Lawatan Zarif ke Moskow
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengunjungi Rusia dengan agenda melanjutkan diplomasi dengan pejabat tinggi Moskow, mengenai berbagai masalah terutama JCPOA.
Pertemuan ini dilakukan menjelang pertemuan Zarif dengan menlu Perancis, Jerman, dan Inggris yang berlangsung di Brussels.
Para analis politik menilai rangkaian pertemuan ini membahas tranformasi terbaru yang berkaitan dengan JCPOA.
Rusia termasuk bagian dari negara yang menandatangani kesepakatan nuklir dengan Iran. Rusia sebagai bagian dari anggota negara yang tergabung dalam kelompok 5+1 berupaya menjadikan JCPOA hanya mengenai masalah nuklir saja.
Meskipun JCPOA bukan kesepakatan yang secara total baik, dan tanpa cacat. Tapi kesepakatan ini bukan juga yang dikatakan oleh Trump sebagai kesepakatan yang seluruhnya buruk. Iran menilainya sebagai kesepakatan relatif baik. Oleh karena itu, Iran dengan pertimbangan dan itikad baik untuk menjalin interaksi dengan masyarakat internasional menandatangani kesepakatan itu.
Kini, Iran masih menjaga JCPOA selama pihak lain juga berkomitmen terhadap kesepakatan internasional tersebut. Tapi tantangan AS dengan Iran bukan masalah JCPOA. Masalah utamanya, Washington tidak mengakui Iran sebagai pemain berpangaruh di kawasan yang berupaya mewujudkan stabilitas regional. Sebab, perimbangan kekuatan AS terganggu oleh peran tersebut. Oleh karena itu, AS menggandeng Israel dan Arab Saudi untuk mengeluarkan Iran dari pusat arena, dan salah satu caranya dengan mengacak-acak JCPOA. Tapi AS sendiri tahu benar mengambil jalan tersebut tidak mudah.
Presiden Rusia, Vladimir Putin dalam lawatan tahun lalu ke Tehran menyebut JCPOA sebagai kesepakatan dalam kerangka mewujudkan perdamaian dan stabilitas global. Presiden Putin dalam pertemuan dengan sejawatnya dari Iran, Hassan Rohani mengatakan, Perusakan sepihak JCPOA tidak bisa diterima, dan JCPOA tidak berhubungan dengan masalah pertahanan maupun rudal Iran.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini juga menyampaikan dukungannya terhadap JCPOA. Menurutnya, rencana aksi bersama komprehensif tidak bisa dinegosiasiasi, maupun diubah.
Blunder Trump mengenai JCPOA memicu reaksi dari berbagai pihak seperti Cina, dan Uni Eropa. Langkah AS tersebut menyebabkan skala konflik regional dan semakin memanas. Bisa dipastikan akan muncul kondisi baru sebagai dampai buruk dari keputusan itu.
Republik Islam Iran hingga kini menunjukkan komitmennya terhadap JCPOA, tapi strategis keseimbangan ini tetap dipelihara selama pihak lain penandatangan juga menepati komitmennya.(PH)