Iran dan Irak Akan Gelar Manuver Militer di Perbatasan dengan Kurdistan
-
Brigadir Jenderal Massoud Jazayeri
Seorang komandan militer senior Iran menyatakan Iran dan Irak akan menggelar manuver militer gabungan di sepanjang perbatasan mereka dengan wilayah Kurdistan dalam beberapa hari mendatang sesuai dengan kebijakan Tehran untuk mendukung pemerintah pusat Baghdad menyusul referendum pemisahan diri di wilayah semi otonomi Kurdistan.
"Manuver bersama Eqtedar, akan digelar oleh Angkatan Bersenjata Iran dan militer Irak di sepanjang perbatasan bersama kedua negara," demikian kata Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Massoud Jazayeri pada Sabtu (30/9/2017).
Jazayeri lebih lanjut menyatakan, pada hari sebelumnya, para komandan Angkatan Bersenjata Iran mengadakan pertemuan yang dipimpin Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mohammad Baqeri, untuk membahas permintaan resmi pemerintah Irak pasca referendum Kurdistan.
Ditambahkannya, pertemuan tersebut "sejalan dengan kebijakan Republik Islam Iran untuk membantu menjaga solidaritas dan integritas teritorial Irak serta memenuhi permintaan dari pemerintah pusat Irak untuk bekerja sama dengan Republik Islam Iran terkait otoritas pemerintah pusat di perbatasan kedua negara."
Jazayeri menekankan bahwa para peserta pada pertemuan tersebut kembali menekankan pentingnya menjaga integritas wilayah Irak dan menolak referendum "ilegal" yang digelar di wilayah Kurdistan.
Pertemuan Sabtu itu digelar tiga hari setelah Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran dan mitranya dari Irak, Mayjen Othman al-Ghanmi berdialog di Tehran.
Meski penentangan keras dari pemerintah pusat Baghdad, Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG) tetap menggelar referendum yang tidak mengikat pada 25 September untuk pemisahan diri dari pemerintah pusat Baghdad.
Hasil resmi menunjukkan 92,73 persen pemilih mendukung pemisahan diri. Jumlah pemilih tercatat sebesar 72,61 persen.
Pihak-pihak regional dan internasional telah menyuarakan keprihatinan mereka terhadap langkah separatis tersebut, dengan menekankan bahwa hal itu akan menjadi masalah tambahan bagi Irak yang sudah disibukkan dengan operasi kontra-terorisme anti-Daesh.(MZ)