Revolusi Islam Iran Menurut Ilmuwan Barat (5)
-
Revolusi Islam Menurut Ilmuwan Barat
Pada kesempatan ini akan disampaikan pandangan Stansfield Turner, Direktur Dinas Rahasia Amerika (CIA) di masa pemerintahan Jimmy Carter dan John Foran, Sosiolog Amerika terkait Revolusi Islam Iran.
Revolusi Islam Iran menurut pandangan ilmuwan asing senantiasa menjadi bagian dari penulisan sejarah para penulis dan analis kontemporer. Sebuah revolusi yang semakin usianya bertambah, semakin banyak yang ingin mengetahui bagaimana kejadian dan kesinambungannya. Berikut ini narasi pendek dari pandangan sebagian penulis, surat kabar dan pejabat Barat tentang Revolusi Islam Iran.
Stansfield Turner, Direktur CIA di masa pemerintahan Carter ketika melihat tumbangnya rezim Pahlevi dan kemenangan Revolusi Islam Iran, ia menyebut peristiwa itu "tak terdefinisikan". Ayah George W. Bush, mantan Presiden Amerika mengatakan, "Saya bertanya kepada Direktur CIA yang dipecat dari jabatannya karena kemenangan Revolusi Iran, 'Yakni, dengan semua agen yang Anda miliki di seluruh dunia disertai perlengkapan sangat canggih dan anggaran besar yang dihabiskan tidak mampu memprediksi revolusi rakyat Iran?!' Ia menjawab kepadaku, 'Apa yang terjadi di Iran adalah kondisi "tak terdifinisikan". Segala komputer yang kami miliki tidak mampu memahaminya."
Saat diwawancarai televisi NBC, Turner mengakui, "Apa yang tak dapat kami prediksi adalah bagaimana hanya seorang ulama tua berusia 78 tahun yang telah diasingkan selama 14 tahun dapat menjadi faktor yang mengumpulkan semua faktor-faktor ini dan tiba-tiba kami berhadapan dengan gunung api yang tengah mengeluarkan lava dan terjadilah sebuah revolusi nasional."
Dengan mencermati pandangan para pakar sosiologi, politik, dan politikus Amerika dan Eropa menjadi jelaslah bahwa Revolusi ISlam Iran memiliki karakteristik yang sangat unik dan tidak dapat dianalisa dengan teori-teori yang ada dalam ilmu-ilmu humaniora Barat.
John Foran adalah Profesor Sosiologi di Universitas California dan menulis sejumlah buku dan artikel terkait Revolusi Islam Iran. Dalam sebuah makalahnya dengan judul "Revolusi 1977-79, Tantangan Bagi Teori Sosial" menulis:
"Obyek teori sosial di dekade 1980-an sebagai berikut apakah Revolusi Iran harus dikaji sebagai kasus unik yang berbeda dengan revolusi-revolusi yang lain dan atau sebab revolusi-revolusi yang pernah terjadi harus ditinjau kembali berdasarkan bukti-bukti yang terjadi pada Revolusi Iran?"
Foran berbicara soal tantangan yang dihadapi teori-teori tentang revolusi pasca terjadinya Revolusi Islam Iran dan menyatakan bahwa dengan perubahan yang terjadi di Iran ini, terjadi pula revolusi dalam teori-teori revolusi. John Foran meyakini generai keempat teori revolusi-revolusi, bahkan ilmu sosiologi sedang terbentuk berbarengan dengan kemenangan Revolusi Islam Iran, dimana anasir seperti budaya, ideologi, agama dan kepemimpinan menjadi pusatnya.