Rahbar dan Bashar Assad; Penekanan pada Pentingnya Mewaspadai Konspirasi Mendatang
https://parstoday.ir/id/news/iran-i67873-rahbar_dan_bashar_assad_penekanan_pada_pentingnya_mewaspadai_konspirasi_mendatang
"Kami menganggap dukungan terhadap Suriah sama halnya dengan dukungan terhadap muqawama serta kami bangga dengannya."
(last modified 2026-02-03T09:42:30+00:00 )
Feb 26, 2019 13:41 Asia/Jakarta
  • Bashar Assad dan Ayatullah Khamenei
    Bashar Assad dan Ayatullah Khamenei

"Kami menganggap dukungan terhadap Suriah sama halnya dengan dukungan terhadap muqawama serta kami bangga dengannya."

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran hari Senin pagi (25/02) saat menerima Bashar Assadr, Presiden Suriah menekan poin ini bahwa rahasia kemenangan Suriah dan kekalahan Amerika Serikat serta tentara bayaran regionalnya mengarah pada kegigihan presiden dan rakyat Suriah serta desakan mereka untuk tetap melakukan perlawanan. Rahbar juga menekankan pentingnya mewaspadai konspirasi mendatang.

Bashar Assad dan Ayatullah Khamenei

Tidak diragukan lagi, sebagaimana dicatat oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Suriah dengan resistensi dan kebersamaan rakyat mampu menghadapi koalisi besar Amerika Serikat, Eropa dan sekutu-sekutu mereka di kawasan, dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Namun sepanjang garis kemenangan ini dan dalam situasi kawasan saat ini, ada masalah penting untuk tetap waspada terhadap konspirasi jahat mereka untuk menembus dengan cara lain.

Petunjuk dari Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam masalah zona penyangga yang ingin dibuat oleh Amerika Serikat di Suriah mengungkapkan aspek-aspek penting dari proses saat ini. Beliau menyebut langkah-langkah ini sebagai konspirasi berbahaya yang harus dengan tegas ditentang serta dilawan.

Ayatullah Khamenei menyebut program Amerika Serikat untuk hadir lebih aktif di perbatasan Irak-Suriah sebagai contoh lain dari rencana mereka. Rahbar menekankan, "Iran dan Suriah memiliki hubungan strategis yang dalam serta identitas serta kekuatan arus muqawama bergantung pada hubungan berkesinambungan dan strategis ini. Oleh karena itu, musuh tidak akan mampu merealisasikan rencananya.

Suriah, dengan resistensi yang bersandar pada dukungan rakyat telah mampu menantang Amerika Serikat dan sekutu regional lainnya dengan serius. Prosesnya, walaupun sulit tapi kehadiran Iran yang tepat waktu dalam perang melawan terorisme di Suriah, berhasil memadamkan fitnah Daesh (ISIS). Namun kawasan masih menghadapi ancaman dan intervensi yang ingin merusak keamanan dan stabilitas. Amerika Serikat dengan baik mengatahui bahwa untuk mengalahkan Muqawama Islam harus mempertahankan jejaknya di Suriah dengan alasan apapun.

Nicholas Hiras, analis top Universitas Pertahanan Nasional Amerika Serikat dalam sebuah analisis berjudul "Trump harus berinvestasi untuk pemberontak di Suriah," menekankan bahwa meningkatkan eksploitasi dari front selatan Suriah akan memberikan kesempatan kepada pemerintah Trump untuk mempraktikkan dominasi atas beberapa daerah penting Suriah.

Beberapa bulan lalu, profesor dan diplomat Zionis di Pusat Studi Strategis Dayan, Nier Bums dalam sebuah laporan menulis bahwa Israel harus merumuskan sebuah konstitusi untuk sebuah rezim yang ingin ditempatkan di kawasan selatan Suriah.

Dalam konteks saat ini, tujuan rencana Amerika Zionis adalah untuk disintegrasi dan membagi kembali Suriah menjadi rezim-rezim politik berdasarkan pendekatan agama, mazhab dan etnis. Namun, Amerika Serikat tahu bahwa rencana ini tidak dapat dikejar sesuai dengan laju disintegrasi awal negara-negara Arab berdasarkan perjanjian Sykes-Picot. Karena kondisi historis dan nasionalisme rakyat Suriah telah menciptakan faktor-faktor yang mampu menghalangi dan memberantas rencana tersebut. Faktor-faktor paling penting itu diantaranya ikatan agama, nasional, keluarga, ekonomi dan sosial antara rakyat Suriah.

Bashar Assad, Presiden Suriah

Presiden Suriah dalam pertemuan dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, menyinggung pada upaya memperuncing friksi yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutu regionalnya di antara suku dan agama warga Suriah. Menurut Bashar Assad, upaya ini justru membuahkan hasil kebalikan dari yang diinginkan, dan hari ini di Suriah, suku Kurdi dan suku-suku nomaden memiliki hubungan baik dengan negara, dan bahkan beberapa kelompok yang telah memiliki sejarah konflik dengan pemerintah, hari ini bersatu dengan pemerintah bertentangan dengan pandangan Amerika Serikat dan Arab Saudi.