Bahas Quds, Iran dan Turki Ingin Gelar KTT Darurat OKI
https://parstoday.ir/id/news/iran-i47807-bahas_quds_iran_dan_turki_ingin_gelar_ktt_darurat_oki
Presiden Iran Hassan Rouhani dan Recep Tayyip Erdogan, sejawatnya dari Turki dalam sebuah kontak telepon pada Rabu (6/12/2017), membahas transformasi terbaru di Palestina, khususnya konspirasi Amerika Serikat untuk mengumumkan al-Quds sebagai Ibukota rezim Zionis.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Des 07, 2017 00:40 Asia/Jakarta
  • Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
    Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Presiden Iran Hassan Rouhani dan Recep Tayyip Erdogan, sejawatnya dari Turki dalam sebuah kontak telepon pada Rabu (6/12/2017), membahas transformasi terbaru di Palestina, khususnya konspirasi Amerika Serikat untuk mengumumkan al-Quds sebagai Ibukota rezim Zionis.

Pada kesempatan itu, Erdogan mengusulkan pelaksanaan sebuah KTT darurat Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di kota Istanbul dan mengundang Presiden Iran untuk menghadiri pertemuan itu.

"Iran percaya bahwa dalam situasi saat ini, semua negara Muslim harus mengambil tindakan serius terhadap keputusan AS yang salah, ilegal, provokatif dan sangat berbahaya ini," tegas Rouhani.

Dia menekankan bahwa salah satu prioritas dunia Muslim adalah isu Palestina, Quds dan melawan tindakan keliru rezim Zionis Israel.

Iran, tandas Rouhani, mengajak semua negara Muslim dan negara-negara pecinta damai di dunia untuk melawan tindakan ilegal tersebut.

"Rezim Zionis telah mengabaikan semua resolusi PBB dan melawan masyarakat internasional. Tentu saja, Israel secara langsung harus bertanggung jawab atas semua ketidakstabilan dan ketidakamanan di wilayah ini," tambahnya.

Rouhani menegaskan, al-Quds adalah bagian integral dari Palestina, dan mencatat bahwa saat ini tanggung jawab negara-negara Muslim dan umat Islam sangat berat mengenai masalah Quds.

Sementara itu, Erdogan mengatakan al-Quds adalah bagian tak terpisahkan dari Palestina, dan bersikeras bahwa kelancangan Presiden Donald Trump untuk mengumumkan al-Quds sebagai Ibukota rezim Zionis adalah karena perpecahan internal di dunia Islam.

"Keputusan Trump merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan semua keputusan PBB mengenai al-Quds. Semua negara Muslim perlu bersatu untuk menghadapi konspirasi baru ini," pungkasnya. (RM)