, pencari suaka, buta hurup dan kemiskinan, yang bisa diselesaikan tanpa kehadiran dan kerja sama aktif kekuatan-kekuatan Asia. Sebab negara-negara Asia saat ini menjadi pemain yang berperan aktif untuk mewujudkan keamanan global.
Realitasnya saat ini melebihi periode sebelumnya, bangsa-bangsa Asia harus saling mendukung yang tidak bisa terwujud jika masing-masing tidak saling kenal untuk mendekatkan pandangannya. Pandangan demikian mencakup domain budaya hingga potensi ekonomi serta perspektif terhadap transformasi global.
Dalam pidatonya, presiden Rohani juga menegaskan urgensi nilai universal agama dan budaya internasional di bidang keamanan maupun sektor lainnya. Di bidang keamanan, pandangan Iran seirama dnegan infrastruktur perdamaian dan keamanan global.
Masalah ini juga telah ditegaskan presiden Iran dalam pidato sebelumnya di sidang Majelis Umum PBB belum lama ini, dan berbagai pertemuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa masalah keamanan bagi Iran tidak bisa dilepaskan dari masalah lain yang saling terkait.
Republik Islam Iran meyakini, terorisme, kekerasan dan perang merupakan kekhawatiran bersama. Perbedaannya, masing-masing memiliki tingkatnya yang berbeda-bada. Di kawasan barat Asia tantangan yang dihadapi lebih luas dan besar. Oleh karena itu penderitaan yang dialami masyarakat di kawasan ini akibat kejahatan terorisme tidak bisa dibandingkan dengan masalah lain, sebagaimana dikhawatirkan Eropa dan Barat.
Menurut Ruhani, penderitaan yang dialami rakyat Yaman, Suriah, Irak, dan Afghanistan selama lebih dari setengah abad, serta bangsa tertindas Palestina sangat berat, yang tidak bisa dipahami dengan parameter hak asasi manusia Barat. Sebab, akar sebagian besar krisis dan konflik berada di balik kebijakan hegemonik adidaya global.
Presiden Iran dalam pidatonya di Bangkok menegaskan bahwa intervensi asing mengancam keamanan regional dan global. Meski demikian, Rohani menyerukan kerja sama antarnegara Asia dan juga dunia dalam menghadapi ekstremisme dan terorisme. Menurutnya, slogan Dialog Kerja Sama Asia "Asia Bersatu dengan Potensi yang Beraneka ragam" sebagai simbol Proyeksi 2030 sebagai sebuah harapan bersama yang merupakan langkah besar untuk mewujudkan masyarakat Asia yang lebih baik.