Sanksi Minyak Iran dan Langkah Mundur Gedung Putih
https://parstoday.ir/id/news/iran-i59758-sanksi_minyak_iran_dan_langkah_mundur_gedung_putih
Menteri luar Negeri AS, Mike Pompeo menyatakan pihaknya sedang mengkaji permohonan sejumlah negara yang meminta dikecualikan dari sanksi minyak Iran.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jul 11, 2018 14:00 Asia/Jakarta
  • Industri minyak Iran di lepas pantai
    Industri minyak Iran di lepas pantai

Menteri luar Negeri AS, Mike Pompeo menyatakan pihaknya sedang mengkaji permohonan sejumlah negara yang meminta dikecualikan dari sanksi minyak Iran.

Pompeo tidak menyebut negara mana yang minta dikecualikan dari sanksi minyak Iran tersebut. Sebelumnya, seorang pejabat tinggi kementerian luar negeri AS mengatakan, Presiden AS, Donald Trump kemungkinan akan memberikan pengecualian bagi sebagian negara pengimpor minyak dari Iran.

Setelah Trump mengumumkan keluarnya AS dari JCPOA, Washington menetapkan 4 November sebagai tenggat waktu akhir pembelian minyak dari Iran. 

Keputusan baru kementerian luar negeri AS ini tidak lama setelah Presiden Iran, Hassan Rouhani  dalam pertemuan dengan pelaku usaha  dan  warga Iran yang berdomisili di Swiss pekan lalu, mengatakan, "Pejabat AS mengklaim akan menutup akses total penjualan minyak Iran. Tapi mereka tidak tahu apa yang sedang disampaikannya. Sebab hal ini bermakna bahwa minyak Iran tidak bisa diekspor. Silahkan Jika kalian bisa melakukannya. Tapi lihatlah akibatnya nanti !" 

Sebelumnya, para pejabat AS senantiasa mengabaikan permohonan sejumlah negara yang minta dikecualikan dari sanksi minyak Iran. Tapi tampaknya, statemen tegas presiden Iran dan pengaruhnya terhadap lonjakan harga minyak selama beberapa waktu lalu telah memaksa Gedung Putih untuk memperbarui ancaman mengosongkan ekspor minyak Iran.

Di satu sisi, Arab Saudi dan sejumlah negara anggota OPEC dan non-OPEC berupaya mengisi kekosongan stok minyak dunia dari pengaruh sanksi minyak Iran dengan meningkatkan produksinya. Meskipun dalam jangka pendek kebijakan tersebut mungkin saja bisa dilakukan, tapi dalam jangka panjang tidak bisa menghapus secara total kehadiran Iran di pasar minyak dunia.

OPEC

 

Di sisi lain, banyak negara anggota OPEC dan non-OPEC tidak bersedia untuk meningkatkan produksinya dan menentang dikte AS tersebut.

Bloomberg menurunkan laporan mengenai ketidakefektifan sanksi minyak AS terhadap Iran. Media yang berbasis di New York ini menulis, langkah OPEC meningkatkan produksi minyak dalam jangka panjang tidak akan bisa menjaga harga minyak, satu-satunya solusi sebenarnya untuk menurunkan bahan bakar minyak, terutama bensin di AS adalah mengubah kebijakan negara ini terhadap Iran.

Selain itu, kemungkinan pemangkasan produksi minyak sebagai salah satu faktor instabilitas yang dipicu oleh aktivitas kelompok teroris di Libya dan transformasi politik di Venezuela, mempengaruhi lonjakan harga minyak dan penurunan penawaran minyak di pasar dunia.

Merrill Lynch memprediksi bahwa langkah Trump untuk menjegal ekspor total minyak Iran memicu percepatan laju kenaikan harga minyak  di atas 90 dolar perbarel.

Dalam kondisi demikian, Gedung Putih tidak memiliki opsi selain mengubah kebijakannya mengenai ancaman mengosongkan ekspor minyak Iran, dan menyiapkan langkah baru untuk mempertimbangkan permohonan sejumlah negara yang minta dikecualikan dari sanksi minyak Iran. Jika demikian, kebijakan unilateralisme AS dalam masalah minyak Iran menunjukkan ketidakefektifannya. (PH)