Menelisik Pengulangan Klaim Tanpa Dasar Pejabat Saudi terhadap Iran
-
Adel al-Jubeir, Menteri Luar Negeri Arab Saudi
Adel al-Jubeir, Menteri Luar Negeri Arab Saudi tetap melanjutkan pendekatan-pendekatan berbasis ketegangan Riyadh dan memperkenalkan Iran sebagai ancaman terhadap keamanan di kawasan.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi hari Sabtu (14/7) di sela-sela KTT NATO di Brussels, kembali memuji kebijakan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang menarik negaranya dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) seraya mengklaim bahwa Iran lebih terisolasi bila tidak mengubah kebijakannya di kawasan.
Sambil mengulangi klaim tanpa dasarnya, al-Jubeir mengatakan, Iran harus tahu bahwa dunia tidak akan mengizinkan negara ini mencapai senjata nuklir.
Sejak lama, Arab Saudi mengikuti kebijakan Amerika Serikat dengan menebar tuduhan-tuduhan palsu berusaha untuk meluncurkan proyek Iranphobia. Negara ini bahkan berusaha menaikkan produksi minyak mentahnya untuk merusak ekonomi Iran.
Sekaitan dengan mengapa perilaku arab Saudi dan kebijakan tebar ketegangan Riyadh, ada beberapa sebab;
Mohammad Saleh Sedghian, pakar masalah Asia Barat menilai alasan utama pengulangan sikap anti-Iran yang ditunjukkan para pejabat Arab Saudi pada hakikatnya upaya untuk menutupi pelbagai kegagalannya di kawasan.
Menurutnya, ucapan Menteri Luar Negeri Arab Saudi adalah langkah "melarikan diri ke depan". Negara seperti Arab Saudi yang kebijakan dan strateginya di kawasan, mulai dari Yaman hingga Suriah dan Irak menemui kegagalan, berusaha menunjukkan sikap seperti ini dan memberikan alamat yang salah demi menutupi kerugian yang dideritanya selama satu atau dua tahun lalu. Tapi poin pentingnya adalah perilaku dan ucapan ini justru hanya mendatangkan kerugian kedua bagi Arab Saudi.
Sikap yang diambil Arab Saudi pada dasarnya hanya pengulangan sebagian sikap dan pandangan yang telah didiktekan kepada rezim Al Saud. Tapi perlu diketahui bahwa selama sikap ini semakin diulangi, maka substansi Arab Saudi semakin terungkap.
Noam Chomsky, Akademisi dan intelektual Amerika Serikat dalam wawancaranya dengan televisi Democracy Now menyebut Arab Saudi sebagai pusat radikalisme di dunia dan mengatakan, pada kenyataannya, api kebijakan radikalisme dan pendudukan Al Saud serta Takfiri kini telah mengambil korban dari mereka sendiri. Selama Riyadh mengambil langkah-langkah untuk melayani tujuan-tujuan AS, Inggris dan Israel di kawasan, perdamaian tidak akan kembali ke kawasan.
Gambaran bahwa Arab Saudi menganggap dirinya lebih unggul di kawasan sudah salah sejak awalnya. Karena saat ini para penguasa Saudi lebih mengetahui kelemahan negaranya dan kesalahan strategi yang telah dilakukan di kawasan dibanding orang lain.
Dalam konteks dimana Republik Islam Iran memainkan peran yang kuat, konstruktif dan efektif dalam konstelasi regional yang kompleks serta mengambil langkah-langkah interaktif dan rasional, pernyataan-pernyataan para penguasa Saudi hanya upaya sia-sia untuk menutupi kegagalan dan desakan untuk melanjutkan kebijakan gagal.
Para pejabat Riyadh dengan sikap yang tidak rasional, tengah berusaha melakukan proyeksi terhadap Iran demi memperoleh supremasi di kawasan lewat pengulangan klaim tak berdasar tentang Iran, sementara mereka sendiri berada di jalan menuju isolasi diri lebih besar.