Koalisi AS Anti Teroris, dari Slogan hingga Praktek
Ketua parlemen Repubik Islam Iran, Ali Larijani di pertemuan dengan tema "Kendala Perang Kontra Terorisme dan Peran Kerja Sama Regional" yang digelar hari Ahad (24/12) di Islamabad, Pakistan mempertanyakan koalisi Amerika anti terorisme.
Larijani seraya mengingatkan kemunculan koalisi AS di tahun 2001 dan klaim mereka memerangi terorisme, menggulirkan pertanyaan apakah selama tahun-tahun tersebut penyebaran terorisme mengalami penurunan atau sebaliknya malah semakin besar?
Larijani mengingatkan koalisi yang dibentuk Amerika ditujukan untuk memberantas akar terorisme di Afghanistan dan menghancurkan produk serta penyelundupan opium di negara tersebut. Tapi yang terjadi adalah bukan saja terorisme terhapus, bahkan produksi dan penyelundupan narkotika dari Afghanistan masih terus berlangsung.
Saat ini pun di kebijakan dan klaim anti terorisme Amerika Serikat banyak kontradiksi serius. Petinggi Amerika mengakui bahwa mereka yang membentuk Daesh, namun di sisi lain, mereka juga mengklaim memerangi terorisme. Tujuan Amerika sebenarnya bukan memerangi terorisme. Washington sebenarnya ingin melakukan petualangan baru di kawasan dan petualangan ini dimulai sejak kekalahan besar Daesh di Suriah dan Irak melalui pergerakan barunya terkait al-Quds.
Sementara itu, Israel berusaha mengubah krisis rumit dan tensi regional untuk menggapai ambisinya. Amerika ingin membangun sistem regional demi keuntungan Israel ketimbang memerangi terorisme. Washington bersikeras bahwa sistem seperti ini akan menjadi landasan keamanan di kawasan. Padahal Israel berusaha memanfaatkan sebaik mungkin kondisi kacau di kawasan dan mengubah isu al-Quds demi keuntungannya.
Amerika dengan mengakui secara resmi al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel dan relokasi kedubesnya dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis jelas-jelas melanggar piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan konvensi internasional terkait wilayah jajahan.
Presiden Amerika, Donald Trump di stetemen barunya menyebut kebijakan luar negeri Republik Islam Iran sebagai ancaman bagi kawasan. Bersamaan itu pula, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu mengklaim bahwa Iran akar dari konfrontasi dan perseteruan di Asia Barat. Statemen dan perilaku ini adalah bagian dari permainan teka teki (puzzle) yang saling melengkapi.
Hal ini akan terbukti jika kita mencermati sikap sejumlah petinggi negara-negara Arab di kawasan terkait pengabaian isu al-Quds serta klaim anti Iran. Seluruh langkah dan perilaku mulai klaim perang melawan terorisme dan pembentukan koalisi regional AS hingga pengumuman al-Quds sebagai ibukota Israel serta sikap sejumlah negara-negara reaksioner Arab yang mengekor kebijakan ini, adalah arus yang direkayasa yang menunjukkan Amerika sebagai pengobar krisis yang dipaksakan di kawasan.
Oleh sebab itu, krisis ini sebenarnya dapat diselesaikan dengan cepat.d ampak dari krisis ini kini mulai lepas kendali dan tidak terbatas pada teritorial negara tertentu. Seluruh negara kawasan berada di bawah pengaruh krisis ini.namun kini, bukan saja AS dan Israel yang tidak mampu terhindar dari kondisi rumit kawasan. (MF)