Kehebohan Bolton; Iran akan Tetap Kokoh dan Tegar
-
John Bolton, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih
John Bolton, Penasihat Keamanan Nasional Presiden Amerika Serikat di akhir kunjungan tiga hari ke Israel mengulangi sikap anti-Irannya dan mengatakan, tekanan dan sanksi terhadap Republik Islam Iran akan semakin intens, sehingga perilaku Tehran berubah.
Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih hari Rabu (22/8) kepada para wartawan di gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Palestina pendudukan menjelaskan bahwa Amerika akan meningkatkan tekan lebih besar terhadap Iran di luar penerapan sanksi ekonomi. Bolton mengklaim bahwa dalam kerjasama dengan para sekutu Amerika, ekspor minyak Iran akan ditekan hingga nol.
Bolton, pribadi yang anti-Iran, sejak awal menentang program nuklir, rudal dan pengaruh Iran di kawasan. Itulah mengapa ia dibawa ke dalam tim Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Tim politik dan keamanan Trump mayoritas anti terhadap Iran dan jelas sikap mereka benar-benar benci terhadap Iran. Tujuan asli pemerintah Trump adalah menekan lebih besar terhadap Iran guna mendorong Tehran terlibat dalam perundingan dengan Washington. Masalah ini telah disampaikan berulang kali oleh Trump, tapi pendekatan seperti ini tidak pernah berhasil dalam sejarah 40 tahun Revolusi Islam.
Pelbagai pemerintah yang berkuasa di Amerika selama 40 tahun lalu telah berusaha dengan berbagai cara untuk menekan dan memberi sanksi ekonomi, bahkan perang dan konspirasi agar Iran berada di jalur kebergantungan kepada Amerika. Tapi setiap kali kebijakan ini diluncurkan, persatuan serta kewaspadaan rakyat dan pejabat Iran berhasil menggagalkannya. Kini, pemerintah Trump kembali mengikuti jalur yang sama. Bedanya mereka sudah tidak malu dan kelancangan para pejabat Amerika telah melampaui batas dalam menjelaskan sikap mereka. Mereka melemparkan segala bentuk tuduhan bohong kepada Iran.
Sekaitan dengan hal ini, Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyinggung sikap para pejabat AS semakin kurang ajar dan sangat lancang dalam beberapa bulan terakhir. Menurut Rahbar, para pejabat AS sebelum ini juga tidak menjaga etika diplomatik dalam membuat pernyataan, namun rezim AS saat ini berbicara dengan dunia secara tidak sopan, kurang ajar, dan tidak beretika; seakan rasa malu benar-benar telah hilang dari mereka.
Pemerintah Trump bersamaan dengan tekanan ekonomi, juga melakukan tekanan politik terhadap Iran melalui kerjasama dengan rezim Zionis dan Al Saud guna mengubah perilaku regional Iran. Dalam hal ini, Amerika melontarkan tuduhan tanpa dasar terhadap Iran, sehingga bersamaan dengan itu berusaha mengarahkan opini publik ke dalam kerangka anti-Iran. Mendukung terorisme, kehadiran merusak di Suriah dan Yaman merupakan fokus sikap anti-Iran dari Amerika dan sekutunya. Masalah yang jelas merupakan pembohongan publik dan pemutarbalikan fakta.
Tuduhan intervensi Iran di Yaman disampaikan ketika koalisi Saudi dengan lampu hijau dan senjata Amerika setiap hari membantai rakyat Yaman, khususnya anak-anak. Sebagai contoh, kejahatan terbaru serangan koalisi Saudi terhadap bus yang membawa anak-anak pelajar Yaman dan pembantaian puluhan anak tidak berdosa dilakukan dengan bom buatan Amerika. Kejahatan ini menunjukkan Amerika benar-benar lancang mendukung Arab Saudi dalam perang Yaman dan pada saat yang sama berbohong dengan mengambil sikap anti-Iran.
Sejarah senantiasa mencatat bahwa di mana saja Amerika berada, maka kehadirannya akan merusak dan menciptakan instabilitas serta pada akhirnya hasil dari kehadiran ini adalah terciptanya kelompok-kelompok teroris. Setelah itu Amerika justru mendukung mereka demi memajukan tujuannya.
Sekaitan dengan hal ini, Stephen Walt, dosen Hubungan Internasional Universitas Harvard baru-baru ini menggambarkan kebijakan merusak Amerika dengan baik. Ia mengatakan, pengaruh Amerika di kawasan boleh dikata secara keseluruhan memiliki dampak negatif. Kemunculan Daesh dan ribuan manusia terbunuh merupakah hasil dari perang tahun 2003 Amerika di Irak. Stephen Walt menyebut krisis Yaman saat ini sebagai "krisis kemanusiaan terburuk di dunia", dan dukungan Amerika atas koalisi Saudi dalam perang ini sebagai faktor terbentuknya krisis tersebut.