Serangan ke Suriah, Ekspresi Keputusasaan Barat
-
Ali Akbar Velayati
Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar untuk urusan internasional mengatakan bahwa pembebasan Ghouta Timur, sekitar Damaskus adalah kemenangan bagi seluruh front perlawanan. Menurut Ali Akbar Velayati, langkah poros perlawanan berikutnya adalah membebaskan Idlib di barat laut Suriah.
Ali Akbar Velayati dalam kunjungan terbarunya ke wilayah strategis Ghouta Timur, Suriah dalam kerangka "diplomasi perlawanan" menuturkan, urgensitas pembebasan Ghouta Timur terletak pada pernyataan Presiden Suriah, Bashar Al Assad yang mengatakan, akar utama terorisme ada di Ghouta Timur.
Seiring dengan pecahnya krisis di Suriah, wilayah Ghouta Timur dekat Damaskus, diduduki teroris. Kehadiran teroris dalam jarak sekitar lima kilometer dari ibukota Suriah, dianggap sangat penting oleh para pendukung teroris, namun hari ini poros perlawanan berhasil mengusir teroris dari wilayah itu setelah tujuh tahun.
Kemenangan strategis ini membawa pesan tegas bagi Amerika dan pendukung teroris lainnya, bahwa poros perlawanan di muka bumi akan meraih kemenangan atas setiap serangan dan agresi militer musuh. Akar kedaguhan Barat terutama Amerika, hingga mendorong mereka menuduh pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia di Douma, Ghouta Timur dan melancarkan serangan rudal, tidak lain adalah kemenangan tersebut.
Bashar Assad, Kamis (12/4/2018) saat bertemu Ali Akbar Velayati di Damaskus mengatakan, teriakan negara-negara Barat menggema setelah kemenangan demi kemenangan yang berhasil diraih poros perlawanan. Tidak bisa dipungkiri, kegaduhan Barat terjadi akibat kemenangan-kemenangan pasukan pemerintah Suriah bersama sekutunya atas teroris. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa para pendukung teroris di Suriah sudah kalah.
Pada situasi seperti ini, serangan Barat ke Damaskus, Sabtu (14/4) dini hari dipandang sebagai langkah reaksioner, dan dari sisi militer bukan langkah yang efektif. Suriah harus diakui memainkan peran kunci dalam poros perlawanan yang dimulai dari Tehran, Baghdad, Beirut dan Palestina.
Menurut Velayati, strategi poros perlawanan adalah menghadapi setiap serangan para agresor afiliasi rezim Zionis Israel dan Amerika. Kemenangan Suriah di Ghouta Timur merupakan kelanjutan dari kemenangan di Aleppo, kemudian Deir Ezzor, timur Suriah yang berhasil mematikan pergerakan teroris Daesh di negara ini.
Rangkaian kemenangan tersebut adalah pendahuluan bagi langkah selanjutnya yaitu pembebasan Idlib dari tangan kelompok teroris. Poros perlawanan sudah berubah menjadi pemain efektif dalam konstelasi politik dan militer kawasan, dan tidak terbatas hanya Suriah. Poros perlawanan dalam negeri ini berada di pusat konstelasi politik dan militer Asia Barat dan mereka akan selalu ada, ketika pasukan Amerika ada.
Kemenangan poros perlawanan mulai dari Palestina hingga Suriah, Irak dan Yaman, menunjukkan bahwa Amerika tidak punya tempat di Timur Tengah. Sebagaimana dikatakan Velayati, seiring berlalunya waktu, peluang kemenangan poros perlawanan semakin besar dan Amerika dipastikan tidak punya jalan lain selain hengkang dari kawasan.
Selain keberhasilan di medan tempur, "diplomasi perlawanan" juga dipertontonkan para petinggi poros perlawanan di arena politik. Kunjungan Velayati di Suriah dan lawatan utusan Presiden Rusia untuk Timur Tengah, di Tehran, adalah bukti diplomasi ini. Langkah ini dinilai berhasil membuat musuh kebingungan sehingga memaksa Amerika, Inggris dan Perancis melancarkan serangan militer terbatas ke Suriah, Sabtu (14/4) dini hari.
Serangan militer tergesa-gesa dan tak terukur Barat ke Suriah itu lebih merupakan aksi reaksioner Barat sebagai bentuk ekspresi atas kemenangan pasukan pemerintah Suriah dan poros perlawanan di Ghouta Timur. (HS)